Kemarin adalah kelas ketiga dan yang terakhir dari rangkaian kelas daring tentang Human Design. Semalam, sama seperti dua minggu sebelumnya, aku kembali terbangun tengah malam karena pikiranku yang begitu aktif. Selama tertidur, rupanya pikiranku membawa informasi barunya dan diolah di alam bawah sadarnya, kemudian seperti roti yang dipanggang dalam toaster, dalam kondisi setengah sadar aku menyadari proses pematangannya hingga roti itu terpental keluar sebagai informasi dan kesadaran baru saat aku terjaga penuh. Hal yang selalu terjadi di kisaran pukul 12 malam.
Dini hari tadi kesadarannya begini, keselarasan ternyata bisa dimengerti sebagai sebuah konstelasi bintang-bintang. Jadi saat aku hadir utuh penuh, tubuhku jadi seperti bongkahan kecil berdaya apung yang dengan sendirinya teratur dalam luasnya langit dan segala isinya. Semua benda langit selalu bergerak, begitu pula aku dengan daya apungku terhadap matahari dan segala bongkahan lainnya apapun ukuran dan namanya. Maka ketika aku mengusahakan diriku sesuai kebenaran yang kurasakan dari dalam diriku, aku jadi diriku yang utuh penuh dan kemudahan demi kemudahan lah yang kemudian muncul. Seolah mengundang daya-daya lain untuk saling terhubung dan berpadu dalam jaringan besar kemudahan bagi semuanya, seperti itulah konstelasi bintang-bintang tersusun.
As above so below, maka aku yakini demikianlah itu, bahwa ada hal yang bersifat takdir langit, yang ketika hal itu mulai terpetakan dalam diri dan disadari, langit sendirilah yang akan menavigasi sisanya. Lewat kehadiran pribadi-pribadi lain dalam satu misi dan berkesamaan sebagai sebuah konstelasi.
Maka seperti halnya pergerakan benda langit yang perlahan namun pasti, demikianlah perubahan dalam diriku dalam tatanan luarku. Keselarasan itu bukan seperti peta yang jelas tampak garis-garis jalannya dan bisa dikenali titik-titik singgahnya, namun seperti pergerakan benda langit yang tak tampak jalurnya dan seolah tak beraturan, namun sungguh sangat teratur dan tak bisa mengelak terhadap satu keteraturan yang maha tinggi.
Hebat ya Kak Andy, bisa memilih bintang sebagai simbol diri dan proses belajar lewat perpendaran bintang sebagai konsep utama di Semi Palar.
Menyadari diri sebagai bintang dan keselarasan sejati menjadikan setiap bongkahan pada akhirnya akan memendarkan cahaya pada waktunya ketika kesejajaran terhadap matahari dan mata penangkapnya terjadi. Menemukan konstelasi adalah perjalanan pengenalan kebermanfaatan diri di antara bintang-bintang lain dalam sebuah misi tertentu di tatanan langit luas.
Maka seperti langit yang tak terjamah, begitu pula dalamnya diri ini yang tak akan pernah bisa selesai tersentuh. Namun dari kepingan-kepingan rasanya, ada kebenaran tak terelakkan yang bisa menghadirkan pengertian yang dalam dan sekaligus luas.
Semoga.
Duh terima kasih banyak atas catatan pendek ini... Hal yang tidak terpikirkan sebelumnya. Betul ajaib juga perjalanan Semi Palar sejak awal - mengambil bintang sebagai simbolisasi manusia seutuhnya. Dikaitkan dengan proses belajar kita di 3 minggu terakhir ini - yang membukakan ruang kesadaran bahwa manusia adalah memang cerminan dari semesta, mikro kosmos yang jadi cerminan dari makro kosmos... Merinding banget merenungkannya. Terima kasih, terima kasih, terima kasih... 🙏🙏🙏😇🌟