Ada yang menarik soal bercermin. Ternyata bercermin bukan perkara mudah bahkan bagi para tokoh bangsa sekalipun. Bercermin bukan soal mematut-matut diri sebelum pergi ke luar rumah, tapi untuk betul-betul merefleksikan keseluruhan diri kita. Melihat ke dalam, dan menyadari apa yang tersimpan, dalam diri kita.
Kebetulan saya mengikuti acara Mata Najwa di UGM - saat Najwa Shihab mengundang ketiga capres untuk digali berbagai pandangan dan gagasannya dalam konteks menjelang Pilpres di tahun 2004 mendatang. Bergiliran, Najwa mewawancari ketiga Capres yaitu pak Prabowo, pak Ganjar Pranowo dan pak Anies Baswedan.
Yang menarik, sangat menarik - di penghujung wawancara, Najwa menyiapkan sebuah cermin di atas panggung dan meminta ketiga Capres untuk berbicara di depan cermin tersebut. Najwa meminta beliau-beliau ini untuk merefleksikan diri dan mengungkapkan apa yang ada alam pemikiran / perasaannya sambil menatap diri di dalam cermin. Ternyata tidak semua mampu melakukan hal ini dengan baik. Pak Prabowo menolak dengan caranya sendiri, dan tampak tidak nyaman melakukan hal ini - walaupun Najwa berusaha berusaha meminta beliau melakukannya. Akhirnya pak melanjutkan bicara seperti layaknya beliau berpidato di berbagai kesempatan. Cermin besar di sebelahnya beliau acuhkan begitu saja.
Pak Anies Baswedan pada awalnya juga tampak tidak nyaman - dan seperti gugup. Beliau mengungkap kepada Najwa, "Saya tuh ga biasa bicara di depan cermin", sebelum kemudian mengucapkan beberapa kalimat.
Yang paling yakin dan serius melakukan sesi refleksi ini saya lihat hanya pak Ganjar. Dengan tenang beliau berdiri di depan cermin, hening sejenak dan kemudian mengungkapkan pesan orangtuanya. Ada dua hal penting yang pak Ganjar sampaikan, tentang jabatan - bahwa jabatan itu adalah amanah, tidak untuk dikejar dan jangan korupsi. Refleksi singkat - tapi mendalam dari pak Ganjar di tutup dengan ucapan Bismilahirohmanirohim. Saya melihatnya itu sebagai bagian dari kesadaran diri beliau berhadapan dengan apa yang sedang beliau hadapi ke depan.
Buat kita semua di Semi Palar, proses reflektif adalah proses yang sangat penting. Refleksi - yang bisa diistilahkan bercermin diri, kontemplasi adalah terutama dalam konteks pengenalan diri. Di sisi lain, mengamati komen-komen yang muncul di bawahnya, tampak juga bahwa kebanyakan dari kita masih asing dengan proses ini. Saya jadi teringat ungkapan mang Ihin (Solihin GP) dalam salah satu pertemuan yang diselenggarakan Rumah Nusantara, beliau bilang, "Bangsa Indonesia ini sangat tidak reflektif". Kalau kita ingat juga tentang Buana Alit dan Buana Ageng, apa yang kita lakukan, ungkapkan, kerjakan adalah cerminan dari apa yang ada di dalam diri kita. Salam.
Photo by Lisa Fotios: https://www.pexels.com/photo/person-holding-hand-mirror-2183445/
Setuju banget, Ka. Sulit u/ bercermin / berefleksi kl ga terbiasa. Saya pikir harus belajar menjeda dl, baru bisa berefleksi diri