AES 1001 Berbagi Narasi Kehidupan
joefelus
Monday February 19 2024, 1:31 AM
AES 1001 Berbagi Narasi Kehidupan

"Jo, why do you write stories about your personal life and share them with everybody, even strangers?" Tanya teman saya pada suatu hari.

Memang sudah bukan rahasia lagi, bahkan di antara teman-teman di tempat kerja, mereka semua tahu bahwa saya senang menulis blog setiap hari. Kalau sedang iseng teman-teman di pekerjaan bahkan menggunakan google translate untuk ikut membaca tulisan saya. Walau kalau dilihat bahasa Inggrisnya masih broken dan seringkali tidak tepat dengan yang saya maksud, tapi mereka dapat mengerti apa yang ingin saya katakan.

Akhir-akhir ini memang saya melihat lalu lintas di blog pribadi saya semakin ramai, banyak orang dari berbagai tempat ikut membaca. Saya memang menulisnya dalam bahasa Indonesia, bisa saja sih saya mengubahnya menjadi bahasa Inggris sehingga bisa lebih banyak dibaca oleh orang lain, tapi tujuan saya menulis bukan untuk dibaca oleh semua orang, saya lebih ingin mencatat pengalaman pribadi dan tidak penting apakah orang lain membaca atau tidak. Mungkin karena ada aplikasi untuk men-"tag" topik, sehingga lebih mudah dicari orang, saya melihat banyak orang dari berbagai tempat ikut membaca. Saya sih senang saja.

Kembali ke pertanyaan teman saya tadi. Jawaban saya seperti ini:" Because I am human and I am not supposed to be alone!"

Teman saya sepertinya tidak mengerti jawaban saya. Saya bisa memaklumi. Di tempat kerja saya dikelilingi banyak teman, bahkan di kantor kalau pagi saya berbagi cubical dengan Garret, di depan saya ada Cory dan Sam, lalu di samping kanan saya ada cubical paling besar yang dimanfaatkan oleh Chef Ben dan Chef Jeremy. Belum lagi di ruangan yang sama ada 5 buah ruangan lagi yang digunakan oleh beberapa supervisors, dan boss saya. Jadi setidak-tidaknya di ruangan kantor ada 10 orang. Saya tidak sendirian. Secara fisik memang saya tidak sendirian, tapi mereka belum tentu mau dengan sukarela mendengarkan pikiran, keluh kesah bahkan kisah saya bukan? Itu yang saya maksud. Ambil contoh misalnya saya sangat khawatir akan kondisi kesehatan Nina. Siapa yang mau dengar? Bahkan boss saya sendiri ketka mendengar bahwa saya hampir kehilangan Nina, dia merasa tidak nyaman dan berusaha mengalihkan topik obrolan. Dengan menulis dan misalnya berkeluh kesah di sana, saya dapat berasumsi menceritakan pengalaman saya pada orang lain. Tidak penting siapa, tidak penting apakah betul-betul ada yang membaca. Saya bisa bercerita dan saya tidak merasa sendirian lagi. Itu yang saya maksud dengan I am human and I am not supposed to be alone, karena saya mahluk sosial dan kadang butuh survive dengan merasa ada kehadiran orang lain. Terderngar sangat selfish ya? Tapi saya jujur kok. Itu perasaan yang saya alami ketika menulis dan "berbagi beban". Terus terang ini sangat membantu. Seperti jika kita mengaku dosa, confession, memang ada pastor di situ, tapi kita mengadu dan mengaku dosa kita kepada Tuhan melalui kehadiran seorang Imam. Apakah Tuhan mendengarkan atau tidak kita tidak pernah tahu, kita memang mengimani bahwa Tuhan mendengarkan dan menjawab.

Berkaitan dengan merasa tidak sendirian, dengan menulis narasi kehidupan yang saya jalani, saya secara tidak langsung mengikut sertakan orang lain dalam perjalanan hidup saya. I am including whoever read my stories to be part of my life journey! Coba bayangkan kita dalam sebuah perjalanan panjang. Mana yang lebih seru pergi sendirian atau bersama-sama dengan teman dan sahabat? Nah begitu kira-kira. Hanya saja bedanya dalam menulis narasi, perjalanan ini tidak secara fisik tapi saya saya merasakan ada konfirmasi bahwa perjalanan ini tidak saya lakukan sendirian.

Menulis narasi kehidupan merupakan salah satu cara untuk belajar tentang diri sendiri. Kalau ada teman yang berkata bahwa dengan membaca tulisan saya lalu jadi merasa lebih mengenal diri saya. Itu ada betulnya karena pada kenyataanya saya juga berusaha menangkap momen-momen yang berarti dalam hidup lalu dengan menulis saya tidak hanya mengatakan apa yang terjadi pada diri saya tapi juga menunjukkannya. Coba saja bandingan perbedaan antara saya hanya berkata bahwa bulan lalu saya terjun payung dibandingkan dengan bercerita panjang lebar mengapa saya melakukan itu, lalu apa yang dirasakan disaat itu dan sebagainya. Beda sekali bukan?

Saya yakin pengalaman-pengalaman saya juga sering dialami orang lain. Tapi ini kehebatannya menulis narasi kehidupan, yaitu kita memberi perspektif dan menjadikannya personal. Dengan menulis kejadian yang sebetulnya biasa-biasa saja, lalu ditambah dengan perspektif pribadi, maka momen itu berubah menjadi sebuah momen yang memiliki personal meaning! Saya ilustrasikan begini: Seperti misalnya kemarin, berapa puluh ribu orang mengalami pagi bersalju yang sama? Banyak sekali bukan? Tapi bila pengalaman itu ditambah dengan perasaan serta pandangan pribadi, maka pagi bersalju itu memiliki arti yang jauh berbeda dengan hanya sekedar pagi bersalju yang dialami orang lain. Itu yang saya maksud dengan capturing the moment and make it personal.

Itu sebetulnya inti dari narasi kehidupan. Semua orang memiliki kehidupan masing-masing dan dapat bernarasi sesuka mereka, tapi yang membedakan adalah narasi itu dikembangkan melalui gabungan antara pengalaman-pengalaman dan karakter personal masing-masing, setiap orang mempunyai mata dan penglihatan, serta kaca mata yang berbeda dalam memandang pengalaman dan dunia. Nah, jadi memang hal ini jadi sangat menarik.

Terakhir yang ingin saya obrolkan adalah tentang koneksi. Dengan berbagi narasi, saya jadi terkoneksi dengan dunia di luar saya, dengan sahabat-sahabat saya. Seperti yang pernah saya tulis di essay saya yang ke 71 Jauh TapiTetap Di Rumah  Itu salah satu gambaran yang gamblang bahwa walaupun saya tinggal ribuan kilometer jauhnya dari Smipa, tapi koneksi tidak pernah terputus. Itu yang pertama, kedua, ada semacam konfirmasi yang saya rasakan ketika orang lain bereaksi, nah itu salah satu koneksi yang paling sederhana.

Foto credit: study.com