Seperti biasa kembali lagi pada sesi bercerita 20.000 kata sehari bersama Sei. Hari ini temanya tentang kelakuan teman-temannya. Setelah panjang lebar menceritakan kegiatannya mulai dari mengejar mobil karena topinya ketinggalan, jalan-jalan di sekitar sekolah, main bersama teman, dan banyak lagi kemudian dia bertanya.
”Bu aku ga suka sama dia suka ngulang-ngulang omongan aku, nyebelin banget!”
”Hah? Gimana coba peragain”
“Nih kaya gini bu kalau aku ngomong “Aku ga suka” dia bakal bales ngomong “Aku ga suka” tapi mukanya jelek terus dimain-mainin. Aneh banget.”
“Itu namanya cari perhatian, mungkin kalau di rumah dia kesepian Sei”
”Oh iya ibu bener kok tau”
Jadi ingat pernah baca tulisan ini,
Anak yang tangki cintanya penuh dari rumah datang ke sekolah untuk siap belajar sedangkan anak yang tangki cintanya kurang akan datang ke sekolah untuk mengisi kekurangannya di rumah.
Sangat menusuk sih, memang benar begitu hal ini kualami dulu waktu masih bekerja, siklus tidur tidak teratur, tekanan di luar, capek, sampai rumah anak menunggu ingin diperhatikan. Kacau, yang bisa diberikan malah energi negatif bukan kasih sayang seperti yang mereka tunggu.
Keadaan seperti itu tentu kusadari akan berdampak buruk untuk anak-anak, untuk keluarga. Karena belum bisa membagi porsi yang sesuai kuputuskan untuk resign. Membenahi dulu apa yang seharusnya sesuai, sesuai dengan kondisi hangat tumbuhnya anak. Makanya aku selalu kagum dengan ibu yang bekerja dan dapat mengurus anaknya dengan baik, hebat sekali. Akupun belum bisa melakukannya.
Teringat juga sebuah tulisan ini,
Anak yang tidak dicintai orang tuanya tidak akan membenci orang tuanya tetapi mereka akan berhenti mencintai diri mereka sendiri.
Seperti menusuk di tempat yang sudah terluka, kata-kata tersebut benar. Benar-benar sebagai teguran untukku. Mungkin selama ini kita ada disebelah mereka, tapi tidak hadir untuk mereka. Kita mencintai mereka dengan cara kita orang dewasa, bukan cara anak-anak. Mereka harus merasa dicintai. Mencintai mereka perlu ditunjukkan, bukan sekedar perbuatan yang menurut kita itulah bentuk cinta kita untuk mereka. Mereka butuh bukti kongkret, bukan abstrak. Kepekaan mereka belum sampai kesitu.
Tapi sebelum mencintai mereka, belajarlah mencintai diri sendiri dahulu. Isilah tangki cinta untuk diri sendiri, sehingga kita dapat berbagi rasa cinta ini untuk mereka. Jika tangki cinta untuk diri sendiri saja kurang, apa yang bisa kita bagi untuk mereka?
Love yourself first then love others
Wah belum lama saya diskusi dengan kakak² tentang ini. Terima kasih sudah menuliskannya di sini. 🙏🏼🤗
Wah ternyata idenya sama ya kak semoga bermanfaat😄