Akhir-akhir ini saya banyak menyaksikan berbagai berita sehubungan dengan peristiwa-peritiwa mengenai berbagai kebijakan pemerintah dalam hal-hal tertentu yang berdampak pada masyarakat. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Amerika. Terus terang saya tetap concern dengan berbagai peristiwa politik di Amerika semata-mata karena anak saya berdomisili di sana. Sebagai orang tua, tentunya saya patut mengikuti berbagai perkembangan di sana.
Di Indonesia yang sedang ramai adalah supply gas 3kg. Saya lihat banyak kekisruhan yang tercipta karena, saya pikir, penetapan kebijakan itu tidak disertai dengan kesiapan di lapangan. Menurut saya seharusnya sebelum kebijakan itu diterapkan, sebaiknya di lapangan disiapkan terlebih dahulu. Banyak teman-teman saya yang menggunakan gas 3kg yang kelabakan karena di pengecer keberdaannya sangat langka. "Harus ke pangkalan," Katanya. Sementara diberitakan bahwa antrian di pangkalan begitu panjang. Itu kasus di tanah air.
Bagaimana di negara Kano sekarang berdomisili? Amerika sedang perang tarif dengan Canada, Mexico, dan China. Amerika yang seharusnya mulai hari ini, namun akhirnya ditunda selama 30 hari karena mendapat reaksi "setimpal" dari negara2 tetangga, menetapkan tarif untuk barang masuk sebesar 25% untuk Canada dan Mexico, sementara China dikenakan tarf 10%. Saya membayangkan harga-harga barang yang didatangkan dari negara-negara itu akan naik. Contoh sederhana, sayuran dan buah-buahan seperti misalnya alpukat datang dari Mexico, harga-harga kebutuhan di masyarakat akan naik, karena tentu saja pengimpor barang-barang kebutuhan tersebut akan membebankan pada konsumen. Bahan bakar di Amerika juga sebagian datang dari Canada. Katanya untuk bahan bakar hanya dikenakan tarif 10%. Waktu dulu saya di Fort Collin, bahan bakar sudah di atas $3 per gallon, banyangkan jika naik 10%. Nah lebih parah lagi, pemerintah juga memutuskan untuk tidak menaikkan upah minimum, jadi saya bisa membayangkan masyarakat akan dibebani biaya kebutuhan sehari-hari yang lebih tinggi antara 10 hingga 25 persen sementara penghasilan tidak berubah. Ini tentunya mengkhawatirkan.
Saya bukan ahli ekonomi, tapi lebih sebagai anggota masyarakat yang menjadi konsumen. Kalau harga naik, logikanya inflasi akan terjadi, dan jika inflasi tinggi sementara penghasilan sama, maka daya beli masyarakat juga semakin melemah. Itu logika saya. Mudah-mudahan betul sebab jika menggunakan perhitungan matematika sederhana harusnya begitu. Nah wajar saja kalau masyarakat mulai mengeluh.
Di Indonesia sih lebih sederhana, karena bicara soal gas 3kg, keluhan terdengar jelas tanpa ada bumbu politik yang kuat (mungkin ada, tapi tidak seseru di Amerika) Nah, di Amerika beda lagi. Kebijakan yang diambil pemerintah sekarang yang dikuasai oleh partai Republik, diskusinya menjadi sangat politis. Bagi saya yang tidak mengafiliasikan diri ke partai politik, perseteruan antara 2 pendukung menjadi sangat lucu. Saya melihatnya menjadi seperti dagelan yang seringkali membuat saya garuk-garuk kepala.
Ini pendapat sekilas dan tidak didukung fakta empiris. Saya hanya mengambil kesimpulan dari "diskusi" mereka. Pendukung partai merah. yaitu Republikan, yang sedang berkuasa, didominasi masyarakat dari daerah-daerah tertentu, mayoritas di daerah Selatan dan tengah, biasanya petani, kelompok tradisional, konservatif, dan rata-rata sangat agamis. Mereka kebanyakan kelompok pekerja dari kelas sosial menengah dan menengah ke bawah. Tingkat pendidikan mereka juga banyak (tentunya tidak semua) yang ala kadarnya. Toh mereka akan bertani dan beternak, jadi banyak yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, kalau melihat data statistik, voter yang tidak memiliki gelar sarjana di kelompok Republican, lebih dari 54% bahkan untuk usia dibawah 20 taun antara 57 hingga 63% (wajar karena itu usia SMA). Data itu akurat tapi saya cukup melihat bagaimana mereka mengekspresikan diri dalam tulisan-tulisan yang mereka buat dalam diskusi.
Literasi yang rendah menjadi ciri utama yang bisa digunakan untuk melihat tingkat pendidikan dan pengetahuan seseorang. Orang yang memiliki literasi baik, terlihat dari cara bagaimana mereka mengekspresikan diri dalam bentuk tulisan. Runtut, logis dan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Sementara kalangan dengan kemampuan literasi rendah juga dapat kita lihat dari tulisan mereka. Orang Amerika dari kalangan literasi rendah sangat sering menggunakan tanda baca, spelling serta yang paling sering terjadi penggunaan prounouns atau kata ganti yang salah. Seperti misalnya mereka sering salah dalam menggunakan kata you're (you are) dengan kata ganti your. Belum lagi jika dalam diskusi itu menjadi emosional dan mengarah ke perundungan terhadap lawan debatnya daripada tetap fokus ke topik diskusi. Dari situ saja saya sudah dapat menebak mereka dari kelas sosial mana. Kalau sudah mulai urusan perundungan atau bully, biasanya saya pindah karena sudah tidak tertarik lagi dengan dagelan semacam ini. Yang seringkali tadinya lucu melihat mereka berdebat, menjadi garuk-garuk kepala. Ya begitulah!
Foto credit; Pinterest