Seperti biasa di pagi hari saya menyiapkan sanctuary (hahaha), tempat yang saya merasa aman dan nyaman. Meja besar yang konon dibuat di Jepara (yang sangat saya sangsikan hahaha), yang entah sudah berpindah berapa kali di dalam rumah karena sekarang hampir di setiap sudut sedang digarap oleh para pekerja. Seluruh rumah berdebu, itu sudah pasti. Saya mulai lelah dan terganggu karena setiap kali kaki saya sedikit basah, langsung ada noda hitam dari debu yang bercampur air. Sudah tidak sabar ingin semuanya selesai.
Eniwei, saya menyiapkan meja agar menjadi nyaman untuk duduk dan bekerja. Saya sudah menyiapkan teh satu poci, sebagian bahkan dibawa Nina ke kantor dengan tumblernya. Segelas kopi instan, ada kue-kue sisa kemarin yang bisa saya manfaatkan untuk sarapan, laptop dan mulai mendengarkan musik sebelum para pekerja tiba.
Sebuah musik tahun 80-an mengalun, serentak saya dibawa kembali ke masa itu. "Kok bisa otomatis begitu ya?" Tanya saya dalam hati. "Apakah dengan berambahnya umur, manusia menjadi semakin nostalgik?" Ini pertanyaan yang membuat saya begitu ingin tahu sehingga mulai mencari di mesin pencari di internet.
Saya masuk ke Quora, semacam situs yang banyak dijadikan tempat berdiskusi banyak orang dari seluruh penjuru dunia. Ada yang membahas secara ilmiah ada yang hanya bercerita. Buat saya, saat ini terlalu pagi untuk memilikirkan sesuatu yang njlimet, otak saya baru bangun dari istirahat, biarkan dia menyesuaikan diri dengan hari baru.
Mungkin tidak semua orang seperti saya yang sering melamun dan bernostalgia secara otomatis ketika ter-trigger sesuatu. Mungkin saya terlalu banyak waktu luang, waktu senggang, sehingga memperoleh banyak kemungkinan untuk membiarkan pikiran saya melayang-layang kemana-mana. Oh saya tidak mengeluh kok, justru asyik karena saya bisa bermain-main dengan "waktu" dan "tempat" walau secara fisik saya hanya duduk di sebuah meja dan minum kopi panas.
Kemarin saya iseng membereskan Google sheet AES. Banyak essay saya yang tautannya belum diperbaiki, bahkan masih ada beberapa yang tersambung ke Ning, tempat lama yang sudah tidak ada lagi. Tanpa disadari, saya berada di berbagai tempat dan waktu yang lain ketika membaca kembali satu demi satu. Saya ingat setiap peristiwa yang saya alami ketika menulis esai-esai itu. Entah berapa jam saya habiskan. Saya membaca setidak-tidaknya 2 tulisan tentang saat saya kehilangan 2 orang teman baik. Satu adalah teman SMA dimana dulu hampir setiap hari kami pulang sekolah bersama, berjalan kaki di tanggul sungai dan naik perahu menyeberang, dan hampir setiap hari kami dikejar anjing karena di tanggul itu ada "penunggu"-nya, seekor anjing yang mungkin mengira kami makanan sebab kami berdua kurus kering penuh tulang belulang hahaha, dan satu lagi adalah rekan orang tua di Smipa. Saya juga membaca tulisan ketika saya masak makanan Cajun, dan sebagainya. Kemarin adalah hari yang menyenangkan karena saya dapat "bertamasya" kemana-mana.
Saya juga beberapa hari lalu menyampaikan komentar di tulisan mbak @sanya yang bercerita tentang Sei yang memijat untuk menambah tabungannya. Serentak saya ingat Kano karena itu saya sampaikan untuk mencatat semuanya dan menikmati masa-masa yang indah itu. Masa-masa itu tidak akan kembali lagi, yang tersisa adalah nostalgia, dan akan lebih mudah bernostalgia jika peristiwa itu tercatat dalam berbagai tulisan seperti yang saya telah dan masih lakukan hingga sekarang.
Saya dapat memastikan bahwa masa lalu saya lebih panjang dari masa depan. Itu sudah pasti walau saya sungguh tidak mau mendahului Tuhan, tapi kemungkinan besar saya tidak akan mencapai usia seabad, dan saya juga tidak mau karena dalam usia itu pasti membutuhkan banyak bantuan orang lain, dan itu saya tidak sukai. Nah, dengan alasan itu, sangat wajar jika saya lebih berkontemplasi ke masa lalu daripada masa depan.
Yang saya lakukan saat ini memang untuk masa depan. Itu saya akui. Misalnya alasan memperbaiki rumah adalah demi kenyamanan yang akan dapat saya rasakan bertahun-tahun ke depan. Istilah saya, hidup itu hanya sekali (atau mati itu hanya sekali), saya harus bisa bersyukur dengan cara menikmatinya selagi mampu. Untuk dapat menikmati tentunya saya juga perlu membuatnya sebaik yang saya mampu agar nantinya memungkinkan saya untuk menikmatinya. Dalam prosesnya saya tidak pernah berhenti bersyukur, count my blessings, itu juga salah satu bentuk kontemplasi.
What can I do? I am a sucker for nostalgia! I can't help it! Ya, itulah saya yang senang melamun. Yang saya lamunkan segala macam, melamunkan saat ini sebagai hasil dari usaha saya di masa lampau. Melamunkan masa depan yang sedang saya bangun saat ini, dan terlebih melamunkan masa lalu karena masa lalu yang saya sudah lewati ini tentunya sudah lumayan panjang.
foto credit: nytimes.com
Wah jadi semangat menulis nih, catatan2 begini pasti indah saat dibaca kembali dilain waktu😄
Lovely...