Hmm ini bukan topik yang biasa saya tulis. Tentang Grief (duka). Sengaja judulnya ditulis pake Bahasa Inggris supaya lebih jelas buat para pembaca. Kalau judulnya duka bisa disangka isinya tentang ketidak tahuan - karena duka dalam Bahasa Sunda artinya tidak tahu alias teu nyaho.
Tepat 4 tahun lalu saya kehilangan adik saya. Usianya sepuluh tahun lebih muda dari saya. Tidak ada yang menduga. Karena adik saya Alwin adalah orang yg paling sehat, badannya kuat dan sangat aktif. Tukang aprak-aprakan, off-roading, touring pake motor, gowes dan lain sebagainya. Alwin 7 bulan sakit, dirawat dengan segala upaya tapi Tuhan menghendaki lain, ia dipanggil pulang mendahului kita semua di keluarganya.
Masih sangat jelas dalam ingatan saya detik-detik Alwin meninggalkan kita semua - karena saya dan kak Ine sedang menemani Alwin dirawat di Rumah Sakit. Empat tahun berlalu kalau mengingat Alwin, air mata pasti menetes, terasa sakit di hati. Grief, duka sepertinya memang tidak pernah hilang. Ada lubang besar yang ternganga saat seseorang yang dekat dengan kita pergi meninggalkan kita. Air mata sepertinya adalah upaya kita mengisi lubang kekosongan itu, sampai entah suatu waktu terisi dan duka bisa jadi sirna. Entahlah, yang pasti saya belum sampai ke sana.
Beberapa hal memang membantu saya untuk memaknai dan mengolah rasa duka itu lebih baik. Salah satunya filem di bawah ini.
Seperti yang dirasakan, duka itu memang tidak pernah hilang tapi kita belajar hidup berdampingan dengan duka itu... belajar menerima dan memeluk rasa duka itu. Sebetulnya duka itu kan pengganti dari orang yang kita sayangi itu. Hadir tapi dalam bentuk yang berbeda.
Hari ini di Semi Palar ada kabar duka juga. Meninggalnya pak Maman, kakeknya Danu - K8. Saya cukup sering berbincang dengan beliau. Kabar kepergian beliau juga mendadak. Saya juga merasa kehilangan karena beliau pernah jadi bagian dari proses kehidupan saya.
Filem di atas ini saya dedikasikan buat keluarga besar Semi Palar yang pernah mengalami kehilangan dan mendapatkan duka sebagai gantinya. Mudah-mudahan kita bisa memaknai duka sebagai sesuatu yang berbeda. Karena hidup dan kehidupan kita harus jalan terus. Salam.