Kehidupan itu sangat unik dan luar biasa pikir saya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pandangan saya lurus menerobos jendela kereta api yang bergerak dengan cepat sementara sinar matahari mulai muncul menembus daun-daun pepohonan yang seolah-olah saling berpacu walau sebetulnya pepohonan itu diam, sedangkan sesungguhnya kereta api yang saya tumpangi yang bergerak.
"Lihat tuh." Kata Nina sambil menunjuk ke luar.
Kami sedang melewati sebuah jembatan yang sangat panjang dan tinggi di atas permukaan sawah yang sangat indah dan hijau. Tampaknya para petani sudah mulai menanam dan batang-batang padi itu mulai tumbuh dengan subur membentuk semacam teras permadani hijau yang luas yang menutupi anak-anak tangga. Di ujungnya ada bukit-bukit yang hijau sementara bagian puncaknya tertutup kabut yang tebal.
Saya tidak perlu pergi ke puncak-puncak pegunungan Aspen untuk dapat terpukau dengan pemandangan semacam ini. Cukup dengan beberapa puluh ribu Rupiah, saya bisa menikmati keindahan semesta tanpa harus terbang ke bagian dunia yang lain. Saya bersyukur bahwa jembatan ini lumayan panjang sehingga pemandangan alam yang luar biasa ini bisa saya nikmati selama sekian menit.
Pemandangan berubah menjadi bagian belakang rumah-rumah penduduk yang bagi saya mulai tampak kurang menarik. Saya memejamkan mata sejenak sambil mendengarkan musik yang saya putar melalui earbuds. Semalam hampir tidak bisa tidur dengan nyenyak. Saat ini antara lelah, mengantuk bercampur dengan perasaan khawatir tentang apa yang nanti akan terjadi.
"Semua akan berakhir dalam beberapa jam lagi." Kata saya dalam hati
Lalu berbagai skenario yang sama mulai berputar lagi dalam kepala. Berbagai bentuk antisipasi pertanyaan yang mungkin akan muncul dalam wawancara nanti muncul silih berganti. Ini adalah kali pertama saya menghadapi wawancara semacam ini dan saya berharap semuanya akan berjalan dengan lancar dan di akhir hari nanti saya bisa merasa lega lalu mulai mempersiapkan berbagai persiapan yang dapat segera dijalani. "Lihat saja nanti akhirnya bagaimana." Kata saya dalam hati sambil menghela napas panjang berusaha melepaskan semua pemikiran negatif dan berusaha menikmati lajunya kereta ini.
Ini adalah mungkin kali yang ke 8 saya akan pergi ke gedung yang sekitar 3 jam lagi akan saya datangi. 3 kali dengan tujuan yang sama dan tidak ada kendala sama sekali kecuali pada tahun 2000 dimana saya harus menginap di pinggir jalan dalam antrian yang panjang. Ini saat yang paling kacau karena ternyata banyak orang yang curang dengan "menanam" jockey yang mereka bayar untuk diam di antrian. Saya duduk di tanah sambil mengantuk, lelah dan tidak tidur semalam suntuk menunggu, ketika pagi hari tiba, para "oknum" bayaran itu digantikan oleh serombongan orang-orang lain sehingga saya terdorong ke belakang. Untungnya saya masih mendapat ticket untuk dapat masuk. Sebagian oknum yang "majikannya" belum datang dan tidak dapat menunjukkan surat-surat terpaksa diusir dan mereka telah membuang-buang waktu begadang semalaman dengan percuma. Itu 25 tahun yang lalu. Sekarang semua serba teratur dan penjadwalan sangat rapih dan melalui daring. Beberapa kali yang lain untuk urusan yang berbeda dan kali ini untuk pertama kalinya mengurus sesuatu yang akan saya lakukan untuk pertama kali dalam hidup.
Saya terus memejamkan mata dan sesekali melihat ke luar ketika kereta memberikan pengumuman tempat perhentian berikutnya yang akan disinggahi. Menjelang memasuki kota tujuan saya melihat sebuah commuter train yang penuh sesak. Di pintu masuk tampak orang-orang berdesak-desakan dan saya menyaksikan banyak sekali orang yang tubuhnya, lengan bahkan bagian wajah yang menempel di jendela pintu karena begitu penuhnya. Persis seperti boneka kucing Garfield yang menggunakan suction cup menghiasi jendela kendaran.
Saya pernah berdesak-desakan dalam bus kota puluhan tahun yang lalu ketika masih di bangku kuliah, tapi belum pernah mengalami berdesak-desakan dalam kereta seperti yang sedang saya saksikan ini. Bayangan saya adalah perjuangan hidup untuk mencari nafkah atau sekolah di kota besar yang begitu berat. Perjuangan manusia tidak semua sama, saya mempunyai kendala-kendala yang berbeda dengan orang-orang lain. Saya tidak pernah mengalami satu hal, tapi mengalami hal lain. Demikian juga mereka mungkin tidak pernah harus menarik perahu penuh dengan manusia menggunakan tambang besi seperti yang saya lakukan agar dapat menyeberang tanpa membayar karena membantu pemilik perahu menyeberangkan orang-orang ini. Itu akal saya berhemat agar uang yang biasa digunakan untuk menyeberang dapat saya belikan pisang goreng hahaha.
Tiba di stasiun Nina dan saya memilih untuk duduk-duduk dahulu karena masih memiliki lebih dari 1 jam hingga jadwal yang ditentukan. Kami mencari tempat penitipan barang karena gedung yang akan kami datangi tidak mengijinkan membawa tas besar. Lalu kami mencari taxi dan pergi. Urusan semacam ini selalu membuat saya merasa terintimidasi. Saya tidak pernah menyukai berhubungan dengan kantor-kantor administrasi. Mencatatkan diri sebagai bagian dari warga negara saja sudah membuat saya mual, apalagi yang lain. Untung sekarang pelayanan masyarakat sudah jauh lebih baik daripada dulu.
"Congratulation! Your applications are approved!" Kata petugas sekitar 2 jam kemudian.
Saya mengucapkan terima kasih dan berbalik badan, berjalan gontai menuju pintu keluar. Usai sudah, sekarang bagian yang jauh lebih menyenangkan menunggu!
Foto credit: x.com