AES 128 Rupa-rupa Pura-pura
leoamurist
Saturday October 2 2021, 5:15 AM
AES 128 Rupa-rupa Pura-pura

Pura-pura tidak selalu buruk, juga tidak selalu baik. Pura-pura baiknya tidak dilestarikan, karena ini hanya fase yang perlu dilampaui. Kalau kura-kura, iya perlu dijaga kelestariannya. Penyu juga. Perlu juga.

Pura-pura yang adalah fase yang perlu dilampaui adalah pura-pura yang etis, maksudnya dilakukan berdasarkan etika dan moral. Bukan untuk keuntungan pribadi, seperti pura-pura mengerti biar bisa cepat pulang.

Dari contoh kasus pura-pura itu, sebenarnya bisa dikategorikan di kedua kutub. Pura-pura yang diperlukan di kutub yang satu, dan pura-pura yang tidak diperlukan di kutub lainnya.

Pura-pura yang diperlukan adalah pura-pura yang akan dilampaui. Sedangkan pura-pura yang tidak diperlukan adalah yang berpusat pada kesenangan pribadi saja.

Pura-pura yang diperlukan dari contoh kasus di atas adalah saat terjadi dalam konteks dipalak preman jalanan. Biasanya preman kan banyak ngomong yang intinya minta uang, pura-pura ngerti aja biar bisa lari.

Sedangkan pura-pura yang tidak diperlukan adalah saat terjadi di kelas belajar. Karena ingin cepat pulang, pura-pura mengerti. Eh, besoknya saat mau berkarya tidak tahu apa-apa. Jadi merepotkan banyak orang.

Begitulah kura-kura, eh kira-kira, penjelasan singkat dari dua rupa pura-pura. Yang diperlukan untuk dilampaui diri sendiri dan yang tidak diperlukan yang merepotkan banyak orang. Hmm.. tambah satu rupa lagi deh.

Rupa dari pura-pura yang adalah bentuk proteksi diri. Seperti bunglon yang pura-pura jadi daun. Atau rodent (apa ya istilah bahasa Indonesianya) yang pura-pura mati untuk menyelamatkan diri.

Yang jadi kunci dari proteksi diri adalah melindungi diri agar mampu melanjutkan perkembangan dirinya. Bukan untuk melanjutkan kesenangan malas-malasan saat ini saja. Itu sih isolasi, bukan proteksi.

You May Also Like