AES52? Effortless
Andy Sutioso
Thursday May 25 2023, 11:38 AM
AES52? Effortless

Saya menuliskan ini untuk merespon tulisan @yulitjahyadi yang berjudul Konstelasi Bintang. Saya akan mulai dari lima elemen pembentuk alam semesta, bahan-bahan dasar yang dengan berbagai kombinasi dan komposisinya, mewujud jadi segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Ke lima elemen ini adalah air, tanah, udara, api dan enerji. Masih ingat filem Avatar, ya filem Avatar berpijak dari konsep ini. Saya ingin menyoroti satu elemen yang paling tidak kasat mata, enerji. Udara masih bisa kita rasakan - saat udara itu bergerak, kita rasakan sebagai angin  yang menghembus wajah kita, atau sebagai topan yang memorak-porandakan segala sesuatu yang dilewatinya. Yang menggerakan udara itu ya enerji. Tapi enerji itu tidak terlihat. 

Kalau teori BigBang itu betul adanya, apa yang menggerakan - meledakkan segala sesuatunya semata-mata enerji. Enerji yang begitu besar sehingga melontarkan segala sesuatu ke penjuru semesta - yang saat ini belum diketahui sampai mana batasnya, di mana tepiannya... 

Di dalam setiap unsur kehidupan, enerji adalah penggeraknya. Makhluk hidup yang saat tidur, jasmani, pikiran dan emosinya berjeda, enerji kehidupan lah yang mendorongnya untuk terus bernafas dan mendetakkan jantung untuk mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh kita. Di sinilah pentingnya praktik-praktik meditatif - karena saat kita diam dan hening, kita memberikan perhatian khusus terhadap mengalirnya enerji kehidupan melalui setiap sel di dalam tubuh kita. Aliran enerji yang terhubung terutama melalui 7 simpul enerji (cakra) di sepanjang tulang belakang sampai ke ujung ubun-ubun. 

Lalu kenapa praktik-praktik meditatif membutuhkan diri kita untuk rileks, Logika sederhananya, di dalam kondisi tubuh yang rileks, enerji kehidupan mengalir leluasa ke seluruh bagian tubuh kita. Menarik ya. Justru pada saat kita rileks, enerji bisa mengalir lebih bebas. Sama halnya dengan pikiran kita, saat kita merasa aman dan nyaman, ide-ide kreatif muncul lebih mudah dan pembelajaran juga lebih mudah terjadi. 

Kalau diamati, hal ini kan berlawanan dengan apa yang dipercaya dan menjadi mindset manusia di peradaban modern ini. Semua harus bekerja keras, harus all out, harus ngotot... TIdak heran juga bahwa manusia modern jadi juga mudah lelah, sering burn-out dan merasa terus dalam tekanan. 

Belajar dari 3 sesi Human Design, alam semesta ternyata menitipkan jejak enerjinya - dari konstelasi bintang di alam semesta sejak tiga bulan sebelum kita dilahirkan. Kenapa tiga bulan, ini ada penjelasannya tersendiri. Tapi enerji alam semesta tentunya berpengaruh besar pada kedirian kita. Kita lihat sendiri bagaimana laut bisa mengalami pasang surut hanya karena daya tarik bulan yang mengorbit planet bumi. Badan manusia yang 70% adalah air, tentunya juga terdampak besar dari segala perubahan konstelasi yang ada di luar angkasa sana. 

Alam semesta ternyata menitipkan cetak biru dari diri kita masing-masing - yang secara aliran energi juga menentukan bagaimana kita menjalani kehidupan kita. Saat kita menjalani kehidupan kita selaras dengan apa yang dirancangkan oleh semesta oleh kita - sebagaimana Sang Maha Pencipta menghendaki, hidup kita akan lebih rileks - effortless. Jadi di sinilah pentingnya proses pengenalan diri, bagaimana kita bisa betul-betul memahami bagaimana diri kita dilahirkan lewat ayah ibu kita di mana Sang Kuasa telah menitipkan keunikan diri kita masing-masing. Saat kita memahami ini, kita akan bisa menjadi diri sendiri, dan mengarungi kehidupan kita lewat arus kehidupan yang memang semestinya kita lalui. Hidup akan lebih effortless dan tentunya dari sana makna dan kebahagiaan juga akan bisa kita temukan. Salam.  

Photo by Ken Cheung: https://www.pexels.com/photo/a-man-standing-under-a-starry-night-sky-5553737/

yulitjahyadi
@yulitjahyadi   3 years ago
Setuju.. makin mengalir makin effortless.. Indiikator utama ketika jalan yg ditempuh sudah selaras 🙏😁❤ Terima kasih kak Andy