Salju turun lumayan deras ketika saya membuka tirai jendela kamar pagi ini. Rasanya seperti tinggal di dalam snow globe, mainan atau hiasan berbentuk setengah bola dengan bangunan kecil dan pepohonan seperti maket di dalamnya dan berisi cairan dengan serbuk-serbuk putih dan biasa oleh anak-anak dikocok-kocok lalu dipandangi ketika serbuk putih itu turun, persis seperti salju yang turun dari langit. Saya punya sebuah versi kecilnya untuk hiasan pohon natal, tapi sekarang saya hidup di dalamnya.
Saya memandangi butiran salju yang berterbangan kesana-kemari ditiup angin. Tidak pernah bosan menyaksikan itu semua. Atap bangunan, dahan dan ranting pohon, rumput bahkan pagar semua tidak terlewat, semua tertutup lapisan salju.
Kemudian saya mencium bau rendang. Saya tersadar bahwa proses memasak rendang yang sudah saya lakukan sejak kemarin belum selesai. Dagingnya sudah sangat empuk, sekarang tinggal berusaha mengeringkan kuahnya yang butuh sangat lama. Maklum saya memasak lebih dari 15 pounds daging, sekitar 7.5 kilogram. Menggunakan seharusnya 18 kaleng santan, tapi saya kurangi karena saya tahu semakin banyak santan yang saya gunakan akan semakin lama proses memasaknya. Saya segera turun dan menyalahkan kompor. Lapisan minyak yang mengambang sudah mulai terbentuk. Ini dari santan yang terus menerus dimasak sehingga menghasilkan minyak yang kemudian "terpisah" dari bumbu-bumbu lainnya lalu naik ke permukaan. Ini adalah proses yang menyenangkan karena aroma "manis" dari kelapa dan juga rempah rempah akan memenuhi seluruh apartemen! Saya memang sengaja masak banyak karena akan dijadikan oleh-oleh ketika mengunjungi beberapa sahabat yang sudah lebih dari satu dekade tidak berjumpa. Mereka tinggal di Seattle! Salah seorang sahabat saya ini berasal dari Filipina dan menikah dengan orang Amerika. Mereka memiliki kapal layar, mudah2an saja saya berkesempatan berpetualang di perairan sekitar Seattle yang sangat indah itu. Saya akan mengunjungi mereka akhir pekan depan ketika liburan musim Semi.
Proses memasak harus ditunda lagi karena saya harus mengantar Nina ke perpustakaan untuk mengerjakan proyek akhir, sementara saya juga harus ke Gym karena hari Minggu adalah waktu saya untuk berolahraga lebih lama dari hari biasa. Kompor saya matikan dan kami menuju tempat parkir. Jalanan terlihat bersih tapi kendaraan terkubur salju. Seperti biasa butuh waktu untuk membersihkan sehingga bisa laik dikemudikan di jalan.
Hari minggu tidak terlalu banyak orang keluar ke jalan. Terutama ketika cuaca seperti sekarang yang dingin dan bersalju, sehingga jalanan sangat lengang. Saya masih punya sekitar 1 jam sesudah mengantar Nina sebelum kelas olahraga mulai, sehingga saya dapat mampir ke kedai kopi langganan. Saya memilih drive thru karena akan lebih cepat dan tidak perlu mencari parkir dan keluar dari kendaraan. Cukup membuka jendela lalu ada speaker yang menanyakan pesanan. Sesudah pesan, saya mengemudi ke jendela di depan, membuka HP dan barista memindai barcode yang ada di aplikasi di HP saya, dan selesai! Saya bisa langsung melanjutkan perjalanan sambil menikmati kopi kegemaran.
Walau bersalju, pagi ini ternyata sangat indah. Rasa dingin di luar tidak terlalu terasa karena mobil tua saya ini punya pemanas yang memadai, juga tempat duduknya memiliki pemanas, bahkan sandaranpun hangat sekali. Sambil mendengarkan musik saya mengemudi di jalan yang lengang menikmati salju yang turun. Ini pagi yang menyenangkan, apalagi kopi panas menemani saya. Ini pengalaman yang tidak akan pernah dapat saya nikmati jika dulu tidak berani memutuskan untuk pindah ke sini.
Saya sadar bahwa segala sesuatu itu sifatnya hanya sementara. Yang saya nikmati saat ini juga akan berakhir cepat atau lambat, oleh sebab itu saya selalu berusaha menikmati setiap hari dengan sebaik-baiknya. Jika kita memikirkan dengan sungguh-sungguh, suatu hal yang benar-benar permanen dalam hidup adalah perubahan. Segala sesuatu berubah, bahkan ketika saya mengatakan ini, jutaan bahkan milyaran hal berubah. Bumi terus bergerak, tumbuhan terus tumbuh, manusia setiap detiknya juga berubah, awan dilangit berubah. Segala sesuatu berevolusi, demikian juga semesta disekeliling kita.
Dalam menjalani hidup, saya selalu diingatkan betapa cepatnya waktu berlalu dan betapa "sementara"nya setiap momen kehidupan. Kehidupan itu merupakan kumpulan dari fragmen-fragmen "kesementaraan". Dan kita semua adalah saksi dari semua "kesementaraan" ini. Saksi dari Semua keindahan, saksi dari semua kesedihan, saksi dari segala sesuatu yang selalu berubah setiap saat. Semuanya itu sementara tapi jika kita selalu aware dan mindful, maka yang sementara itu adalah selamanya!***
Foto: Nita from Pexel
nice post Joe. ππΌπ€