Ketika kaki terjepit pijakan motor sendiri dengan pijakan motor orang lain di sebelah, saat sedang berusaha mengeluarkan motor dari parkiran. Tepat di bagian tulang kering, rasanya sungguh tak terlupakan. Bahkan terngiang sampai sepuluh tahun ke depan.
Kemudian di dekade selanjutnya melihat seorang pemuda yang kejepit kakinya, di antara pijakan kaki motornya dan motor sebelahnya saat ia sedang berusaha mengeluarkan motornya dari parkiran. Kita dengan sombongnya bilang, “Aku paham.” Sungguh seorang tua yang kurang bijaksana.
Tidak! Kita tidak pernah paham dan tidak akan pernah bisa paham. Mencocokan saja bisanya, seperti mencucukan sedotan ke tutup plastik minuman boba kemudian menariknya keluar lalu mencucukannya lagi di lubang yang sama. Dengan sombong dan naifnya kita bilang kedua hal itu sama.
Tidak! Tidak sama. Phanta rei, semuanya mengalir. Itu sudah bukan sedotan yang sama, itu bukan lubang yang sama, itu bukan boba yang sama, dan itu bukan tutup plastik yang sama. Bedanya setengah detik, bahkan beda setengah nano detik, beda. Setengah pikodetik pun, berbeda.
Jadi, frasa aku paham yang sering kita celetukan. Berdasarkan pemahaman akan ketidak pernah bisa pahaman, atau berdasarkan pengabaian? Karena pada jeda inilah kesadaran berada, bukan pada perkataan kesadaran diri adalah kunci, bukan juga pada celetukan iya aku paham, iya aku mengerti yang formatif dan habitual.