Hari ini cukup banyak waktu dengan Fajrin untuk deep talk. Kami biasa ngobrol berdua dimobil saat tidak bersama anak-anak, selebihnya ya fokus dengan pekerjaan masing-masing atau ada anak-anak yang otomatis jadi prioritas perhatian kami berdua. Diskusi kali ini kami membahas
“Kenapa ya kok ada orang yang suka sekali mengeluh, oversharing, sepertinya beban mereka berat sekali”
Jadi ingat saat masih praktik, hampir setiap hari bertemu macam-macam pasien tapi yang akan dibahas bukan hal medisnya tapi bagaimana cara mereka konsultasi. Dari beragam pasien kira-kira seperti ini.
Tipe pertama: bicara terus sampai tidak bisa diinterupsi, biasanya aku biarkan bicara sampai selesai lalu kusambung dengan “Pak/Bu ada yang mau diceritakan lagi?” Lalu mereka akan menyambung lagi cerita awal atau cerita hal baru yang tidak berhubungan dengan keluhannya, nah setelah itu biasanya baru bisa komunikasi 2 arah mungkin sudah puas juga ya setelah cerita panjang lebar jadi advice yang diberikan akan diterima kalau tidak ya jadi berdebat atau menerima tapi wajahnya kurang puas.
Tipe kedua: bicara to the point, bicara seperlunya no ngalor ngidul, nah yang seperti ini biasanya cemas jadi harus hati-hati menanggapinya. Advice detail dan sikap profesional dibutuhkan untuk menanganinya.
Tipe ketiga: ini yang paling unik biasanya keluhannya ringan saja tapi datang untuk bercerita hal lain, cerita dengan antusias, komunikasinya seperti teman lama sampai kadang lupa menceritakan keluhannya kenapa datang berobat. Menarik ya. Seperti dapat teman baru yang sedang berkunjung bisa ngobrol lebih santai tapi tetap tidak melewati batas profesionalisme pastinya hahaha. Begitulah caraku menanggapi pasien, semua berbeda, harus jeli melihat situasi dan tipe mereka karena salah-salah respon yang akan diterima bisa berbeda. Plis jangan salty dengan caraku berkomunikasi dengan pasien hahaha..
Tipe 1 dan 3 ini yang biasanya membuat telepon berdering. Mengingatkan untuk mempercepat konsul karena masih ada pasien lain menunggu. Tapi mereka yang datang tujuannya pasti untuk sembuh. Pakai obat atau tidak doesn’t matters. Setidaknya menceritakan keluh kesah pasti membuat mereka sudah lebih lega.
Memang begitulah manusia suka sambat. Ada yang suka sambat lewat tulisan ada yang suka bercerita. Kebetulan saja yang suka bercerita ini bertemu kita yang menurut mereka pas untuk diajak sambat. Orang yang sehari-hari dirumah setiap hari disibukkan dengan urusan anak dan segala urusan rumah tangga, cerita sama siapa? Yang bekerja setiap hari disibukkan dengan karier dan segala urusan pekerjaan, cerita sama siapa? Mereka hanya ingin didengarkan bukan meminta kita mencari solusi apalagi jadi ajang adu nasib. Dengarkan saja, respon sesuai keinginannya. Ya namanya juga manusia kadang terpancing untuk ikut bercerita padahal si sambat lebih butuh didengar kisahnya, malah jadi kehilangan momen. Bersabar sedikit setelah kisahnya usai pasti dia mau bergantian mendengarkan cerita kita. Hitung-hitung melatih skill listening dapat bonus belajar dari pengalaman mereka.
Mendengarkan dengan perhatian penuh dan berempati sudah cukup untuk “merasa didengarkan”.