AES 472 Being Punctual
joefelus
Wednesday September 7 2022, 6:29 AM
AES 472 Being Punctual

"How do you pronounce your name?" Tanya salah seorang barista tadi pagi.

"It's Yohan!" Kata saya. "Actually it is the same like John or Juan," Kata saya menjelaskan.

Nama memang jadi seru kalau tinggal di rantau. Saya sudah pernah cerita soal bagaimana teman-teman Kano kesulitan menyebutkan nama kerennya, jadi semua orang lebih menggunakan Kano daripada nama resminya. "You tell me!" Kata ibunya ketika Kano cerita bagaimana namanya selalu membuat orang-orang kesulitan. Nama keluarga Nina yang sangat khas, Poerbonegoro, memang tidak pernah bisa diucapkan oleh kebanyakan orang bule! Sejauh ini baru 2 orang bule yang mampu mengucapkan dengan baik, hahaha.

Tadi pagi memang saya kabur dari rumah pagi sekali agar dapat membeli kopi. Saya "mencuri" mobil, ke warung kopi lalu saya taruh kopi di kantor lalu pulang mengembalikan mobil lalu jalan kaki ke kantor. Itupun tiba di kantor masih terlalu awal. Saya memang tidak suka terlambat. Dan itu saya tekankan pada Kano yang kemarin saya antar ke tempat kerja mepet sekali, tiba di sana 1 menit menjelang jadwal kerja dia. Tadi pagi sambil berjalan kali menuju kantor saya ingat percakapan kemarin dengan Kano dalam perjalanan menuju pekerjaan dia.

"I can use 1 hand to count how many times I have been late in my life. It means less than 5 times!" Kata saya.

"I don't want to be late either," Kata Kano.

"Yea, but this is too close. What if there was an accident on the way to work and you got stuck?" Kata saya.

"Then I have an excuse to be late." Kata Kano enteng.

Ini anak bener-bener deh! Pikir saya. Oomnya Kano, adiknya Nina juga seingat saya begitu! Saya ingat dahulu ketika mengantar dia ke sekolah. Waktu itu dia masih SMA, di Surabaya. Sekolah mulai pukul 7 pagi, dan berangkat dari rumah pukul 7 pagi! Dari daerah selatan ke Santa Maria dia jalan Raya Darmo itu butuh waktu paling tidak 30 menit. Ya jelas dia akan terlambat. Lalu dia cerita ketika pulang sekolah obrolan dia dengan guru piket.

"Kenapa kamu tiap hari terlambat?" Tanya guru piket

"Maaf bu, saya lupa alamat sekolah." Jawabnya ringan

Saya cerita itu ke Kano dan dia tertawa-tawa mendengarkannya. Lalu saya bilang, "If you are like that, it means it's not from my genes! It comes from your mother side! Because I am a very punctual person! I have nothing to do with it" Kata saya lagi.

"Well, then it is not my fault!" Kata Kano lagi lagi dengan enteng. Duh ini anak! Pusing saya! hahahaha..

Tepat waktu itu sangat penting karena kita tidak dapat membeli atau menukar waktu yang sudah lewat. Waktu tidak bisa diulang sehingga yang sudah lewat terbuang akan menjadi sebuah "kehilangan", sebuah "kerugian" bagi kita. 1 detik bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Bayangkan jika satu detik terlambat maka kita akan tertabrak, misalnya. Atau kalau saja tidak pindah satu detik yang lalu maka kita akan tersambar halilintar, itu contoh ekstrim lain. Banyak contoh-contoh yang tidak se-ekstrim itu. Saya hanya ingin menekankan bahwa tepat waktu adalah sesuatu yang penting, yang esensial bahkan saya bisa mengetahui karakter orang dengan melihat bagaimana dia memperlakukan waktu. Kualitas seseorang yang dapat diandalkan adalah orang yang selalu tepat waktu. Mungkin saya salah, tapi sejauh pengalaman saya dalam menjalani hidup ini, paling mudah saya bekerja sama, berhubungan dan berkolaborasi dengan orang-orang yang tepat waktu. Ganjalan karena keterlambatkan dapat menghambat produktifitas. Itu berdasarkan pengalaman yang sudah saya jalani. Saya bisa saja salah, tapi sungguh saya sangat menyukai mereka yang tepat waktu, karena pekerjaan mereka selalu tuntas, tidak menghambat orang lain karena keterlambatannya dan sebagainya.

Ambil contoh dalam pekerjaan saya saat ini. Saya selalu sebal karena 1 orang chef selalu terlambat menuntaskan pekerjaannya untuk forcasting menu. Padahal kalau dipikir-pikir hanya butuh waktu tidak lebih dari 30 menit untuk memasukkan angka-angka yang harus dia lakukan setiap minggu. Karena itu, semua kegiatan produksi terhambat. Saya mau tidak mau harus menunggu hingga dia selesai, kemudian baru semua data bisa digenerate, lalu saya membuat laporan agar data-data itu digunakan untuk produksi. Nah sudah sekian lama hampir selalu terlambat gara-gara satu orang itu. Berbagai cara sudah saya lakukan, menulis email untuk mengingatkan, menyindir agar dia lebih aware soal keterlambatannya. Nothing changed! Akhirnya saya biarkan saja. Semua orang tahu dan entah apakah semua orang marfum tentang ini. Pada dasarnya jika semua orang tepat waktu maka tugas saya juga akan tepat waktu, proses produksi akan lebih lancar, dan seterusnya.

Apakah orang-orang yang tidak tepat waktu itu banyak? Hahaha... ini mungkin pertanyaan agak naif tapi jawabannya mudah! Dari semua pekerjaan yang pernah saya jalani, setiap tempat, dan setiap institusi selalu ADA! Sangat disayangkan, tapi ya begitu faktanya. Ini mungkin bagian yang harus bisa diterima dan dimaklumi, tapi tetap buat saya ini sama sekali bukan hal yang menyenangkan.***

Foto credit: Shutterstock

You May Also Like