AES 709 Refleksi 4: Orang Terpenting
joefelus
Wednesday May 3 2023, 12:54 AM
AES 709 Refleksi 4: Orang Terpenting

Saya tidak ingat kapan terakhir mengikuti retreat atau rekoleksi. Kemungkinan besar ketika masih mahasiswa. Itu sebagai peserta, tetapi ketika menjadi "penyelenggara" sepertinya ketika saya masih berprofesi sebagai guru. Saat itu saya sedang berusaha mendampingi murid-murid dalam upaya menemukan jati diri mereka. Waktu itu sih terdengar sangat keren, seolah-olah sebagai guru saya sudah "merasa" menemukan diri sendiri. Kalau dipikir-pikir sombong juga ya! Hahaha.. Sekarang sesudah puluhan tahun kemudian, saya semakin menyadari bahwa hingga kini pun saya masih ragu-ragu apakah sudah mengenal jadi diri saya yang sesungguhnya. Mukin tepat sekali seperti para ahli berkata bahwa semakin kita banyak belajar, semakin kita sadar bahwa kita itu bodoh, semakin sadar bahwa kita tidak mengetahui apa-apa. Nah mungkin ini bisa juga diterapkan dalam upaya menemukan diri sendiri.

Pertanyaan yang paling sering dilontarkan saat dalam rekoleksi atau retreat adalah: Siapa saya sebenarnya dan siapa orang yang paling penting dalam hidup kita. Nah betul bukan? Saya masih ingat pada saat itu kebanyakan anak-anak menjawab bahwa orang yang paling penting dalam hidup mereka adalah orang tua, wali orang tua yang mengurus mereka jika sudah tidak memiliki orang tua, bahkan ada yang entah karena apa menjawab bahwa orang yang paling penting dalam hidup mereka adalah guru! Hahaha.. ini memang perlu dipertanyakan.

Pada saat itu saya hanya "menerima" saja jawaban mereka. Toh itu hanya sekedar mengarahkan bahwa disekeliling mereka banyak orang yang penting yang bersentuhan dengan hidup mereka. Ada satu hal yang saya lupakan ketika menjadi guru, bahkan juga saat ini, yaitu bahwa orang yang paling penting dalam hidup adalah diri sendiri! Iya betul! Saya sendiri sering lupa bahwa sebenarnya yang paling penting adalah saya sendiri. Keluarga memang juga sangat penting, pasangan hidup, anak itu bagi saya penting tapi yang terpenting justru diri saya sendiri. Saya akan jelaskan.

Memang sejak jaman dahulu kita selalu diajarkan agar tidak mementingkan diri sendiri karena jika demikian kita dianggap egois, selfish! Kita selalu dingatkan untuk tidak menempatkan diri sendiri sebagai yang utama karena itu tidak baik. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa pada kenyataannya jika kita menempatkan diri sendiri lebih dahulu, maka kita akan jauh lebih mampu berbagi dengan orang lain? Contoh sederhana: di pesawat terbang! Ketika akan mulai terbang, pramugari selalu mengingatkan ketika dalam keadaan darurat dan alat oksigen turun dari atas kepala kita, maka kita harus mengenakan itu pada diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain. Ingat? Nah prinsipnya sama. Jika kita sudah siap dengan diri sendiri maka kita akan lebih mudah melayani orang lain! Jadi benar bukan bahwa kita sering melupakan diri sendiri?

"Wah, saya tidak pernah punya waktu untuk diri sendiri! Saya terlalu sibuk. Ngurus anak it sulit, menghabiskan banyak waktu sehingga saya tidak punya waktu untuk merawat diri." Itu kalimat-kalimat yang selalu muncul dalam percakapan ketika kita berbicara tentang diri sendiri. Berapa kali kita mendengar itu? Sering!

Nah, mungkin kini saatnya mengalihkan fokus hidup untuk mengurus diri sendiri lebih dahulu. Jika kita sehat, tubuh kita bugar dan fit, maka kita akan lebih mudah berkarya! Ketika kita melupakan diri sendiri dan fokus pada semua hal dan semua orang diluar diri kita, maka setiap bagian tubuh hingga pikiran kita menderita. Bagaimana kita bisa berkarya dengan maksimal jika demikian?

"Wah saya sibuk seharian, belum sempat makan!"

Saya pikir kalimat di atas merupakan indikasi bahwa kita tidak menghargai diri sendiri. Jika kita sakit karena tidak merawat diri sendiri, apakah kita akan mampu berkarya? Nah ini adalah pemikiran, refleksi saya yang ke-4. Saya seringkali begitu sibuk di tempat kerja hingga lupa bahwa tubuh saya juga butuh istirahat. Teman-teman sering mengingatkan untuk menggunakan jatah sakit saya karena hingga saat ini jumlahnya sudah bertumpuk karena hampir tidak pernah digunakan. "Siapa yang akan menyelesaikan pekerjaan saya?" Itu selalu saya jadikan alasan untuk tidak beristirahat, bahkan kadang-kadang lupa makan. Itu tidak boleh terjadi lagi, sebab akan lebih repot lagi jika suatu waktu saya sakit, malah tugas saya semakin terbengkalai. Pekerjaan tidak akan pernah habis, hari ini selesai besok akan ada lagi dan begitu seterusnya. Jadi harus berimbang, urus diri sendiri lalu saya akan bisa mengurus orang lain bahkan dengan lebih maksimal lagi karena saya cukup istirahat dan saya cukup bugar. Bukan begitu?

photo credit: tracycrossley.com