Kemarin, lagi-lagi aku harus kembali mengingatkan anakku soal ketertiban waktu tidur. Kali ini kugunakan cara yang berbeda untuk menggugah kesadarannya.
Kukatakan padanya begini, 'Sejak kamu bayi sampai sekarang, kamu sudah menambahkan banyak kebisaan. Setiap kebisaan itu seumpama anak tangga yang kamu bangun guna meraih bintangmu kelak. Jika ada kebisaan baru yang berhasil kamu bangun, baiklah jika anak tangga baru itu tak lantas meruntuhkan anak tangga lama yang sudah terbangun sebelumnya. Biarlah kebisaanmu itu terus bertambah dan anak tanggamu semakin bertumpuk.'
Lagi imbuhku, 'Tidur pada waktunya dengan mematiikan HP sudah jadi kebisaanmu sejak lama, jangan kamu hilangkan kebisaanmu itu'.
Tertib tidur kupahami sebagai hal yang penting untuk terus dijaga, layaknya pondasi yang menyokong kekokohan sebuah bangunan. Aku percaya bahwa keseimbangan tubuh hadir dari keadilan dalam membagi waktu antara bekerja dan istirahat. Harmoni datang dari kesadaran menyelaras dengan siklus siang malam semesta.
Sederhana saja, namun hal sederhana selalu jadi hal tersulit untuk dilakukan.
Menurut prinsip harmoni yang kupahami, siang dan malam, bekerja dan istirahat, adalah dualitas dan energi kontras Yin dan Yang yang butuh untuk saling menyeimbangkan. Siklus Yin dan Yang dalam satu hari itu ditandai pada pukul 12. Puncak energi Yin terjadi pada pukul 12 malam dan itu sekaligus adalah awalan energi Yang. Sebaliknya, pukul 12 siang adalah puncak energi Yang dan sekaligus adalah awalan energi Yin.
Suatu awalan akan menentukan puncak seperti dasar lompatan yang menentukan ketinggian puncaknya, dan awalan berlaku seperti benih, yang mana puncak berarti adalah tuaiannya.
Saat menulis ini segera terlintas satu kutipan, 'You reap what you sow'. Hasil yang akan diperoleh sangat tergantung benih yang ditanamkan dan tuaian itu tentu tidak terlihat di awal menaburkan.
Sekedar menuliskan proses yang tak terlihat itu; saat aku makan pada waktunya di puncak energi Yang, itu berarti aku memberi kesempatan terbaik bagi tubuhku agar bisa menyerap semua nutrisinya dan memakainya sebagai energi untuk melangsungkan kebutuhannya. Lalu ketika aku berhasil tidur lelap pada puncak energi Yin maka itu berarti aku memberi kesempatan terbaik pula bagi tubuhku untuk mereparasi dirinya sehingga fungsi kerjanya pun kembali optimal saat kubutuhkan. Semua yang kuberikan untuk diriku, aku sendirilah yang menerima manfaatnya.
Maka menjaga anak-anak tangga itu pun bisa jadi serupa usaha memelihara benih yang ditanam agar kelak panenannya berhasil dan berlimpah. Agar anak tangga itu kian bertumpuk dan menjulang, sehingga memudahkan untuk memetik bintang.
Ini menarik. Memang kalau bicara yin-yang otomatis bicara keseimbangan ya. @joefelus juga sempat menulis tentang keseimbangan. Orang dulu lebih memerhatikan keseimbangan - karena itu ya mereka hidupnya relatif lebih baik - walaupun tampak dari luarnya lebih kuno... 🙏🏼😊