AES0014 Jiwa dan Tujuan
Naufal
Friday November 17 2023, 12:25 PM
AES0014 Jiwa dan Tujuan

Baru-baru ini aku membaca novel lama yang baru kubeli, Orang Orang Proyek karya Ahmad Tohari. Pada Bagian Pertama novel itu, ada satu momen di mana aku dibuat berkata waw sambil terdiam sebentar, gara-gara seorang tokoh lelaki yang diceritakan hobi memancing tetapi lelaki itu punya hobi lain yang lebih menarik: meniup seruling, yang membuat hobi meniup serulingnya itu jadi lebih menarik adalah karena motivasinya. Diceritakan sesaat setelah lelaki itu kesal karena air sungainya keruh, ia mengeluarkan seruling kesayangannya, lalu meniup serulingnya selirih mungkin. Ia meniupnya begitu lirih seperti biasanya, ia tak berpikir perlu ada orang lain yang mendengarnya atau tidak, bahkan kalau bisa telinganya sendiripun tak perlu mendengarnya, karena ia bermain bukan untuk siapa-siapa tetapi untuk jiwa. Di titik itu lah aku sempat berhenti membaca beberapa saat, mencerna, dan merefleksikan penuturan barusan sebentar.

 
Bicara soal melakukan sesuatu bukan untuk siapa-siapa selain untuk jiwa (sendiri) jadi menarik buatku, terlebih baru-baru ini juga aku berkesempatan mengikuti percakapan agak panjang mengenai literasi diri bersama Ka Andy dan beberapa kakak lain dalam pembekalan kakak baru. Waktu itu salah satu topiknya berbicara soal jiwa juga, bagaimana masing-masing dari kita dalam hal mengenali aku–kita masing-masing adalah pertama-tama dengan menyadari bahwa itu melampaui tubuh–aku adalah jiwa yang menggerakan tubuh ini, adalah jiwa yang mengelola perasaan ini, adalah jiwa yang memiliki pikiran ini, dan semua yang seolah benar-benar bagian daripada aku sebenarnya berjarak dan jarak itu sejauh mana jiwa ini bertemu dengan orang lain, bertemu dengan lingkungan, bertemu dengan dunia beserta persoalannya.  
 
Motivasi dari lelaki peniup seruling yang meniup seruling untuk jiwa di atas mengingatkanku pada kecenderungan kita, manusia, yang terkadang memiliki ruang sendiri. Di mana kita melakukan sesuatu hanya karena kita ingin melakukan sesuatu, seperti lelaki tadi yang meniup seruling bukan untuk menjadi peniup seruling profesional sehingga suatu hari Soneta Grup merekrutnya menjadi personil misalnya, meskipun bisa-bisa saja (jika lelaki itu beruntung dan juga jika lelaki itu nyata bukan tokoh fiksi di novel). Aku lalu merenungkan impresiku sendiri saat terkesan dengan penghayatan lelaki itu terhadap lirih seruling. Sekilas, kalau dipikir-pikir laku semacam itu seperti bisa kita pertanyakan dalam sudut pandang kemanusiaan kita: apa-apaan, bukankah yang membedakan kita dengan binatang adalah karena kita makhluk yang senantiasa punya tujuan? Bermain seruling, selirih mungkin, tidak ingin ada orang lain dengar, bahkan kalau bisa telinganya sendiri tak usah dengar, candaan macam apa itu?
 
Pikiran yang jadi terasa terlalu tegang, karena bukan kah kita manusia memang wajar bergelut dengan hal semacam itu. Tidak wajar adalah di saat seluruh kegiatan hidup kita dihayati dengan cara macam itu, kalau satu dua hal saja di hidup kita yang diperlakukan begitu bukannya bagus. Toh, kembali lagi ke lelaki tadi, selain hobi meniup seruling, lelaki tadi hobi memancing kan, jangan-jangan ada manfaat tertentu dari hobi main serulingnya dengan efektifitas hasil pancingannya, yang itu membuatnya survive sehari-hari?
 
Seperti juga kita, hal yang wajar saat kita melakukan sesuatu dengan mindfull proses yang dijalani dan hasil yang kita dapat juga tentu akan lebih baik. Lebih baik, tentu saja ada parameter orang lain di sana, sejauh apa itu bermanfaat, memancarkan sesuatu yang positif. Kalau begitu apakah tujuan hidup manusia adalah melalukan sesuatu yang baik untuk orang lain? Aku sih sepakat, walaupun tidak sepenuhnya karena konteks untuk orang lain juga tidak sepenuhnya, keselamatan dan kebahagiaan diri sendiri juga termasuk daripada itu.  
 
Mungkin sederhananya begini. Manusia kadang asik sendiri melakukan hal yang dia cintai tanpa memedulikan orang lain sama sekali, atau yang dia kira dia cintai (padahal, ia sedang lari, misalnya?). Manusia juga kadang hanya mengikuti orang lain saja, mengikuti aturan formal, mengikuti rules, tanpa ia penuh menjalaninya. Penuh dalam arti jangan dulu sampai ke tahap bahagia, bahkan paham mengapa dia harus melakukannya pun tidak, ah ikut weh.
 
Jadi, tidak apa-apa tetap lah main seruling selirih mungkin seperti tak ada yang mendengar suara serulingmu, tapi jangan lupa, tujuanmu datang ke sungai adalah memancing kan?

(gambar: sungai kehidupan dari devianarts)