AES 549 Living The Dream
joefelus
Wednesday November 23 2022, 11:18 AM
AES 549 Living The Dream

I don't want a lot for Christmas
There is just one thing I need
I don't care about the presents underneath the Christmas tree
I just want you for my own
More than you could ever know
Make my wish come true
All I want for Christmas is you
Yeah

Di atas adalah sebagian lirik bait pertama dari lagu All I want Fir Christmas Is You, yang kalau tidak salah mulai terkenal sejak tahun 1994, oleh Mariah Carey. Lagu ini sangat terkenal hingga setiap menjelang akhir tahun selalu diperdengarkan di mana-mana, terutama tentu saja di Amerika.

"I do not know who mariah Carey is, but I hate it that every year I always have to hear this song." Kata Kano ngomel. Dia memang bukan penggemar lagu-lagu pop hahaha..

Akhir tahun, terutama Natal memang selalu identik dengan lagu. Sejak saya kecil ayah selalu memutar lagu ketika kami semua masih tidur di pagi hari. Sebelum matahari terbit kami selalu mendengar lagu Natal mengalun yang dinyanyikan oleh Pat Boone, Connie Francis, Jim Reeves, Nat King Cole, Dean Martin, Andy Williams, dan sebagainya. Sepertinya tidak pernah saya melewati akhir tahun tanpa mendengar lagu-lagu Natal. Itu salah satu kenangan masa kecil yang tidak pernah dapat terlupakan.

Lagu-lagu Natal itu sendiri sebetulnya mayoritas ceritanya jauh dari lagu-lagu religius. Kebanyakan bercerita tentang musim dingin, tentang nostalgia, tentang kampung halaman, tentang pulang kampung, kebiasaan yang dilakukan di rumah pada saat liburan atau silaturahmi dan lain-lain. Yang jelas katanya lagu-lagu semacam ini tujuan utamanya adalah menyebarkan kebahagiaan. Dan saya pikir hal itu memang betul. Saya jadi ingat kejadian puluhan tahun yang lalu ketika untuk pertama kalinya saya "mudik" dan saat itu menjelang Natal. Saya duduk di dalam bus antar kota sambil melamun dan merasakan betapa kangennya saya pada keluarga yang sudah sekian lama saya tinggalkan. Lucunya saat itu saya tidak tahu di mana rumah orang tua saya karena selama saya di rantau, keluarga saya pindah rumah. Untungnya di bus saya bertemu dengan seorang kenalan dan memberitahu saya di mana rumah yang baru. Di dalam bus yang saya ingat sepanjang jalan saya menggumamkan lagu I'll Be Home For Christmas" Hahaha.. Cocok sekali bukan? Dan coba perhatikan, lagu itu sama sekali tidak ada unsur religiusnya, hanya menceritakan betapa bahagianya bisa pulang, walaupun jika hanya dalam mimpi! Hehehe..

Saya juga ingat bertahun-tahun yang lalu ketika saya sibuk bergelut di bidang makanan. Saya bekerja setiap hari mengelola restoran dan saat Natal dan Tahun baru justru merupakan saat-saat dimana kami sangat sibuk. Mungkin sejauh ingatan saya, saat itu adalah saat yang bagi saya sangat menderita karena sebagian besar waktu saya habis di pekerjaan. Kano saat itu masih sangat kecil, malah baru masuk TK, sedang seru-serunya memiliki anak seusia itu apalagi di saat-saat Natal dan tahun baru adalah saat yag sangat menyenangkan jika dijalani bersama keluarga. Demi mengejar mimpi saya rela mengorbankan itu walau dengan tingkat kesedihan yang tidak terkira. Mendengarkan lagu-lagu Natal seperti pisau tajam yang menyayat-nyayat hati saya hingga perih.

Menurut saya lagu-lagu sangat penting pada masa-masa ini. Akhir tahun memang masa-masa yang spesial dan karena biasanya merupakan waktu libur, maka keluarga menjadi pusat dari semua kegiatan, dan fungsi lagu-lagu itu adalah sebagai pengiring.

Banyak sekali lagu-lagu itu bertemakan relasi antar pribadi, relasi dengan keluarga, tradisi yang biasa dilakukan dalam keluarga bahkan situasi seputar akhir tahun yang memang sejauh ini didominasi tempat-tempat yang mengalami musim dingin. Saya menyebutkan itu karena memang begitu, Australia khan justru kebalikannya, saat akhir tahun adalah musim panas. Atau bagi yang di daerah tropis lebih cocok memasuki musim penghujan. Hebatnya lagu-lagu itu begitu indah dan mengesankan sehingga imajinasi kita begitu lekat dengan banyak kejadian di musim dingin. Lihat saja lagu-lagu natal banyak yang bercerita tentang perapian, salju, sleigh dan sebagainya. Nah itu membentuk sebuah mimpi bagi saya, apalagi sejak kecil ayah selalu memutarkan lagu-lagu itu. Jadi bayangkan betapa bahagianya saya ketika malam Natal turun salju! Ini seperti mimpi masa kecil yang terwujud. Selama 6 Natal di Fort Collins, seingat saya hanya 2 kali kami mengalami betul-betul White Christmas. Sisanya walau masih tetap putih karena salju turun beberapa hari sebelumnya tapi tidak tepat malam Natal. Natal tahun 2017 justru saya sedang bekerja di luar kota dan turun badai salju di malam Natal. Saya baru pulang berjumpa dengan keluarga baru sehari sesudah Natal lewat. Baru tanggal 26 saya pulang dengan tubuh sangat lelah karena selama beberapa hari terakhir hampir tidak tidur.

Lagu-lagu Natal sebetulnya, katanya, baru mulai sejak abad pertengahan. Ada kelompok yang disebut wassailers yang menyanyi dari rumah ke rumah yang tujuannya menyebarkan kebahagiaan. Pada masa itu malah mungkin bukan kelompok religius yang melakukan itu, melainkan kelompok pagan yang berusaha menghibur sepanjang masa musim dingin. Baru kemudian ketika hari raya kaum pagan itu diadaptasi oleh kelompok religius, kemudian menjadi Natal yang sebetulnya sama sekali tidak tepat jika dikatakan Natal adalah Hari Lahir Yesus, sebab menurut penelitian hari lahir Yesus itu baru di musim semi, bukan di musim dingin, Bahkan ada yang mengatakan di bulan September. Yang tepat yang mana, masih belum diketahui. Di abad 17 malah menyanyikan lagu-lagu Natal sempat dilarang. Itu kata sejarah yang kalau benar-benar ditelusuri sangat menarik untuk diketahui.

Saya tidak mempermasalahkan pendapat banyak orang tentang lagu-lagu Natal ini. Tidak terlalu peduli pandangan religius juga karena saya hanya melihat fungsi dari lagu-lagu itu sangat menarik dan memberikan banyak kebahagiaan bahkan sejak masih kecil, apalagi sekarang selama beberapa tahun terakhir saya seolah-olah menjalani apa yang sering digambarkan dalam lagu-lagu itu, seperti misalnya salju, perapian, cestnuts, mistletoe, turkey bahkan eggnog. Hal-hal yang dulu ketika kecil hanya dalam bayangan selama beberapa tahun terakhir ini sudah saya nikmati benar-benar secara nyata. Ya, kalau kata orang sini, I am living the dream!

You May Also Like