Setelah perjalanan beberapa hari, Raja dan Penjelajah tiba di sebuah daerah yang panas dan gersang. Raja agak heran, karena dia tidak tahu ada daerah yang sekering ini di kerjaannya. Penjelajah sudah pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya, jadi dia tidak terkejut.
Di kejauhan, mereka bisa melihat sebuah piramida kecil. Mereka mendekatinya. Pintu piramida ini ditutup dengan sebuah batu yang besar dan terlihat sangat berat. Sebuah bel perunggu menggantung dari pinggir pintu. Penjelajah membunyikan bel itu.
Awalnya, tidak ada apapun yang terjadi. Kemudian, batu itu tiba-tiba menggelinding dengan bantuan mekanisme yang tidak dapat mereka mengerti. Seorang ibu tua eksentrik muncul di ambang pintu. Dia tidak bertanya mereka sedang apa, dan mereka tidak sempat menjelaskan, karena tiba-tiba ibu tua itu sudah mulai bernyanyi sebuah lagu aneh (lagu Pyramania dari album). Si Penjelajah, terbawa suasana, memainkan alat musik rumit yang berada di dalam rumah itu.
I have read, somewhere in a book
They improve all your food and wine
And I've been told, someone in the know
Can be sure of his good luck and it's no lie
All you really need is a little bit of pyramidic
Help!
Setelah selesai menyanyi, ibu itu membawa mereka keluar dari rumahnya. Tanpa kata-kata lain, dia menutup pintunya. Raja kebingungan, tetapi Penjelajah sudah tahu persis apa yang perlu dilakukan untuk mencari para dewa. Ibu itu rupanya sudah mengetahui mereka akan datang—tentu, sebagai teman para dewa, dia memiliki banyak kemampuan gaib—dan telah menjawab semua pertanyaan mereka dengan lagunya.
Sang Penjelajah mulai memanjat ke pucuk piramida tempat tinggal ibu itu. Raja semakin kebingungan, tapi menyusul saja. Begitu mereka tiba di pucuk piramida, sebuah cahaya kebiruan yang aneh menyelubungi mereka. Mereka ditarik ke angkasa dan mengambang di sana.
Dalam perjalanan mereka ke atas, mereka bertemu sepasang makhluk aneh. Makhluk-makhluk ini tidak berbentuk, hanya ada sebagai cahaya-cahaya samar dan suara yang bergaung. Mereka mengingatkan Penjelajah dan Raja bahwa apapun yang naik, pasti akan turun lagi. Mereka tidak percaya bahwa para dewa akan membantu kedua ‘orang tanah’ itu. Ketika Penjelajah bersikeras bahwa mereka akan berhasil, makhluk-makhluk itu mulai bercerita tentang betapa naifnya rencana mereka. Kerajaan mereka tidak permanen, Elang Sakti tidak permanen, bahkan jika dihidupkan lagi, itu tidak permanen (lagu What Goes Up… dari album).
What goes up, must come down
What must rise, must fall
And what goes on in your life
Is writing on the wall
If all things must fall
Why build a miracle at all?
If all things must pass
Even a miracle won't last
Raja dan Penjelajah terus naik hingga mereka sampai di antara awan, di rumah para dewa. Di sini, mereka merasa seperti tikus. Mereka kecil sekali dibandingkan semua di sekeliling. Karena tidak ada cara lain, mereka masuk lewat lubang kunci, dan langsung disambut oleh para dewa.
Lagi-lagi, sebelum ada yang sempat berbicara, mereka dilontarkan di udara dan dijadikan bahan mainan oleh para dewa yang tertawa (instrumental In the Lap of the Gods dari album). Ketika mereka sedang dilempar-lempar, salah satu dewa menyelipkan sebuah benda aneh ke dalam tangan Raja. Dia tidak sempat melihatnya, karena tiba-tiba, Raja dan Penjelajah dilempar keluar jendela. Mereka jatuh, turun, turun, melewati awan dan langit dan cahaya biru. Mereka mendarat—anehnya, dengan amat lembut—di atas sebuah gunung di tengah hutan yang gelap.
*
Bersambung…
Wow, Ara kamu dari mana kenal lagu Alan Parsons Project? 😃
Ayah penggemarnya, Kak. Sebelum pandemi kalau di mobil sering diputar ulang-ulang