AES 339 Memilih Jalan
joefelus
Wednesday April 27 2022, 1:53 AM
AES 339 Memilih Jalan

Barusan saya baca tulisan kak Andy: Mengalir Atau Terbawa Arus. Β Kak Andy bilang dari pengamatannya bahwa banyak orang dewasa yang hidup pragmatis dan otomatis seperti auto pilot. Di situ saya terpicu untuk mulai berpikir dan merenung dengan kehidupan yang saya jalani. Benar juga kalau dipikir-pikir.

Orang-orang jaman saya (hahaha.. terdengar tua banget kalau mengatakannya begini!), sepertinya di masa sekolah tidak benar-benar disiapkan untuk menjadi dewasa. Maksudnya, dari jaman TK hingga lulus SMA saya hanya sibuk belajar mengikuti semua mata pelajaran yang sudah didisain, disiapkan oleh sekolah. Saya hanya disodorkan daftar dengan sederet mata pelajaran yang harus saya pelajari. Kalau lulus nilainya hitam atau biru, kalau hasilnya jelek warnanya merah. Kalau terlalu banyak nilai merah maka harus mengulang di kelas yang sama untuk setahun ke depan. Siklus seperti ini terus berputar selama bertahun-tahun hingga tentu saja sampai sekarang terutama di sekolah-sekolah yang menganut cara tradisional. Gurunya juga ditugaskan hanya untuk mengajar mata pelajaran tertentu, semua terkotak-kotak dan tidak jelas betul-betul anak-anak ini dipersiapkan ke mana.Β 

Tidak heran ketika menjelang lulus SMA saya tidak tahu mau kemana, mau memilih jalan yang mana untuk saya teruskan sebagai tujuan dari hidup. Jangankan memilih, yang sudah dipelajari saja saya tidak sungguh-sungguh mengerti. Contoh sederhana, Pelajaran bahasa Indonesia, misalnya mengarang, itu untuk apa? Tidak ada contoh yang nyata yang bisa ditekankan yang dikaitkan dengan kehidupan di masyarakat! Jaman saya ya begitu itu. Entah sekarang bagaimana, sebab anak saya tidak sekolah di SMP atau SMA di Indonesia, jadi saya tidak mengerti. Alangkah indahnya jika pelajaran bahasa Indonesia di SMA, mengarang misalnya, mengajarkan anak-anak untuk menulis resume! Ini bisa dipakai ketika sudah lulus untuk melamar pekerjaan bukan? Nah ini hanya sekedar contoh bahwa banyak yang saya pelajari pada dasarnya hanya membuang waktu dan tidak banyak keuntungannya yang bisa saya pergunakan ketika hidup di masyarakat. Lihat saja sampai sekarang orang masih membeli selembar kertas yang sudah terformat untuk membuat Curriculum Vitae! Hahaha...

Ketika ingin memilih universitas juga bingung. Seperti memilih benda dalam sebuah periuk karena saya tidak memiliki gambaran atau rencana yang nyata tentang tujuan hidup. Seperti mengocok pemenang arisan! Masih untung saya tertarik pada sesuatu lalu saya kejar walau tanpa persiapan apapun yang jelas. Akhirnya gagal karena memang sejak jaman sekolah menengah saya tidak memiliki persiapan apa-apa. Saya butuh waktu 2 tahun sesudah lulus SMA untuk memilih universitas yang akhirnya saya selesaikan. Apakah pilihan saya itu tepat? Sampai sekarang saya tidak bisa mengatakan bahwa itu pilihan saya yang tepat sebab kalau dihitung-hitung yang saya lakukan sekarang sama sekali tidak berhubungan dengan semua mata kuliah pendidikan yang pernah saya ambil. Kalau dihitung-hitung justru pekerjaan di luar pendidikan yang lebih banyak saya geluti.

