Hari ini saya akan dapat kiriman rempeyek kacang. Tidak tanggung-tanggung, 1 tray! Apa yang paling bagus menjadi teman rempeyek? Langsung pikiran saya adalah membuat pecel! Nah kemarin Nina, saya dan seorang sahabat ke luar kota, sekalian mampir ke supermarket Asia. Saya langsung beli kacang panjang, kangkung, toge, labu siam, mentimun, dan kubis. Kebetulan di rumah saya punya bumbu pecel Madiun kiriman seorang teman. Cocok!
Pagi tadi saya bangun agak terlambat, mumpung hari Minggu. Saya sudah merencanakan untuk berolahraga. Begitu bangun saya langsung ganti pakaian, celana training, baju olah raga ikat pinggang yang bisa sekaligus digunakan untuk membawa HP, kunci dan earphone. Pakai sepatu dan mulai berlari. Rutenya yang biasa saya ambil, sekitar sejauh 3,8 miles atau sekitar 6km. Saya harus rajin berlatih karena sekitar 3 minggu lagi saya akan ikut maraton yang diselenggaralan oleh kampus, jadi saya ingin membiasakan diri sehingga ketika maraton saya tidak akan terlalu kerepotan. Nah itu yang saya lakukan pagi ini dibawah suhu sekitar 2 derajat Celcius.
Sekitar 45 menit kemudian saya sudah kembali tiba di rumah. Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang lari saya tadi, kecuali sepanjang jalan saya membayangkan serunya ikut maraton. Taman kota juga sangat sepi, mungkin karena dingin sehingga banyak orang memilih berada di rumah. Hari ini memang katanya akan turun salju walau probabilitasnya tidak besar.
Sesudah membersihkan diri, saya mulai dengan kesibukan di dapur. Memasak air untuk toge dan mengisi panci dengan air untuk merebus sayur-sayuran untuk pecel. Membuat pecel sama sekali tidak sulit karena bumbunya sudah ada, jadi yang harus saya siapkan hanya mematangkan sayur-sayuran, mulai dari yang keras-keras dahulu seperti kacang panjang dan labu. Sisanya akan jauh lebih cepat seperti kubis dan kangkung. Yang paling lama justru memetiki kangkung, sedangkan yang lainnya hanya dipotong-potong.
Saya pencinta pecel. Terutama ketika saya di Surabaya. Kebetulan Nina memang orang Surabaya, jadi jika saya main ke Surabaya, sering makan pecel jalan Ketabang Kali yang tersohor. Pecel biasanya menu sarapan dan makan siang. Pecel di jalan Ketabang Kali ini selalu ramai, yang dijual di sana tidak hanya pecel tapi juga ada tempe, ayam goreng, dan banyak lagi yang rasanya sangat enak jika dimakan dengan nasi pecel yang di-pincuk menggunakan daun pisang. Tapi anehnya, sego pecel atau nasi pecel yang selalu berkesan bagi saya justru bukan yang sangat enak di jalan Ketabang Kali itu. Yang selalu membuat saya terkenang justru di kota Ngawi. Entah nama warungnya apa, bahkan saya tidak ingat rasanya seperti apa. Nasi pecel itu tidak terlupakan bukan karena rasanya atau keistimewaanya, melainkan karena peristiwa yang sedang saya alami.
Saat itu saya dalam perjalanan pulang dari Suranaya menuju Bandung. Itu akhir liburan pergantian tahun. Kami naik bus malam, berangkat sore hari dari Surabaya dan biasanya subuh-subuh sudah tiba di Bandung. Tapi kali ini rute bus berubah karena jalur utara terkena banjir dimana-mana. Jadi bus malam kami memutuskan lewat selatan, dari Surabaya ke Madiun, Ngawi lalu Klaten dan sebagainya. Hingga tiba di Madiun tidak banyak kejadian apa-apa kecuali hujan sepanjang jalan. Malam hari jalanan begitu macet lalu terhenti. Kami tiba di Ngawi dan ada jembatan terendam sampai melewati kepala orang dewasa. Ratusan kendaraan terjebak. Bus yang kami tumpangi berhenti di tepi jalan dan tidak bisa kemana-mana. Kami semua tidur tapi kendaraan terjebak.
Pagi hari terpaksa kami keluar dari bus dan berusaha mencari rumah penduduk untuk menggunakan kamar mandi. Untungnya penduduk di sana semua ramah-ramah, kami diijinkan menyegarkan diri di kamar mandi mereka. Lalu karena kelaparan kami berusaha mencari pengganjal perut. Dan disitulah kami menemukan ibu-ibu yang berjualan nasi pecel. Isi pecelnya tidak istimewa, hanya nasi toge kacang panjang, kubis dan kangkung. Tapi karena kami memang sangat kelaparan, rasanya begitu nikmat. Sesudah makan kami kembali ke bus malam dan putar arah kembali ke Surabaya. Sore hari kami tiba kembali di Surabaya, tidak jadi ke Bandung. Semua lalulintas dari jalur utara maupun selatan terputus selama berhari-hari. Beberapa hari kemudian kami memutuskan naik kereta api karena sudah harus kembali bekerja. Nah nasi pecel ajaib itu yang tidak pernah dapat saya lupakan karena mengingatkan saya pada usaha pulang ke Bandung yang tersendat karena banjir di hampir seluruh pulau Jawa.
Siang ini saya menikmati nasi pecel yang saya buat, bumbu memang impor dari Madiun hahaha, tapi ketika menikmati pecel itu pikiran saya jauh melayang ke kampung halaman, ke tempat-tempat yang biasa saya kunjungi jika ingin nasi pecel seperti misalnya yang di Surabaya, di Ngawi ketika terjebak banjir maupun yang di Taman Saparua Bandung. Entah sekarang masih ada tidak yang di Bandung. Sego pecel memang pancen oye! Hahahaha...