Bangun tidur lagi-lagi saya disuguhi berita yang tidak menyenangkan. Saya sebenarnya tidak berminat untuk membaca tapi karena nama yang bersangkutan begitu familier bagi saya, maka akhirnya saya iseng membuka berita walau saya hanya ingin sekedar mengobati rasa ingin tahu saja.
Dia pernah berkata begini: "I can't stand the word empathy, actually. I think empathy is a made-up, new age term that — it does a lot of damage." Kalau tidak salah saat itu ada sebuah penembakan yang terjadi di sekolah yang memakan korban. Saya sungguh tidak ingat, yang jelas saya merasa agak terganggu dengan ucapannya yang bagi saya sangat kontroversial. Silakan saja interpretasikan ucapan dia di atas.
Tokoh ini (saya menggunakan kata tokoh, anggap saja sebagai bentuk penghormatan karena secara moral saya ingin merasa lebih baik daripada mengata-ngatai dia) bernama Charlie Kirk, seorang aktivis ekstrimis konservatif garis kanan yang sangat vocal dan kontroversial. Dia pernah datang ke kampus tempat saya bekerja beberapa kali dan berakhir dengan berbagai friksi serta kerusuhan.
Menurut saya dia menggunakan kedok agama untuk menyampaikan bahkan membenarkan pendapatnya yang bagi saya rasis. Saya semakin tidak menyukainya ketika mendengar cerita Nina, istri saya. Nina kebetulan bertemu dengan dia kalau tidak salah di dalam bus. Dia bersama dengan beberapa orang entah "ajudan" atau bodyguardnya dan memandang Nina dengan pandangan yang menyepelekan, mengkerdilkan dari atas hingga ke bawah. Bayangkan, pria macam apa yang memandang seorang wanita dengan cara semacam itu? Sangat tidak sopan dan apalagi dengan jestur serta raut muka yang menghina orang lain karena perbedaan entah warna kulit atau apa. "Gua balas dia dengan cara dia ngelihatin gua!" Kata Nina. "Gua lihatin dia dari atas ke bawah dengan pandangan jijik." Kata Nina lagi. Terus terang, saya merasa agak sedikit puas mendengar Nina mengatakan semacam itu. Bagi saya, tidak pada tempatnya kita sebagai sesama manusia, entah dengan alasan apapun untuk menunjukkan secara terus terang dan konfrontasional pendapat kita terhadap orang lain dalam bentuk jestur cara memandang. Itu menunjukkan karakter yang sangat rendah, dan bukan orang yang terhormat dan beradab.
Pagi ini saya lihat diberita bahwa dia dibunuh ketika sedang menghadiri event dan berbicara di depan banyak orang terutama mahasiswa di salah satu universitas di Utah. Ada seseorang sniper yang menembak dia dari jarak jauh dari sebuah atap gedung, Charlie Kirk terkena di bagian lehernya dan kemudian dinyatakan meninggal dunia di usia 31 tahun.
Suatu saat juga ketika berkomentar tentang penembakan yang terjadi di Amerika, dia berpendapat begini: " Gun death 'unfortunately' worth it to keep 2nd amendment." Jadi menurut dia, korban-korban penembakan masal yang banyak terjadi hampir setiap tahun di Amerika itu setimpal demi menegakkan amendment ke dua di Amerika yang menjamin hak masyarakat untuk memiliki senjata dan membela diri. Dan, ironisnya, dia akhirnya menjadi korban penembakan semacam itu. Sangat ironis.
Ada pertentangan moral dalam diri saya. Itu saya akui. Ada konflik batin yang sepanjang pagi ini saya alami. Akal sehat saya mengatakan bahwa tidak sewajarnya dia mati walaupun seandainya saya tidak setuju tentang pendapat-pendapatnya yang sangat ekstrim, seringkali menyesatkan dan dibungkus dengan dogma-dogma agama, dan sangat rasis. Tapi jika mengabaikan akal sehat, saya merasakan sebuah joy! Semacam harm-joy atau schadenfreude yang saya rasakan karena merasa bahwa dia itu deserve mendapat perlakuan semacam itu. Apalagi jika mengingat pendapat dia tentang empati dan tentang hak memiliki senjata serta ketidak-adaan rasa empati dia terhadap korban penembakan. Saat ini, jujur saja, saya seperti dia tidak memiliki rasa empati sedikitpun mengetahui dia menjadi korban penembakan. He deserves it and it is worth it! Kasarnya saya katakan,"Nah, rasain sekarang. Dulu bilang ga punya empati terhadap korban penembakan dan dianggap setimpal demi hak memiliki senjata. Sekarang loe jadi korban kata-kata sendiri."
Kebebasan berpendapat memang ada hukumnya. Di negara itu memang ada hukum yang mengatakan masyarakat bebas mengeluarkan pendapatnya. Tentu saja pada praktiknya tidak selalu demikian. Banyak orang yang merugi karena pendapatnya bertentangan dengan rezim pemerintahan. Dimana-mana memang begitu. Ada kebebasan tapi penguasa juga berusaha membungkam karena membahayakan kedudukan mereka. Charlie Kirk ini memang sangat ekstrim dan mendukung seratus bahkan seribu persen pemerintahan sekarang dengan caranya sendiri yang sangat konservatif dan ekstrim. Walau dia tidak mengakui tapi saya bisa meyimpulkan bahwa dia itu rasis dan juga suka menyebarkan teori konspirasi terutama ketika masa Covid 19.
Saya pernah membaca ungkapan teman kuliahnya (oh, sekedar fun fact, dia tidak selesai kuliah):
Kirk’s classmates described him as “rude,” “arrogant” and as someone with “a superiority complex.” He called teachers with whom he disagreed “neo-Marxists” and often was belligerent in class. On the topic of gun rights, Spencer writes that Kirk “once asked a teacher if guns make people violent, ‘do forks make people fat?’”
Itu hanya sekedar fun facts. Pada akhirnya saya harus menyadari bawa bagaimanapun kita tidak setuju dengan pendapat orang lain, tidak sepantasnya saya bergembira ketika dia menjadi korban apalagi ini yang berkaitan dengan nyawa. Memang dia tidak berempati pada para korban penembakan, dan dia berpendapat bahwa korban-korban itu setimpal demi menegakkan amendment ke-2. Ironis memang diakhir hidupnya dia sendiri yang justru menjadi korban. Kalau saya bersenang-senang dan tidak berempati terhadap kematiannya, lalu apa bedanya saya dengan dia? Sebesar-besarnya ketidak-setujuan saya pada pendapatnya, toh saya tidak akan meninggalkan rasa kemanusiaan saya, bukan?
Foto credit: Facebook