Asyiknya hidup di rantau sebetulnya adalah terbukanya kesempatan untuk belajar banyak hal, bahasa, budaya, bertemu dengan banyak orang baru dan lain-lain seperti yang sudah saya ceritakan di esai-esai saya sebelumnya. Tapi ada hal yang belum saya ceritakan, yaitu proses penyesuaian diri serta usaha untuk survive di saat awal.
Saya punya kebiasaan untuk menyambut dan menemani orang-orang yang baru bergabung dari tanah air. Itu saya sering lakukan karena saya tahu betapa sulitnya menyesuaikan diri dengan tempat baru. kebanyakan, atau rata-rata orang baru itu merasa out of place, ada culture shock karena gaya hidup yang jauh berbeda. Saya mengajak rekan-rekan yang baru tiba untuk mengenali kondisi dan situasi sepempat. Dulu malah saya ajak ke tempat belanja, membantu menjadi anggota supermarket agar dapat diskon, menunjukan rute bus kota dan sebagainya. Tujuannya agar mereka lebih mudah dan cepat beradaptasi. Di Fort Collins agak berbeda karena kampus begitu besar dan lokasi tempat tinggal sangat berjauan, jadi saya agak sulit melakukan seperti yang dulu saya selalu kerjakan. Itu baru membiasakan diri dengan tempat tinggal, yang lebih penting adalah membiasakan diri dengan cara hidup dan kebiasaa di tempat baru.
Contoh lucu. Dulu saya diajak teman untuk makan-makan dalam rangka ulang tahun salah seorang teman. Ada satu meja besar penuh dengan teman-teman baru. Di Indonesia biasanya khan para tamu ditraktir oleh yang berulang tahun. Nah ini pelajaran berharga buat saya. Ternyata di sini justru kebalik, yang ulang tahun yang ditraktir ramai-ramai oleh teman-temannya. Sialnya saya saat itu tidak membawa uang sama sekali. Menjelang pulang saya kelabakan dan akhirnya dengn rasa malu luar biasa saya berbisik-bisik pinjam uang ke salah seorang teman saya. Nah, kebiasaan orang tidak sama di setiap tempat, harusnya saya tahu itu. Ya sudah, itu jadi pengalaman saya yang paling berharga.
Untung pertama kali saya hidup di rantau di usia relatif sangat muda. Katanya semakin muda semakin mudah untuk beradaptasi. Dan kali kedua hidup di rantau saya sudah punya pengalaman yang lumayan lama, jadi kali ini jauh lebih mulus dan saya dapat mengantisipasi segala hal sejak awal.
Memulai hidup dari nol itu sama sekali tidak mudah. Burtuh waktu untuk membiasakan diri dengan tempat baru, kebiasaan baru, lokasi, cuaca bahkan harus beradaptasi dengan perbedaan waktu. Beberapa hari awal lumayan seru karena ketika semua orang tidur saya malah lapar karena perbedaan waktu yang setengah hari. Dulu waktu di Hawaii malah beda waktunya 17 jam. Saya ingat malam pertama pukul 2 pagi saya kelaparan, untung ada vending machine di lantai bawah, sehingga tengah malam saya turun dan membeli bapau. Ya butuh waktu untuk penyesuaian diri, ketika orang mulai beraktifitas, saya malah mulai mangantuk dan sebagainya. Di Fort Collins pengalaman juga berbeda. Saya tiba ketika musim dingin bahkan tiba ketika baru saja ada badai salju sehinga jalanan tertutup salju hingga hampir satu lutut. Yang sebelumnya di daerah tropis di sini saya menggigil. Untungnya sekali lagi saya sudah berpengalaman, sehingga saya sudah siap dengan pakaian thermal, sepatu dan pakaian musim dingin.
Sesudah bisa menyesuaikan diri dan terbiasa dengan lokasi, mulai dengan langkah berikutnya yaitu mulai mencari sumber penghasilan untuk membiayai hidup! Nah ini juga merupakan perjuangan yang tidak mudah. Pertama kali di rantau saya harus mencari tahu banyak hal, mengurus perijinan dan sebagainya. Butuh waktu berbulan-bulan. sesudah memperoleh ijin baru mencari pekerjaan, seingat saya dulu membutuhkan lebih dari 6 bulan untuk mulai bisa bekerja. Kali ini karena saya sudah punya pengalaman, hari ke-dua saya tiba sudah langsung sibuk mengrus perijinan. Saya tidak membuang-buang waktu karena tahu untuk memperoleh ijin butuh setidak-tidaknya 3 bulan. Mengurus perijinan sambil belajar menyesuaikan diri dengan tempat baru. Kalau dulu menyesuaikan diri baru mengurus perijinan, itu membuang-buang waktu. Hidup di rantau tidak murah, jadi butuh sumber pendukung untuk hidup. Semakin cepat semakin baik.
Banyak teman yang tidak mampu bertahan hidup di rantau karena tidak produktif. Ada yang hanya bertahan setahun ada bahkan yang hanya beberapa bulan. Sekali lagi berjuang dari nol itu tidak mudah tapi jika kita mau dan terus bersaha dan kemudian bisa berhasil, maka perantauan akan menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa!