(Foto: Keningku Pasca Selametan dan Sempat Papanasan dengan Peci makanya Tapakan Kotak)
Puji syukur ialah ucapan syukur
Yang barangkali tepat
Untuk episode hidup
Di mana diriku bisa mengalami ini
Selametan ini
Selametan Semi Palar
Selametan yang berbeda
Tapi bukan
Bukan beda esensinya
Esensinya mungkin sama
Dengan Selametan ‘Nujuh Bulanan’ saat adikku usia tujuh bulan dulu tahun 2005 atau
Selametan rumah
Pengajian yang diadakan dengan mengundang para tetangga
Mendoakan rumah saat diriku kelas 5 SD di mana orangtuaku akhirnya bisa memiliki rumah sendiri setelah sebelumnya ngontrak
Selametan ini
Selametan Semi Palar
Untuk membuka tahun pendidikan ke-19 ini
Secara esensi
Mungkin saja sama
Dengan selametan lain
Yang pernah aku lalui dalam hidup
Bahkan mungkin lebih mendalam?
Jauh lebih mendalam?
Yang berbeda
Di Selametan Semi Palar ini
Membuka kesadaran baru
bahwa
Dalam keberagaman orang-orangnya
Dalam kesadaran global
Yang mencoba utuh dengan alam
Memaknai nikmat Tuhan
di bawah terik matahari
Mendalami makna kehidupan
Merayakan kehidupan
*
Pembaca Yang Terhormat, mari baca tulisan di bawah ini dalam satu tarikan nafas:
Dan belang di kulit wajahku mungkin akan hilang sebentar lagi tapi ingatan saat semua orang mau-maunya menahan diri bersama-sama di bawah terik matahari pada hari itu pada Selametan itu kurasa akan selalu terkistral dengan baik di hati ini di hati kita.
*
Namun, bisa kah makna-makna baik itu bisa melaku dalam hidup kita sepanjang mentari bersinar tiap hari? Itu lah pertanyaan selanjutnya!