Seerat-eratnya menggenggam pasir, tetap meluruh melalui celah jemari. Seketat-ketatnya menahan air, tetap mengalir melewati pergelangan tangan.
Seberat-beratnya kaki memijak, tetap terempas angin seperti pohon tumbang. Selentur-lenturnya tubuh meliuk, tetap pecah di titik getasnya.
Serapi-rapinya menyusun rencana, tetap berantakan pada pelaksanaan. Seindah-indahnya merangkai makna, tetap yang ada lah yang paling berguna.
Sesempurna-sempurna bentuk berupa, tetap cacat pada sudut terujungnya. Setajam-tajamnya pisau tetap tumpul pada gagangnya.
Sekeras-kerasnya pemukul, tetap lunak pada telapak tangannya. Setertib-tertibnya berkendara, tetap tertabrak yang tidak tertib berkendara.
“Makhluk kecil kembalilah. Dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu. Kita tidak pernah menanamkan apa-apa, kita tak ‘kan pernah kehilangan apa-apa.”