AES 1475 Menghargai Yang Ada
joefelus
Tuesday September 30 2025, 12:19 PM
AES 1475 Menghargai Yang Ada

Kita adalah mahluk yang paling beruntung di alam semesta ini. Bangun tidur di pagi hari, menikmati secangkir kopi, sarapan dan dikelilingi oleh orang-orang yang kita sayangi. Saya sangat yakin itu merupakan keberuntungan yang paling hakiki, hingga nanti ketika kita tidak mampu melihat itu semua, lalu segala sesuatunya menjadi begitu kabur dan tidak mampu lagi melihat keindahan yang ada di sekeliling. Nah, sayangnya kadangkala walau kita memiliki mata, tidak sedikit yang lupa menggunakannya sehingga semuanya terlihat pudar, mata tidak lagi melihat, hidung tidak lagi mampu mencium. Semuanya buram, pudar tak tampak dan kehilangan rasa.

Karena sudah terbiasa, kita memiliki kecenderungan untuk take it for granted. Semuanya lewat begitu saja hingga ada suatu kejadian yang kembali mengingatkan kita bahwa setiap saat kita dikelilingi oleh keajaiban. Saya juga begitu. Terkadang karena sudah biasa saya lupa bersyukur telah diberi segala sesuatu termasuk kesehatan, hingga beberapa hari yang lalu ada otot bagian belakang sekitar pinggang tertarik. Untuk sesaat saya tidak mampu bernapas karena begitu kesakitan, saya tidak bisa bergerak dalam posisi yang sangat tidak nyaman, antara berdiri dan berjongkok di sudut gudang ketika berusaha menurunkan sebuah kontainer berat.

"What can I help, jo?" Tanya Nina khawatir, gelisah dan tidak tahu harus berbuat apa.

"Nothing." Jawab saya pendek sambil berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa. "Give me a minute." Lanjut saya.

Sedikit demi sedikit saya menggeser kaki, mencari tumpuan yang baik untuk berusaha bangkit. Hanya saja setiap inci saya menggerakkan jari-jari kaki dan merentangkan kaki sedikit untuk memberikan titik tumpuan agar dapat mengangkat tubuh ke posisi berdiri, rasa sakit yang sangat tajam menghujam disatu titik di pinggang belakang saya yang sangat tidak tertahankan. Tak tahan akan rasa sakit itu, saya berteriak yang semakin membuat Nina begitu gelisah.

Akhirnya saya mampu berdiri dengan posisi yang sangat aneh dan tidak nyaman saya berusaha menggerakkan kaki perlahan-lahan dan berusaha untuk tidak membuat gerakkan mendadak yang saya tahu jika itu dilakukan akan memberikan rasa sakit yang luar biasa.

Saya tidak mampu menggeser atau memindahkan benda apapun untuk merapihkan semua kontainer yang ada di luar gudang. "Mudah-mudahan hari ini tidak hujan deras." Gumam saya perlahan-lahan. Jika hujan deras maka kontainer-kontainer itu akan terkena tampias air hujan dan akan jadi basah, terutama duffle bag yang ada dekat sekali dengan kebun belakang. Untungnya semua kontainer dari plastik dan duffle bag itu juga kedap air. Saya tidak tega meminta Nina memindahkannya karena sangat berat dan saat ini saya tidak mampu berbuat apapun. Jangankan memindahkan barang berjalan menuju sofa untuk beristirahat saja sulit sekali karena harus menahan rasa sakit yang luar biasa ini. Ketika kita diberi kondisi yang tidak menyenangkan, segala sesuatu yang biasa saja menjadi hal-hal yang luar biasa. Berjalan tanpa rasa sakit itu adalah keajaiban, suatu anugerah, suatu kebetuntungan. Semua itu baru mulai mendapat perhatian lebih ketika kita tidak bisa lagi menikmatinya. Turun naik kendaraan tanpa merintih itu luar biasa, dan baru kita sadari ketika tubuh kesakitan.

"Kurang streching tuh kamu." Kata Nina

"Iya, kecapean karena kemarin seharian nyupir ke luar kota."
Kata saya.

Kemarin memang saya bersama beberapa orang teman pergi ke Bogor untuk mengunjungi salah seorang sahabat dari jaman kecil yang terkena serangan jantung. Untuk pertama kalinya sejak saya kembali ke tanah air nyupir ke Bogor. Saya tidak ingat rute yang biasa diambil, "Pasti lewat tol Jagorawi", Kata saya ketika mulai meninggalkan kota Bandung menyusuri tol Padaleunyi.

Kami banyak ngobrol di sepanjang jalan, setelah menjemput salah seorang teman di Bekasi, kami melanjutkan perjalanan ke Bogor, tapi karena seru ngobrol sepanjang jalan, arah keluar menunju tol Jagorawi terlewat, jadi kami harus berputar-putar di sekitar daerah Tebet sebelum akhirnya dapat putar balik dan kembali masuk ke Jagorawi.

Itu kemarin dulu, besoknya saya istirahat di rumah karena merasa kelelahan. Berkendara di tanah air itu sangat jauh berbeda dengan di rantau. Kemarin hanya 170km jauhnya 1 kali perjalanan, tapi kembali dari Bogor harus menghabiskan sekitar 5 jam karena Jagorawi macet parah. Katanya kebanyakan oran-orang kembali ke Jakarta dari berlibur. Dulu perjalanan hampir 400km bisa saya lalui tidak lebih dari 3 jam. Nah dulu itu biasa, sekarang saya anggap luar biasa ketika terkena kemacetan luar biasa dalam perjalanan pulang di dalam tol Padaleunyi karena banyak sekali perbaikan jalan tol ditambah para pengemudi yang saling berebut tidak mau bergantian. Yang dulu biasa sekarang jadi luar biasa.

Mungkin saya harus lebih mindful dalam menjalani hidup. Jangan baru bersyukur ketika sudah tidak ada sementara ketika ada diabaikan begitu saja. Bernapas dengan lega dan mudah harus disyukuri, jangan sampai baru kita sadar ketika jantung kita sudah melemah sehingga kemampuan bernapas kita mulai tersendat-sendat. Jangan sampai kita begitu menghargai hidup ketika kehidupan itu sendiri mulai sedikit demi sedikit menjauh.

Tapi saya juga merasa sedikit berdosa jika mengatakan "Enjoy your life as if today is your last." Tapi menurut saya jika tidak berlebihan dan memfokuskan lebih pada hal-hal yang bermakna, mungkin terasa lebih baik daripada mengabaikan banyak hal sehingga lupa pada anugerah yang seharusnya bisa kita sadari setiap saat.

Itu obrolan ngalor-ngidul saya hari ini. Sekarang saya ingin sedikit beristirahat, mengistirahatkan otot-otot punggung sambil menikmati buku Dan Brown terbaru yang barusan saja saya peroleh. Mudah-mudahan bukunya asyik. Tapi kalau melihat judulnya The Secret Of Secrets, sepertinya cukup menjanjikan. Salam!

Foto credit: mayoclinichealthsystem.org