Minggu lalu, di grup MDK kami sempat membicarakan makanan sisa yang berakhir di tempat sampah. Awalnya, ada satu orang tua yang membagikan tautan tentang 'prestasi' Indonesia sebagai penyumbang sampah makanan terbesar se-ASEAN. Hal itu menjadi pemantik diskusi panjang tentang sisa makanan yang tidak dihabiskan, dan ternyata terjadi pula di lingkungan Smipa. Setelah itu obrolan melebar ke cara orang tua kita dulu mendidik kita supaya menghabiskan nasi (makanan) di piring. Dan, seperti biasa, kisah tentang masa kecil selalu berhasil membuat senyum terukir di bibir.
Ada teman-teman yang bercerita, sewaktu kecil diberitahu sang ibu jika makan nasi tidak habis, maka si nasi akan menangis. Ada juga yang diperingatkan akan mendapat pasangan yang bertato, wajah berjerawat atau brewok jika tidak menghabiskan nasi. Atau yang lebih logis, petani akan menangis kalau kita tidak menghabiskan makanan kita karena jerih payahnya tidak dihargai. Meskipun jika kita bahas lagi sekarang terasa banyak nasihat yang tidak masuk di akal, tapi semua itu adalah upaya orang tua kita mendidik kita untuk bertanggung jawab dan tidak membuang-buang makanan. Sekarang, tugas kitalah mendidik anak-anak kita untuk tidak menyisakan makanan di piringnya, dengan cara yang lebih tepat. Semoga kelak mereka akan mengerti, hal sederhana ini adalah wujud rasa syukur dan toleransi terhadap sesama.
Obrolan di grup MDK itu membuahkan beberapa solusi yang mungkin bisa diterapkan di Smipa, yaitu membuat infografis untuk memotivasi anak-anak makan sampai habis, membawa pulang sisa makanan, serta membicarakan porsi makanan dengan penyedia katering. Ah, grup ini memang keren banget, selalu punya insight yang positif dan mencerahkan! 😘
Omong-omong soal menghargai jerih payah orang lain, aku pernah mengikuti sebuah kegiatan di Ecocamp yang dibuka dengan tea ceremony. Tea ceremony ini sebenarnya adalah acara minum teh bersama. Peserta dibagikan teh dalam cangkir kecil yang akan diminum bersama-sama, tetapi tidak boleh ditenggak dalam sekali teguk. Kita diminta memegang hangatnya cangkir berisi teh dengan telapak tangan, menghirup aromanya, dan menyesapnya pelan-pelan sambil membayangkan perjalanan biji teh sampai menjadi minuman. Kita diajak berkelana dengan mata terpejam, melihat dalam bayangan, mulai saat biji teh ditanam, tumbuh menjadi pohon teh, dipetik daunnya, diproses dan dikeringkan, dikemas hingga menjadi daun teh siap minum yang harus diseduh dulu. Betapa panjang dan lama perjalanan biji teh itu sampai dapat kita minum. Ya, kira-kira begitu pula dengan nasi yang terhidang di depan kita, berasal dari padi yang ditanam dan dirawat dengan penuh cinta oleh para petani, sebelum berakhir di perut kita. Akan tegakah kita membuangnya dengan sia-sia?
.
Oya, ini bonus lirik lagu 'Serumpun Padi', karangan R. Maladi.
Serumpun padi tumbuh di sawah
Hijau menguning daunnya
Tumbuh di sawah penuh berlumpur
Di pangkuan ibu pertiwi
Serumpun jiwa suci
Hidupnya nista abadi
Serumpun padi mengandung janji
Harapan ibu pertiwi