Waktu adalah blablabla, ruang adalah blublublu, ruang waktu adalah blebleble. Katanya. Biasanya. Harusnya.
Kalau kita bilang waktu adalah ruang, sekaligus ruang adalah waktu. Apakah:
Kita masih melihat kuantitas dari durasi, dengan membilang bahwa yang hebat yang bisa mencapai sesuatu dengan lebih singkat? Seperti komentar di bawah kesadaran kita, "Keren ya, bisa menyelesaikan bacaan seribu halaman dalam waktu dua hari saja." "Keren ya, bisa membuatnya dalam waktu sehari saja."
Kalau kita sebut waktu adalah ruang, sekaligus ruang adalah waktu. Apakah:
Kita masih melihat kualitas dari sisi titik ukur, dengan menyebut kalau yang baik adalah yang ada pada titik tertentu ketika kita ada di titik tertentu itu juga? Seperti celetukan di bawah kesadaran kita, "Bagus, datang tepat waktu sesuai aturan." "Bagus, pulang di waktu yang tepat sesuai aturan."
Kalau kita sebut waktu adalah ruang, sekaligus ruang adalah waktu. Apakah:
Kita bisa lepas dari keseharusnyaan waktu: waktu yang seharusnya? Yang membuat kita berhenti melihat kehadiran orang lain dari angka di jam tangan, jam dinding, jam digital. Yang membuat kita berhenti melihat keberadaan orang lain dari hitung-hitungan tarikan garis masa lalu yang diulang ke masa depan.
Perlu dicoba: tidak lagi memberi waktu, yang menuntut pemenuhan di angka yang tepat.
Perlu dicoba: mulai memberi ruang, yang menerima kepenuhan dengan kepantasan dan kelayakannya.
Lagipula, bukankah waktu itu soal kepantasan (sesuai) dan kelayakan (wajar). Bukannya soal angka 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 dan kombinasinya. Iya bukan? (sambil lihat jam tangan )