AES3 Hilang Hiling Hilang Hiling
fauzianastiti
Wednesday March 9 2022, 11:21 PM
AES3 Hilang Hiling Hilang Hiling

Jadi, saya lagi sering setel video atau podcastnya stand up comedian untuk jadi teman beberes rumah. Lalu ada salah satu stand up comedian yang sedang sering buat konten tentang fenomena anak-anak jaksel dan anak-anak muda yang sering mengumandangkan mental illness dan self healing. Ternyata di Tiktok atau di twitter ada banyak anak muda, kebanyakan generasi Z, yang sering mengeluh tentang kuliah dan pekerjaan mereka. Namanya algoritma, ya. Nonton satu video tentang satu topik, langsung berderet video lain yang topiknya sama. Dan ternyata memang sebanyak itu yang mengeluh dan memang sebanyak itu yang membahasnya. Katanya salah satu cuitan yang paling viral adalah ada anak muda yang ingin cuti 6 bulan karena depresi dengan kuliahnya. (Hahahha saya aja 2 minggu liburan kadang suka mati kutu ga tau mau ngapain. Niat produktif ujung-ujungnya nonton drama korea lagi. Baru panik begitu liburan sudah mau selesai. Hahahaha.)

Kalau saya lihat ada banyak respon menanggapi hal ini. Kalau dari si stand up comediannya, Oza Rangkuti, ia meresponnya dengan dijadikan bahan komedi, yang kalau dilihat dari nama judul channelnya sih seperti dia kesal ya ke anak-anak itu. Oza juga cerita katanya konten yang ia buat juga diberi respon beragam, mulai dari ikut ngata-ngatain (yang sebetulnya kalau kata Oza juga dia nggak bermaksud ngata-ngatain orang yang terkena mental health) sampai marah-marah ke Oza karena ya merasa diserang.

Selain Oza, ada pengamat lain yang videonya sudah saya tonton juga, yaitu video Pak Rhenald Kasali dan video dari channel Satu Persen. Pak Rhenald Kasali bahkan menamai generasi ini Strawberry Generation. Bukunya juga sudah dibuat. Kalau channel Satu Persen, selain juga mengutip buku Rhenald Kasali, berhubung mereka punya latar belakang psikologi, ikut membahasnya dari sisi psikologi. Bahasannya seperti apa bisa ditonton di video mereka, ya.

https://youtu.be/jN_1zycaTNM Video Rhenald Kasali

https://youtu.be/m2uBaqIAS1M Video Satu Persen

Kalau saya pribadi, waktu dengar tentang fenomena ini, saya jadi ingat pengalaman pribadi saya sendiri. Waktu saya umur 23 tahun, baru lulus kuliah, rasanya gamang banget. Yang biasanya serba pasti jadi tiba-tiba tidak pasti. Lulus kuliah mau ngapain? Mau kerja apa? Belum lagi karena memang ada tekanan ekonomi keluarga juga. Ibarat masalah diri aja belum selesai, tapi harus ikut menyelesaikan masalah orang lain juga. Kalau dulu buat saya, kayaknya masalah itu hanya saya saja yang hadapi, tapi kalau sekarang saya jadi sadar ternyata itu masalah hampir semua orang. 

Sama seperti masalah anak-anak muda ini. Banyak yang melabeli anak-anak muda tersebut sebagai generasi yang lemah dan egois. Tapi kalau kita mau lihat cakupan yang lebih luas, sepertinya sih, ada fenomena lain yang ikut mempengaruhi anak-anak ini. Satu, dari segi mental, memang di umur-umur itu belum bisa dianggap dewasa. Jadi wajar kalau beberapa pemikiran dan pilihannya belum bijaksana. Sialnya lagi yang ada di depan mata adalah media sosial, yang seolah bisa jadi tempat curhatnya. (Padahal media sosial juga isinya orang-orang yang mungkin lebih stress dari dia) 

Dua. Kalau dipikir-pikir lagi, mengapa mereka memilih media sosial sebagai media curhat, mungkin karena koneksi itu yang mereka butuhkan. Mereka curhat, lalu ada yang merespon, perasaan merasa ditanggapi itu jadi bisa didapat. Tapi kalau responnya negatif? Respon negatif juga tetap bisa dianggap respon sih. Untuk beberapa orang mungkin justru akan jadi kapok untuk curhat di sosmed. Tapi untuk beberapa lagi, justru jadi bahan bakar. Me against the world! Nah, perasaan terkoneksi ini yang mungkin agak hilang perlahan-lahan di anak-anak muda. Mulai dari lingkaran dalam mereka yaitu keluarga. Sepertinya sekarang kedua orangtua bekerja. Kalau pun yang satu ibu atau bapak rumah tangga, biasanya akan disambi dengan cari uang dari rumah, misalnya jualan di online shop. Atauuuuu.. tidak bekerja sih, tapi terlalu sibuk dengan gawainya. Jadi karena ada koneksi yang longgar antara orangtua dan anak, anak mencari pemenuhan di luar. 

Tiga. Selain koneksi, anak-anak juga sebetulnya butuh diajak untuk mengelola emosi dan menyelesaikan masalah sejak dini. Kemungkinan besar anak-anak yang mengeluh di twitter ini tidak mendapat paparan tentang dua hal tersebut sehingga saat mereka menghadapi masalah di masa transisi hidupnya, mereka tidak tahu cara menghadapinya dengan tepat. Kalau saya sedang merasa seperti ini, cara untuk mengatasinya ada apa saja ya? Cuti 6 bulan mungkin salah satunya, kalau kita tidak punya tanggungan. Liburan ke Bali juga, tapi kalau Bapak kita Sultan. Jadi apa nih cara termudah dan termurahnya?

Untuk self healing, ada yang namanya breathwork, TAT, fingerhold, dan masih banyak lagi. Kalau memang harus cerita ke orang lain supaya ada yang bantu mengurai masalah di kepala, bisa ke psikolog atau mentor. Kalau terkendala di biaya, sekarang banyak layanan konsultasi yang murah bahkan gratis. Channel Satu Persen itu juga ada jasa mentor dan psikolognya. Harganya juga cukup terjangkau. Kalau mau lebih murah lagi dan butuh cerita, bisa cerita di diary atau direkam, yang kalau dibaca atau didengarkan lagi sebetulnya hampir sebagian masalah kita terpecahkan, karena kita jadi “terpisah” dari masalah tersebut dan bisa melihatnya secara lebih objektif. Ataauuuu.. kalau mau healing yang lebih produktif, bisa dengan beberes rumah. Apalagi sambil cium bau harum-harum dari molto, so klin pembersih lantai, atau sunlight. Olahraga juga membantu banget kok. Bahkan dengan menggoyang-goyangkan badan aja itu juga bisa untuk stress release. 

Sebetulnya bahkan untuk cakupan yang lebih luas, seperti sistem pendidikan dan perekomian, juga ikut andil jadi penyebab munculnya fenomena anak-anak butuh healing ini sih. Mudah-mudahan, karena ada fenomena ini, orang-orang tidak hanya melabeli anak-anak ini dengan negatif tapi juga jadi sadar bahwa ini bisa jadi sinyal minta tolong dari mereka, loh. 

You May Also Like