AES0015 Belajar Dari (Proses) Belajar
Naufal
Monday January 29 2024, 5:34 PM
AES0015 Belajar Dari (Proses) Belajar

Belajar dari keberhasilan orang lain? Kita hanya akan terjebak untuk bisa seperti orang itu, bukan bisa seberhasil orang itu. Makanya parsial. Lebih utuh dan masuk akal, kita belajar dari proses keberhasilan orang lain, begitu juga kita belajar dari proses kegagalan orang lain.

Misalnya ada seorang kakak atau orang dewasa, dengan seorang murid atau anak-anak. Kakak atau seorang dewasa itu melihat seorang murid atau anak yang menghadapi sebuah masalah, misalnya masalahnya sang anak mencuci wadah makannya yang kotor di wastafel dengan keran air yang dibuka full. Akibatnya, luncuran air yang terlalu banyak itu muncrat ke pakaiannya, ke luar wastafel dan lantai, dan yang terpenting: sang anak ternyata membiarkan itu tanpa menyadarinya.

Orang dewasa yang aware menyaksikan akan langsung sadar, sesuatu harus dilakukan. Di sini lah seninya belajar itu untuk semua orang. Andai yang difokuskan hanya “belajar” dari keberhasilan orang lain, orang dewasa itu cukup hanya mengecilkan krannya secara langsung dan menganggap, sang anak pastinya akan mengerti bahwa itu keliru. Lalu orang dewasa itu bisa pergi sambil berpikir, ada keberhasilan yang baru saja terjadi, padahal ia baru saja melewatkan kesempatan sebuah hal luar biasa dari sebuah “proses” bisa terjadi dan yang baru saja terjadi bukan keberhasilan, karena ada proses yang dilewatkan.

Nah, ini lah “seninya” belajar. Orang dewasa yang sadar belajar selalu melalui proses ia akan kreatif untuk memutuskan aksi -- yang paling memungkinkan dan paling bermanfaat apa -- atas pikirannya tentang air kran yang muncrat -- bukan dengan kecilkan kerannya dan ya, dipikirnya itu beres (problem solving : berhasil) -- tetapi gimana caranya, agar sang anak bisa mengalami langsung keberhasilan itu. Yaitu dengan....

Tanya langsung (ini juga misalnya), Halo, menurut kamu bisa nggak kalau air krannya gak perlu sebesar ini? Bukan cuma respon apa yang berharga sehabis pertanyaan ini ditanyakan, tapi beri ruang agar sang anak bisa berpikir, memproses, lalu mengecilkan sendiri krannya dan ketika sang anak melihat perbedaan yang positif antara ketika krannya kecil -- ternyata tujuannya untuk mencuci juga masih bisa tercapai -- dibanding ketika krannya sebesar sebelumnya, yang selain itu mubazir, juga membuat baju dan sekelilingnya menjadi basah.

Ini hanya snapshot, dari proses belajar yang tentu lebih sering tidak sesederhana dan seinstan ini, itu memerlukan keberlanjutan, jangka panjang dan utuh. Tetapi ada esensi yang menjadi misi utama tulisan ini, sepotong esensi belajar dari (proses) belajar orang lain yang membuat kita bisa tak terjebak untuk membuat kita stop dari manusia pembelajar.

Semoga hal luar biasa, menakjubkan, mengesankan, bermakna atau apa saja istilahnya untuk mengungkapkan kebaikan dari proses belajar yang kita alami, saksikan, dan terlibat di dalamnya dapat terus membersamai energi kita sehari-sehari.

Selemah-lemahnya iman, bisa sabar dengan proses.

-

(*) Inspirasi tulisan:

Menyaksikan interaksi Kak Robert dengan salah seorang murid SD, beberapa minggu yang lalu di wastafel Co-Op. Kejadiannya, kurang lebih persis seperti yang diceritakan pada contoh di atas. Terima kasih Kak Robert, terima kasih juga teman kecil yang kakak liat waktu itu.

(**) Asal gambar:

https://pin.it/5dOF21KbZ

Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Hmm. sepertinya kak Naufal sudah lama tidak menuangkan pikiran dan perasaannya di ruang ini nih... Diantos kak... ☝🏼😁