Menutup akhir tahun 2025 ini, saya ingin menuliskan ini. Bagaimana kita semua masyarakat dan bahkan peradaban hari ini dibangun dan berdiri di atas berbagai kebohongan belaka. Ini terjadi di seluruh dunia, di mana-mana di berbagai negara masyarakat melakukan demonstrasi. Silakan diperhatikan sendiri.
Di Indonesia, mulai terbongkar bagaimana pemerintah dan para pemegang modal (oligarki) mengangkangi kekayaan tanah Indonesia. Negara berhutang sampai ribuan trilyun. Masyarakat di mana-mana miskin dan dibiarkan bodoh. Urusan ijazah pemimpin negara saja sudah menjadi permainan kebohongan yang sudah sekian lama dijadikan tontonan publik. Ada bandara yang tidak jelas di ujung sana. Permainan uang ratusan trilyun dengan topeng untuk makan gratis anak-anak. Lalu hasilnya apa. Para kepala daerah yang kerjanya korupsi. Hutan ditebangi, ribuan titik tambang ilegal yang merusak alam Indonesia. Lalu apa hasilnya...
Sederhana saja, kita hidup dan berdiri di atas kebohongan dan dusta. Keburukan ini begitu diumbar di mana-mana di berbagai ruang publik tanpa rasa bersalah sedikitpun. Mulai dari pencitraan yang kecil-kecilan. Bagaimanapun pencitraan adalah bentuk kebohongan yang paling biasa kita saksikan. Dan ini menular ke bagaimana kita semua menampilkan diri kita melalui medsos. Banyak dari kita yang aktif di medsos menampilkan diri sebagus-bagusnya - berbeda dengan kenyataan yang ada. Ini fakta dan sudah banyak penelitiannya. Bagaimanapun ini juga adalah dusta. Bahasanya saja pencitraan, untuk menampilkan sesuatu lebih baik dari kenyataannya. Sesederhana kita sering kecewa saat membeli makanan di sebuah rumah makan, bagaimana makanan yang dikirim ke meja sangat berbeda dari foto makanan yang ada di menu... Ah ini juga dusta lagi.
Pada akhirnya kita menjadikan dusta sebagai sesuatu yang biasa. Mulai dari hal kecil - sampai ke hal besar. Mulai dari pesan makanan ke panggung politik ke bagaimana anggaran negara dikelola dan dipublikasikan ke publik. Semua dusta. Mengerikan. Lalu bagaimana kita bisa membangun rasa percaya di atas dusta. Yang perlu disadari betul adalah bagaimana anak-anak kita kemudian membangun persepsi tentang kenyataan, tentang kebenaran, tentang kebohongan dan lain sebagainya. Bagaimana mereka kemudian bisa meletakkan percaya pada orang lain, pada teman, pada pasangan, pada rekan kerja dan seterusnya. Kalau pijakan di mana kita berdiri dan melangkah adalah dusta, sekali lagi, bagaimana kita kemudian bisa membangun percaya di atasnya. Ini perlu kita sadari dan jadikan refleksi bersama - secara khusus saat mendampingi anak-anak kita bertumbuh kembang menjadi manusia dewasa. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Photo by Brett Sayles: https://www.pexels.com/photo/close-up-photo-of-a-letterboard-9583206/