"Dad, why did you name me Radithya?" Kano bertanya pada suatu hari.
"Well, when your mom and I tried to find your name, we were thinking about a prayer, or wishes for you. Why do you ask?" Jawab saya.
"It sounds weird and not many people can pronounce my name correctly." kata Kano lagi.
"You can change it legally if you want to. But you need to see a judge and like I said your name has a very strong meaning and prayer. Radithya Noa Kahanu basically means breath of freedom from God." Saya mencoba menjelaskan.
Itu percakapan pendek kami. Dan saya memang sadar bahwa anak semata wayang ini sering menghadapi masalah karena banyak orang yang tidak mampu menyebut namanya dengan benar atau kadang ada yang terkejut karena mereka menyangka Kano adalah orang India. Ya nama Radithya adalah nama yang sangat umum untuk orang-orang India karena itu dari bahasa sansekerta.
Nama memang sering jadi masalah ketika ada di rantau. Misalnya nama istri saya, selama ini hanya 2 orang bule yang mampu menyebutnya. Pertama adalah teman kami dan kedua adalah salah satu kasir supermarket di Hawaii. Selain itu istri saya tidak mau capek-capek menyebutkan namanya dan lebih suka menunjukkan kartu identitas untuk menghemat waktu dan saya senang melihat reaksi mereka ketika menerima kartu identitas itu. Ada yang tersenyum mengerti, ada yang mengangguk-angguk dan ada yang berkomentar menyetujui tindakan Nina untuk menyodorkan kartu itu. Yang lucu adalah salah seorang pria, sayangnya saya lupa di mana, tapi saya ingat dia berulang-ulang memohon Nina menyebutkan nama keluarganya, Poerbonegoro, berkali-kali karena sangat senang mendengarnya. "Can you please say it again?" katanya dengan mimik wajah lucu hahahaha...
Nama saya juga sering menjadi masalah. Orang Amerika jarang menjumpai nama Johan, jadi kalau beli kopi saya sering mendengar mereka memanggil saya Jonah atau John sampai akhirnya saya selalu menggunakan nama Jo atau Joe. Kebetulan nama Joe adalah nama tengah saya, Joseph. Tapi nama ini akhirnya menyebar kemana-mana gara-gara salah satu coach saya di Gym yang dibisiki sahabat saya bagaimana menyebutnya. Sejak saat itu dia selalu memanggil saya ketika sedang berolahraga di treadmill dengan panjang.. "Come on, Yohaaaaaaann.. You can do it!" Sahabat saya ini cengengesan kalau mendengar itu dan dia tidak berhenti sampai di situ, karena kebetulan kami sama-sama bekerja di departemen yang sama, dia selalu berusaha memanggil saya dengan cara coach itu. Otomatis akhirnya semua orang di tempat kerja mulai meninggalkan kebiasaan lama memanggil saya dengan Jo atau Joe, sekarang hampir semua memanggil saya dengan panggilan Yohaaaan! hahahaha..
Nama bisa menjadi semacam blessing tapi juga kadang menjadi "semacam" insult karena orang tua sering memberi nama yang "aneh". Mungkin tidak bermaksud demikian, tapi jika memiliki arti lain kalau di bahasa yang berbeda maka nama bisa menjadi beban bagi yang menyandangnya. Coba banyangkan nama asal Perancis "Ember" yang artinya Spark dalam bahasa Inggris, tapi kalau dia pergi ke Indonesia akan membuat orang tersenyum! Benar tidak? Atau nama di Indonesia sampai pernah disebut-sebut media di Amerika gara-gara ada seseorang yang diberi nama Batman Bin Suparman, mungkin kalau komic DC tahu, orang ini akan diminta membayar royalty, atau bahkan dijadikan mascot untuk iklan. Atau nama pria suku Choctaw, ini adalah salah satu suku, penduduk asli Amerika, Indian. Dalam bahasa mereka nama Koi itu artinya panther atau macan kumbang, tapi Koi juga dikenal di dunia untuk nama ikan yang cantik.
Nama memang penting. Yang agak repot adalah jika hanya memiliki 1 nama untuk urusan legal di Amerika. Biasanya nama tunggal dijadikan nama keluarga atau last name sementara first name-nya menggunakan FNU yang artinya First Name Unknown. Hal kedua yang membuat repot juga adalah soal kebiasaan menyingkat nama di Indonesia. Orang Indonesia justru sering menyingkat nama keluarga dengan hanya menggunakan 1 huruf. Misalnya Asep Supriadi menjadi Asep S. Nah ini jadi masalah di Amerika. Dulu saya pernah bekerja menjadi tour guide. Kami kedatangan lebih dari 300 orang dari Indonesia. Kami jemput dengan beberapa bus dan bagasi diangkut oleh kendaraan khusus serta akan langsung diantar ke kamar masing masing. Kami sudah punya daftar resmi. Kebiasaan di Amerika daftar nama dimulai dengan Last name, lalu first name jadi jika namanya Asep Supriadi maka akan ditulis di daftar: SUPRIADI, Asep. Nah ini menjadi masalah besar ketika kami mengurus pengiriman bagasi karena orang Indonesia menulis nama mereka di bagasi dengan Asep S. sementara ada lebih dari 1 orang dengan nama Asep. Butuh waktu berjam-jam untuk bisa menyelesaikan urusan ini dan membuat banyak staf hotel sakit kepala!
Yang seru adalah di Swedia. Ada sepasang orang tua yang protes dengan aturan pemberian nama di sana yang memberikan waktu 3 bulan sesudah lahir. Orang tua itu memberi nama anaknya Brfxxccxxmnpcccclllmmnprxvclmnckssqlbb11116. Kalau saya baca, katanya menyebutnya Albin. Saya tidak mengerti bagaimana nama panjang itu dilafalkan menjadi Albin. Yang jelas ketika nama ini diajukan langsung ditolak oleh pihak yang berwenang! hahahaha..
foto: https://www.heartbeatinternational.org/whats-in-a-name
Unik banget urusan nama ini ya, Pak Yohan. 😊
Hahahahaha...