
Hari Senin yang penuh dengan kesibukan! Kampus penuh dengan mahasiswa baru yang akan masuk asrama dan keluarga yang mengantar sejak tadi pagi. Kaos hijau dangdut Gede Bage bersliweran di mana-mana. Diperkirakan sepanjang hari ini akan ada 2000 mahasiswa baru masuk, 2000 lagi besok dan sisanya akan datang hari rabu nanti.
Ketika tiba di kantor saya diberitahu bahwa salah satu rekan yang bekerja di dining center berhalangan hadir, jadi saya harus menggantikannya, alhasil saya harus mengurus 5 tempat! 2 Dining centers dan 3 production centers. Sibuk! Telepon hampir tidak berhenti berbunyi sementara jari-jari saya dipaksa untuk ngebut di keyboard untuk mengerjakan banyak tugas. Waktu terus bergerak, kemudian baru sadar bahwa saya hanya punya 12 menit untuk menyelesaikan atomic essay saya. Baru mulai menulis, Executif Chef datang ke meja saya dan minta tolong untuk mengedit menu. Essay saya gagal total! Hari ini terpaksa harus bolong!12 menit itu tidak dapat saya manfaatkan dengan baik karena ternyata kesibukan tidak pernah berhenti bahkan saat makan siang pun saya masih harus mengerjakan banyak hal.
Dan seperti yang saya khawatirkan, urusan masker menimbulkan masalah. Universitas mewajibkan setiap orang yang berada dalam ruangan memakai masker. Ada sekelompok mahasiswa, altlet pemain football, yang menolak. Lalu ada keributan antara mahasiswa ini dengan mahasiswa yang bekerja di dining center. Banyak atlet yang diterima sebagai mahasiswa karena prestasi mereka di bidang olah raga, saya tidak bermaksud mengeneralisir karena tidak semua demikian, tapi ada memang yang menjadi besar kepala, merasa penting dan sebagai mahasiswa "istimewa" karena sekolahnya gratis dan juga karena merasa terkenal, lalu jadi agak congkak. Pemain football di Amerika memang sering dianggap istimewa karena football adalah salah satu olahraga yang paling digemari selain bola basket. Bisnis football itu bisnis trilyunan, bahkan universitas di sini membangun stadion khusus yang sangat mewah dan megah karena penghasilan dari olah raga ini sangat luar biasa. Olahraga memang menjadi ladang bisnis, memang hanya beberapa jenis saja seperti football, baseball dan basketball yang paling menonjol. Para mahasiswa yang berprestasi memiliki kemungkinan di-drafted oleh NFL, NBA dan MLB. Jika mereka berhasil masuk, maka otomatis gaji mereka luar biasa, jutaan dollar per tahun! Cukup bermain beberapa tahun dan dia akan bisa pensiun!
Ya, di Amerika olahraga dimulai sejak anak masih kecil. Jangan heran jika di musim panas banyak sekali camp di bidang olahraga. Lapangan-lapangan akan penuh dengan anak-anak yang menekuni bidang olah raga kegemaran mereka. Sistem komptetisi dimulai sejak dini sejak SD sudah ada pertandingan-pertandingan rutin, lalu tingkat SMP dan SMA. Bibit-bibit unggul akan direkrut oleh universitas-universitas dengan imbalan pendidikan gratis. Semakin hebat semakin diperebutkan oleh universitas bergengsi, dan jika bermain untuk universitas bergengsi serta menonjol, maka akan mudah masuk klab olahraga profesional. Jadi jangan heran semua pemain olah raga profesional di Amerika rata-rata adalah sarjana karena mereka semua direkrut dari Universitas. Memang ada yang memutuskan untuk tidak menyelesaikan karena keburu di-drafted, tapi mayoritas semua sudah lulus S1! Nah mungkin Indonesia bisa meniru sistem semacam ini agar bisa bersaing di kancah internasional. Penduduk Indonesia jumlahnya tidak kalah kok dengan Amerika. Kalau Jepang yang jumlah penduduknya sepersekian persen jumlah penduduk di Indonesia, kenapa tidak bisa menemukan? tentu kemungkinan salahnya ya ada di sistem! Lalu kalau dibilang soal pembiayaan, terus terang kalau saya perhatikan perlombaan-perlombaan yang ada di tingkat SD, SMP dan SMA, tidak memperebutkan hadiah apa-apa, tidak ada panitia-panitiaan, tapi jadi program pendidikan di distrik yang bersangkutan. Tidak ada itu spanduk, trophy dan lain-lain. Yang ada anak-anak dari berbagai sekolah berkumpul lalu berlomba, dan pulang begitu selesai! Jadi hampir tidak ada biaya! Ya, memang fasilitas olahraga ada di mana-mana di sini dan sangat luas, itu yang mungkin agak sulit kalau di Indonesia. Hampir semua sekolah di sini punya lapangan yang amat sangat luas, di Indonesia sarana bisa jadi merupakan salah satu kendalanya.
Waduh, dari mau biacara 12 menit, malah jadi ngobrol soal olahraga dan kompetisi.. saatnya saya sudahi dulu sebelum melenceng terlalu jauh hehehehe***
Aha, ini dia kaos ijo dangdutnya terrekam kamera... Terima kasih ceritanya Jo...
Oh iya tentang posting gambar - kalau sudah diinputkan jadi Blog List Image, gambar ga usah diinsert lagi ke badan tulisan Jo... jadinya nanti munculnya dobel. Tapi konsekuensinya memang gambar itu dicrop sama sistem, jadi ga bisa muncul sepenuhnya. 🙏🏼
Saya juga berpikir demikian, nanti perlahan2 akan saya update gambar2nya, thkas buat tipsnya, kak 🙏