AES011 Kelas Tanpa Guru
braja
Monday September 16 2024, 11:14 AM
AES011 Kelas Tanpa Guru

Dilansir dari Sky News telah hadir sekolah dimana guru sepenuhnya digantikan oleh kecerdasan buatan di Inggris. David Game College, sebuah sekolah swasta di London, membuka kelas tanpa guru pertamanya untuk 20 siswa GCSE (setara SMA) di bulan September. Premis utamanya adalah, seorang guru di kelas pasti penah melakukan kesalahan, dan tidak akan pernah bisa sepenuhnya melakukan pendekatan personal. Karena guru pasti harus bertanggung jawab kepada seluruh anak di kelas. Sehingga jika ada satu anak yang mengalami kesulitan belajar, maka kecerdasan buatan akan mampu mengatasi hal tersebut dengan lebih baik. Belum lagi dengan kecerdasan buatan maka anak akan memiliki guru yang siap hadir 24 jam tidak hanya saat di kelas tetapi kapanpun ia dibutuhkan.

Saya kira ide tersebut tidak sepenuhnya salah. Saya sendiri saat ini ketika ingin belajar tentang satu bahasa pemrograman misalkan, maka tools kecerdasan buatan seperti Chatgpt sangat membantu dalam memahami konsep-konsep yang sedang saya pelajari. 

Bahkan para guru pun saat ini teramati mulai memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu dalam penyusunan media pembelajaran. Seperti lesson plan, latihan soal, presentasi dan sebagainya. Bahkan kini terdapat tools untuk membantu melakukan penilaian dan asesmen terhadap hasil karya siswa. Saya sendiri mengamati mulai terjadi perubahan penggunaan internet di anak-anak. Jika dulu anak-anak melakukan riset dan mencari jawaban melalui mesin pencarian seperti Google, sekarang anak-anak langsung bertanya kepada AI Chatbot, seperti chatgpt, gemini, atau copilot. 

Berbeda dengan mesin pencarian seperti Google, yang mana setelah melakukan pencarian anak harus memindai dan mengklik sumber kemudian setelah itu membaca dan mencari dalam artikel apakah relevan dengan pertanyaan awal, maka dengan AI Chatbot, anak-anak tidak hanya dapat menemukan jawaban secara langsung tetapi AI dapat dengan presisi memberikan respon serta sumber referensi yang relevan. Meskipun masih ada terjadi AI berhalusinasi (jawabannya mengada-ada), tetapi seiring waktu kemampuan AI akan terus meningkat. 

Kemampuan AI dalam melakukan kustomasi dan personalisasi membuat AI akan dapat menemukan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh siswa dengan lebih baik. Tetapi bagaimana dampak jangka panjang dari penggunaan AI tersebut?

Penelitian yang komprehensif tentu perlu dilakukan. Karena anak-anak adalah masa depan kita, tidak bisa dibayangkan apa jadinya jika life skill anak-anak hilang akibat dari ketergantungan mereka terhadap AI. 

Bagi saya pribadi, AI adalah tools yang bisa membantu meningkatkan produktivitas. Kita bisa dengan cepat membuat rangkuman dari buku atau video, lalu mengaturkan jadwal, hingga membantu mencarikan resep. Sudah saatnya kita duduk bersama dan membahas bagaimana penggunaan teknologi ini di dunia pendidikan. Karena saya yakin tidak akan lama lagi, kita akan banyak menemukan karya ilmiah yang ditulis bukan oleh mahasiswa tetapi mahamesin.