Mengamini yang kak Andy katakan bahwa banyak orang dewasa yang tidak mengenal diri dan menyadari kehidupannya, itu betul sekali. Tanpa mengenal diri, saya tidak tahu apa yang saya inginkan, apa yang saya ingin tuju. Saya hanya meraba-raba berdasarkan mungkin kesenangan sesaat akan sesuatu lalu mencoba, jika gagal maka akan mencoba yang lain lagi hingga menemukan sesuatu yang bisa digenggam untuk seterusnya. Apakah itu sebuah kesia-siaan? Tidak juga sih, banyak yang bisa dipelajari dari berbagai kegagalan yang saya alami. Tapi alangkah jauh lebih baik jika saya waktu itu diajarkan untuk mengenal diri, menyadari kehidupan diri sehingga akan lebih terfokus pada sesuatu yang lebih "gue banget"! Iya khan?

Hampir semua teman-teman dan tentu saja saya memang hanya "mengikuti arus". Orang tua hanya menyiapkan anak-anaknya untuk bisa bersekolah lalu begitu selesai bisa kemudian bekerja, berkeluarga dan menjalani semua hal yang orang tua, dan orang tua-orang tua sebelumnya sudah lakukan. Bahkan ada kesan jika ada yang nyeleneh dan tidak mengikuti "tradisi", dianggap tidak normal. Jadi jangan heran jika banyak pertanyaan, kapan lulus, kerja di mana, sudah berkeluarga? dan sebagainya. Ini pertanyaan klise yang diulang-ulang milyaran kali oleh semua orang. Begitu saya memilih untuk tidak bekerja, saya ditegur;"Jangan begitu pak! Bapak khan kepala keluarga, harus bisa menopang keluarga!" Berapa ratus kali saya ditegur oleh banyak orang karena saya memilih menjadi full time dad selama bertahun-tahun. Itu semua karena saya memilih untuk berbeda dan tidak mengikuti "tradisi". Atau bahkan ibu-ibu di warung komentar,"Loh kok oom yang masak, bukannya ibu?" Lalu begitu saya jawab,"Oh ibu ngantor, saya yang urus dapur!" Ibu-ibu itu malah bengong! Lebih seru lagi sekarang ini, saya ngantor tapi saya juga masak di dapur, ngepel, bersihkan kamar mandi dan nyuci pakaian. Saya langsung dianggap suami ideal, suami teladan, suami sejati. Padahal saya masak di dapur karena itu kesenangan saya, memasak di keluarga saya bukan merupakan tugas, bukan merupakan kewajiban. Saya mau masak secara sukarela karena dengan memasak saya bisa menciptakan sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan untuk diri saya karena bisa menciptakan sesuatu, juga kebahagiaan untuk Kano yang tukang makan! Juga kebahagiaan buat Nina karena dia bisa konsentrasi menyelesaikan desertasinya! Itu jalan yang saya pilih dan saya tidak peduli dengan judgment yang orang lain lakukan ketika saya membawa kantong kresek bekas ke warung Bu Ipah membeli kangkung, tempe dan ikan asin.

Jika memandang apa yang Tasha lakukan dengan mulai memikirkan life plan, saya sangat iri. Kalau saja dulu saya disiapkan seperti itu, mungkin akan lebih mudah saya memilih jalan dalam mengejar tujuan hidup. Tapi saya juga mengerti bahwa apapun yang mungkin sudah diusahakan jaman itu, tidak akan mampu mencapai tahap ini sebab semua yang dilakukan dalam pendidikan yang saya jalani waktu itu semuanya terkotak-kotak. Pihak guru maupun sekolah saja tidak tahu kemana arah pendidikan yang mereka selenggarakan untuk anak anak didiknya, bagaimana bisa mengarahkan anak-anaknya untuk memilih jalan yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan hidup? Jangan harap bisa terfokus kalau semuanya terkotak-kotak tanpa ada pemetaan tujuan yang jelas. Bukan begitu?

Foto: Oval, Colorado State University

Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Wow nyambung nih tulisannya πŸ˜ƒ. Panjang pula... Ini mah sudah sepanjang 3 esai ☝🏼😁. Thank you Joe.
@natasha-setyamukti ada sambungannya di sini ya. 😊
joefelus
@joefelus   4 years ago
hahaha.. ga sadar kalau panjang :)
msetya2015
@msetyamukti   4 years ago
Apa kita alami jaman sekolah sama Joe, dengan apa yang bisa didapatkan oleh @natasha-setyamukti, beruntung sekali bisa mendapat pendidikan seperti di Semi Palar... Andai waktu bisa diulang...
You May Also Like