(ilustrasi: Garcia Media)
Beberapa hari yang lalu aku diskusi tentang ini dengan rekan lama: slow journalism. Kurang lebihnya, ini ngomongin kebutuhan kita sebagai masyarakat untuk mendapatkan ritme yang lebih layak dari jurnalisme, alias, bukan ritme informasi-instan-cepat-kilat-banjir-bandang seperti yang terjadi hari ini. Internet membuat manusia terintervensi oleh kebudayaan paradoks berupa laju pesat informasi, alih-alih keterbukaan kebenaran yang lebih seringnya terjadi sebagai banjir informasi.
Wacana ini tentu saja tidak eksklusif, aku kira banyak kalangan masyarakat pun telah (atau paling tidak, pernah) mengendusnya. Apalagi berbagai pengalaman sudah mengajarkan, bagaimana “kita” termakan berita hoaks.
Termasuk juga di Semi Palar, wacana ini tidak asing. Pada pekan perencanaan TP19, sepekan sebelum anak-anak masuk sekolah (sebelum M0) ada satu hari di mana seluruh kakak mengadakan Pleno. Kurang lebihnya, pada Pleno itu dibahas soal budaya berinternet dan ada satu perkataan kak Andy yang cukup penting yang relevan dengan bahasan tulisan ini. Waktu itu, di tengah-tengah pembahasan mengenai ancaman AI kak Andy bilang, “ironisnya internet, semua data yang beredar di sana tidak diregulasi seperti beredarnya makanan atau obat, padahal sama-sama asupan untuk manusia”.
Pernyataan itu tentu tidak aku maknai secara literal yang sempit, semacam dukungan terhadap UU 'karet' ITE misalnya, maupun peraturan negara lainnya yang malah membatasi sipil berekspresi, ketimbang melarang eksploitasi korporasi atau pihak-pihak yang diuntungkan dari kondisi tak terkontrolnya internet dari konten yang tidak mendidik.
Tetapi, kutipan tersebut lebih sebagai refleksi tentang betapa kita perlu aksi yang lebih nyata untuk merespon itu, untuk menjinakkan internet agar betul-betul menjadi ruang manfaat dan bukan sebaliknya.
Mendiskusikan Informasi
Sore itu, Senin 28 Agustus 2023, aku mengikuti pertemuan kecil bersama kakak-kakak KPB yang lain (mulai dari ka Gina, ka Tema, ka Leo, sampai ka Robert) dan juga ka Ome dari perwakilan SMP. Pertemuan ini bertujuan untuk membicarakan suatu program kerja sama yang punya kaitan dengan internet, programnya apa dan siapa pihak luarnya sepertinya belum bisa dispill-kan (hehehe), karena saat ini memang masih tahap awal dan belum pasti. Lagipula, inti dari tulisan ini ingin membahas esensi yang ada dalam percakapan pertemuannya.
"Banjir informasi" menjadi kata kunci yang dibahas, ka Robert menguraikan tentang bagaimana kita hari ini (orang dewasa maupun anak-anak) seperti kadung dengan kenyataan bahwa paparan informasi itu begitu banyaknya. Sehingga yang terjadi adalah situasi yang membuat banyak orang tidak sempat bertanya, apakah informasi ini benar atau tidak?
Ka Robert bahkan menyebut fenomena hari ini sebagai industrialisasi kata-kata, di saat produksi informasi berupa kata-kata, tidak benar-benar dibuat dalam rangka memberikan informasi dalam konteks informasi yang benar (faktual), punya manfaat, dan punya kepentingannya untuk masyarakat. Ka Robert menyebut beberapa kejadian yang masih baru dalam ingatan kolektif kita, tentang hoaks yang terjadi ketika pemilu, hoaks ketika pandemi Covid-19, hingga bahkan yang masih berlangsung sehari-sehari sampai hari ini di sosial media dan Whatsapp kita.
Industrialisasi kata-kata dan tidak adanya kebiasaan untuk berpikir kritis, membuat banyak orang menjadi bodoh. Karena seringkali memang orang-orang tidak diberi ruang untuk berpikir oleh banjirnya informasi, tetapi di sisi lain orang-orangnya juga tidak aware untuk berpikir kritis. Budaya membagikan informasi palsu, misalnya, banyak orang melupakan tiga hal ini saat menghadapi informasi: Bertanya apakah informasi ini benar? Kalau ya informasi ini benar, apakah informasi ini penting? Yang terakhir, apakah perlu untuk saya bagikan, artinya apakah informasi ini bermanfaat untuk orang lain?
Pungkas ka Robert menguraikan pandangannya dalam pertemuan.
Memang seringkali peredaran berita palsu justru karena ada andil individu-individu di sekeliling kita yang tidak mempertimbangkan secara mendalam ketika menghadapi informasi. "Tapi sebaliknya, berpikir kritis itu bukan berarti jadi serba anti menyebarkan, cuek, kalau memang ada informasi yang benar, perlu, dan bermanfaat untuk orang lain ya justru kita wajib menyebarkannya", sambung ka Robert.
Dari sini aku secara pribadi menjadi menyambungkan, percakapan pada pertemuan itu dengan slow journalism yang kurang lebih punya esensi yang sama. Slow yang berarti pelan sebagai harapan untuk jurnalisme, bukan saja menghimbau para jurnalis (atau industri media) untuk berhenti mengeksploitasi informasi alih-alih menyediakannya secara proporsional. Tapi harapan itu perlu dibangun oleh peran kita sendiri, sebagai publik untuk menjadikan diri ini sebagai pembaca aktif, bukan pembaca pasif. Pembaca yang mendalami dulu segala informasi yang datang, khususnya dalam kasus ini informasi di internet. Dengan begitu harapan agar kita bisa berada dalam budaya slow journalism lebih masuk akal dan tidak utopia, sebab, budaya berpikir kritis telah kita mulai, bukan menunggu 'kebaikan' dari industri media dan sebagainya.
Sepenggal lirik rap dari Pandji Pragiwaksono bilang, "Cepat tak harus buru-buru, pikirkan dahulu, jangan sampai sesal kemudian". Slow but sure. Perlahan tapi pasti. Perlahan yang berarti mendalam saat mencerap informasi dan pastikan kefaktualannya, juga kebermanfaatannya, sebelum kita menentukan apa respon yang 'kan kita pilih.
Sudahkah kita mulai membiasakannya?