AES54 Mengisi Tradisi
wulan bubuy
Sunday April 10 2022, 9:48 PM
AES54 Mengisi Tradisi

Ingatan kecilku saat berkumpul bersama keluarga besar di hari lebaran itu memakan sagu (bubuk). Biasanya di meja sudah tersedia sendok untuk mengambil sagu dan tumpukan kertas. Cara yang cukup unik dan bikin ketagihan, kertas di gulung membentuk kerucut dan sagu dimasukkan di dalamnya. Setelah dirasa cukup, bagian atasnya di tutup dengan membuat lipatan agar saling menumpang, lalu bagian bawahnya (yang mengerucut di gunting) dan sagu akan meluncur ke dalam mulut. Satu hal yang jadi masalah, makannya gak boleh sambil ngomong, karena pilihannya kalau gak keselek ya berhamburan kemana-mana.

Tradisi! Iya, sebuah tradisi yang asik dan sampai besar pun jika sagu tersaji (sekarang sudah jarang dibuat) selalu jadi rebutan. Selain sagu, ada makanan khas lainnya yaitu Angen Lada, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia jadi sayur pedas. Tetapi rasanya gak pedas sama sekali. Aku baru tahu bumbu masak bernama daun walang dari makanan ini. Berdaun lebar dan jika di remas memang mengularkan bau seperti walang (belalang).

Memangnya walang baunya gimana? Hm, aku juga gak yakin, hanya saja daun walang ini kegunaannya selain untuk dipakai sebagai bahan masakan (khas banten) juga bermanfaat untuk penambah nafsu makan dan melancarkan peredaran darah. Ha! Pantas aku selalu ingin nambah setiap kali makan angeun lada. Percaya gak? Jangan, karena harus coba dulu rasa masakannya yang terdiri dari usus, babat, daging, timun dan petai si primadona.

Jujur, aku dulu gak pernah tau kalau isinya bermacam-macam seperti itu, terutama jeroan. Baru ku tahu bahan-bahan utamanya setelah bedah resep, itu pun karena beberapa kali (setelah menikah) aku harus absen berkunjung ke rumah Nenek. Jadi ceritanya sebagai ajang balas dendam, gak bisa berkumpul gapapa yang penting terobati rasa kangennya dengan makanan khasnya.

Edisi lebaran kali ini sudah pasti berbeda, bukan lagi masalah pandemi. Hanya saja, Nenek kami baru saja berpulang. Ada kekosongan serupa yang kurasa tepat seperti ketika pertama kali melewati momen lebaran tanpa bapak. Meski tradisinya masih tetap kami jalankan, namun rasanya gak lagi sama. Momen keceriaan masih terasa dengan mengenang hal bahagia dari keberadaan mereka, yang sulit dijelaskan adalah rasa rindu.

Hidup itu cair sekali, mengalirkan banyak kenangan, menyuntikkan kebahagiaan dan selalu ada cara yang ntah untuk menjadikan semuanya serba istimewa.