AES 380 Less And Lesser
joefelus
Tuesday June 7 2022, 10:55 AM
AES 380 Less And Lesser

Barusan saya melihat unggahan salah seorang teman jaman kuliah tentang perjalanan melancong mereka ke salah satu kota besar di negara lain. Dia bercerita bahwa orang tuanya begitu bersemangat melanglang buana, sementara anak-anaknya mogok karena kepanasan. Anak-anak lebih memilih diam di tempat teduh sementara orang tuanya bergerilya berkeliling ke mana-mana.

Saya jadi ingat dengan pengalaman saya sendiri. Sebagai orang tua yang semakin lama semakin terbatas pergerakan dan kesempatannya karena usia dan pertimbangan lain, kami justru lebih berusaha memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin ketika berpergian. Kami jauh lebih termotivasi untuk berusaha meraih semuanya, melihat semuanya, mengunjungi tempat-tempat sebanyak mungkin karena beberapa alasan,"Mumpung ada kesempatan, mumpung masih kuat jalan kaki, mumpung masih mampu, dan sebagainya." Beda dengan anak-anak remaja yang punya agenda tersendiri. Mereka melihat bahwa yang orang tua inginkan jauh berbeda dengan fokus yang mereka miliki jadi tidak aneh dalam setiap perjalanan kami sering menghadapi konflik kepentingan. Anak-anak muda ini belum memiliki pengertian "kesempatan" secara lebih komprehensif dibandingkan dengan orang tua.

Saya beri contoh. Ketika sedang berada di Washington DC, Kano lebih suka berada di hotel karena dia lebih tertarik pada sebuah event di internet daripada melancong bersama saya mengeliling museum, monumen, Capitol Building atau ke White House. Saya sempat jengkel karena untuk ke kota itu saya butuh merogoh saku saya dalam-dalam. Perjalanan yang tidak murah. Nah bagi Kano itu sama sekali tidak penting karena dia punya agenda tersendiri, punya prioritas yang berbeda yang saya sama sekali tidak mengerti. Dalam pikiran saya, buat apa jauh-jauh ke luar kota, buang-buang uang kalau hanya ingin berada di tempat tidur sambil menonton sesuatu? Kalau hanya ingin begitu kenapa harus naik pesawat sekian ribu kilometer? Daripada begitu, mungkin lebih baik diam di rumah dan tidak perlu mengeluarkan biaya, toh yang dilihat hanya layar monitor! Karena perbedaan kepentingan seperti ini, beberapa perjalanan saya hanya dilakukan berdua dengan Nina. Saya juga belajar dari pengalaman-pengalaman terdahulu. Daripada mubazir memaksakan anak semata wayang untuk ikut yang akhirnya hanya diam kemping di hotel, lebih baik dia diam di rumah. Hemat dan semua senang karena pepentingan dan prioritas setiap orang terpenuhi.

Semakin bertambah usia, kedekatan secara fisik saya dengan anak satu-satunya ini semakin berkurang. Dulu sepertinya saya bisa sepanjang hari bersama dia, sekarang dia sibuk dengan diri sendiri dan saya punya tanggungjawab yang lain. Mungkin memang semuanya ditakdirkan begitu. Semakin anak menjadi mandiri, semakin ada jarak antara orang tua dengan anak-anaknya. Itu mulai saya rasakan selama beberapa tahun terakhir. Dulu untuk membeli jus apel di airport saja dia masih membutuhkan bimbingan saya. "Dad, what should I say?" tanyanya ketika menerima selembar uang dari saya ketika dia akan membeli jus. Saya hanya menjawab," Just like you buy juice from Ibu Sum but say it in English." Saya jelas-jelas masih sangat dibutuhkan bahkan untuk hal-hal yang sepele. Sekarang dia semakin mandiri dan saya semakin tidak dibutuhkan. Saya merasa sangat jauh, jarak semakin renggang, kebersamaan semakin berkurang.

Menilik semua pengalaman-pengalaman itu, saya mulai belajar untuk lebih bisa melepaskan. Bukan hal yang mudah dan sering membuat saya sedih karena merasa saya semakin tidak dibutuhkan. Mungkin ini alasan banyak teman yang memutuskan untuk memiliki anggota keluarga yang lebih besar sebab jika punya anak lebih dari satu, pengalaman merasa "dijauhi" masih bisa ditunda karena ada kesempatan kedua atau ketiga, tergantung berapa besar jumlah anggota keluarganya. Ini sepertinya yang tidak saya perhitungkan. Ya sudahlah, saya harus bisa menerima dan beradaptasi. Situasi ini memang tidak akan pernah dapat dihindari, hanya saja saya masih sering berharap bahwa kejadian ini tidak terjadi secepat ini. Masih ada proses denial dan belum rela menerima hahaha... Sesuai dengan judul esai ini, memang ketergantungan anak ini pada orang tuanya menjadi terus berkurang, less and lesser!

Foto credit: momblogsociety.com