Waktu yang digunakan untuk kebersamaan dalam sebuah Keluarga merupakan hal yang sangat esensial. Karena sudah terbukti bahwa keluarga yang menghabiskan waktu bersama-sama, melakukan kegiatan yang menyenangkan dan sebagainya membentuk kebersamaan yang kuat, membentuk ikatan emosional satu sama lain yang kokoh.
Saya hanya memiliki keluarga kecil, hanya bertiga dan setelah Kano mulai beranjak dewasa maka masing-masing memiliki kesibukan dan waktu bersama semakin lama semakin jarang. Kebersamaan menjadi sesuatu yang sangat spesial karena dengan berjalannya waktu hal itu menjadi semakin langka.
Menjelang musim panas, kesibukan pekerjaa semakin meningkat. Nina juga demikian, Kano juga punya kesibukan sendiri. Tinggal serumah, hanya bertiga, tapi jarang bisa melakukan kegiatan bersama. Saya mulai bertanya-tanya mana yang lebih penting, kuantitas atau kualitas kebersamaan?
Yang pernah saya baca, katanya kuantitas kebersamaan menciptakan safe environment terutama untuk anak. Semakin sering "bersama" semakin memberikan perasaan "keberadaan" dan rasa aman serta menciptakan home base yang solid yang akan membentuk kepercayaan diri dan kekuatan ketika anak-anak keluar ke dunia nyata lepas dari keluarga.
Kualitas kebersamaan di sisi lain adalah proses bonding dalam keluarga yang merupakan hal yang penting dalam relasi. Semakin sering menciptakan waktu kebersamaan semakin banyak kesempatan mempererat hunbungan antar anggota keluarga.
Pola kehidupan jaman sekarang sepertinya semakin menghambat keeratan hubungan keluarga. Kesibukan mengejar materi membuat keluarga semakin jarang bertemu dan menciptakan kerenggangan. Semakin jarang melihat keluarga dapat berkumpul seperti jaman saya kecil bermain ular tangga, monopoli atau halma! Ini masa-masa yang bagi saya sangat menyenangkan. Dulu ketika Kano masih kecil kami masih sering bermain Uno. Itu kenangan yang indah yang terus saya simpan karena hal semacam itu sekarang seolah-olah sudah usang dan hampir tidak mungkin terjadi lagi. Padahal permainan-permainan itu hanyalah media, yang terpenting justru duduk bersama saling bercerita sambil bermain. Kalau melihat kecenderungan hubungan dalam keluarga jaman sekarang yang sudah shifting kearah kerenggangan dibandingkan dengan jaman saya kecil, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika nanti Kano menjadi orang tua. Kano kemungkinan besar sudah lupa dengan permainan Ludo atau Halma, bayangkan anak-anak dia nanti mungkin kata Ludo itu tidak ada artinya sama sekali, padahal jaman saya kecil Ludo artinya duduk bergurau dengan kakak, adik, ibu dan ayah!
Foto credit: 955thefish.com