Selametan Smipa selama ini jadi kegiatan pembuka yang penting. Penting untuk membangun semangat bersama, perasaan kebersamaan karena berbagai proses di Semi Palar bisa digulirkan dengan baik kalau spirit ini digenggam bersama-sama.
Selametan sebagai ritus masyarakat tradisi Indonesia juga punya makna spiritual karena selametan pada esensinya yang terdalam adalah minta ijin, kulo nuwun dan mohon restu dari Sang Kuasa atas proses panjang yang akan dijalani. Sebuah pengakuan bahwa apa yang akan dijalani manusia (Buana Alit) adalah sangat terkait, terkoneksi dengan Sang Buana Ageng. Manusia dan Tuhan, Mikro kosmos dan makro kosmos.
Dua tahun di dalam masa pandemi (2021 dan 2022) lalu setahun setelahnya, ritus ini terpaksa hilang dari rangkaian kegiatan di Rumah Belajar Semi Palar. Dan seperti banyak hal lainnya, sering kali kita baru kita rasakan nilai keberadaannya saat hal tersebut hilang dari dinamika sebelumnya. Meyakini bahwa tidak ada peristiwa kebetulan, hal ini juga terjadi karena sebuah alasan, dan mudah-mudahan kesadaran kita semua tentang pentingnya spirit / semangat di dalam perjalanan kehidupan Rumah Belajar Semi Palar mendapatkan konteksnya kembali. Kesadaran ini mudah-mudahan menjadi sesuatu pembeda bagi Selametan Semi Palar di TP yang ke 20 ini.
Paska Taki-taki. saat merencanakan Selametan salah satu, usulan dari kak Robert adalah bagaimana kita membuat Selametan kali ini jadi sesuatu yang lebih sederhana. Sebetulnya kesederhanaan adalah nilai yang selalu berusaha kita bawa di dalam berbagai kegiatan di Semi Palar. Hanya saja dalam konteks Selametan, yang jadi kendala besar adalah bahwa lokasi yang dipilih harus bisa menampung aktivitas kita bersama sejumlah 350 lebih warga Semi Palar. Ini baru peserta, belum parkir kendaraan lalu juga ruang kegiatan yang perlu bisa memfasilitasi berbagai kegiatan kita bersama - mulai dari dinamika kebersamaan, prosesi selametan, dan makan bersama sebagai ungkapan syukur atas kebersamaan kita. Yang jadi tantangan adalah bagaimana kegiatan selametan yang dirancang bisa melibatkan semua yang hadir, mulai dari teman-teman kecil jenjang KB, kakak dan orangtua di berbagai jenjang. Lebih jauh lagi kegiatan bukan hanya seru-seruan belaka, tapi bisa menyampaikan pesan tertentu agar ada sesuatu yang dibawa pulang dari kegiatan bersama ini.
Akhirnya muncul gagasan untuk mencoba menyelenggarakan Selametan di sekolah, di rumah kita belajar sehari-hari. Saat segala sesuatu dirangkai, ini memang jadi sangat menarik - tapi juga menantang untuk menjadikannya momen yang tetap berkesan saat kegiatan kali ini dilaksanakan di tempat yang menjadi lokasi kegiatan kita sehari-hari.