Pekerjaan mengelap kaca itu ternyata tidak semudah kelihatannya. Kemarin akhirnya kami meniatkan diri untuk mengelap kaca di ruang keluarga yang tingginya hampir 6 meter dengan lebar 3 meter. Berbekal tangga, gagang pel dan lap, satu orang naik, satu orang lagi di bawah memegang tangga supaya tidak terguling saat orang yang di atas bekerja dan bergerak-gerak.
Saking sudah terlalu lama tidak dilap, debunya luar biasa tebal dan kaca itu tak lagi jernih. Kami memilih untuk mengelap sisi dalam terlebih dahulu. Pertama kaca dibasahi dengan busa basah, sesudahnya dilap dengan kain yang dibasahi cairan pembersih kaca dan terakhir baru dilap kering. Teori urutan kerjanya memang terasa sederhana saja, itu juga yang kami bayangkan sebelum memulainya. Namun ternyata dalam prakteknya, banyak detail kerumitan yang baru ketahuan setelah melakukannya.
Bahwa ternyata kaca yang persis di depan mata itu justru tidak bisa dilihat apakah sudah benar bersih atau belum. Arah melihat harus diubah-ubah dari berbagai sisi, dan seringnya kondisi itu baru terlihat dari kejauhan, bahkan setelah turun dari tangga.
Lalu sewaktu membersihkan sisi luar yang lebih kotor daripada sisi dalam, baru ketahuan bahwa sisi dalam belum benar-benar bersih. Ternyata sisi luar yang kotor mengurangi ketepatan penilaian atas tingkat kejernihan kaca sisi dalam yang sedang dilap sehingga diperlukan usaha untuk mengelap ulang sisi dalam setelah selesai membersihkan sisi luar kaca. Memang keterbatasan daya jangkau saat di atas tangga dan kengeriannya saat bekerja di ketinggian menambah kesulitan untuk membersihkan kaca, karena ternyata saat kali kedua mengelap kaca sisi dalam, lagi-lagi sisi luar pun belum sebersih yang dikira.
Menjadikan jernih sebuah kaca kotor ternyata adalah pekerjaan dua sisi yang harus dilakukan bergantian dan berulang-ulang karena sisi luar dan dalam saling mempengaruhi kemampuan bekerja dan juga hasil kerjanya.
Oleh karena itulah akhirnya mengelap kaca bisa jadi sebuah esai. Pekerjaan itu serupa dengan pekerjaan merawat diri. Antara membersihkan sisi luar atau sisi dalam terlebih dahulu sebetulnya tak jadi masalah, selama disadari bahwa itu harus dikerjakan di dua sisi, luar dan dalam. Kaca akan selamanya tampak kotor jika hanya dibersihkan satu sisi saja. Perasaan sudah bersih seperti kaca yang tampak bening di depan mata bisa jadi sebuah tipuan karena jika dilihat dari sisi lain belum tentu sama penilaiannya. Yang terakhir, membersihkan sisi luar dan sisi dalam tak cukup dengan sekali jalan, kedua sisi butuh dikerjakan bolak balik bergantian agar benar-benar jernih.
wow, baru baca nih esainya, tentang mengelap kaca aja bisa jadi sesuatu banget ya - dan bisa direfleksikan dengan bagaimana kita memandang sesuatu... Terima kasih 🙏🏼😊