Banyak orang mempunyai sisi gelap dalam hidupnya. Ada yang memang terjebak dan terbenam di dalamnya hingga sulit keluar. Ada yang terpaksa karena tidak punya pilihan lain dan seumur hidup berusaha keluar atau karena tidak tahu lagi jalan keluar apa yang harus dia tempuh. Yang semacam itu banyak dalam film-film, dalam novel, tapi menurut saya tidak akan ada film dan cerita jika di kehidupan nyata tidak pernah terjadi. Logikanya begitu bukan?
Lalu bagaimana dengan saya? Hmmm... sejujurnya saya tidak dapat mengatakan bahwa pernah berada di sisi itu, tapi saya bisa mengatakan ada saatnya saya berada di bawah, ada saatnya saya berada dalam kondisi yang tidak beruntung. Yang ingin saya ceritakan adalah pernah suatu waktu saya berada sangat dekat, atau setidaknya itu yang saya anggap, bahwa saya hampir mendekati sisi gelap. Bukan karena keinginan saya, tapi karena tidak mengetahui, tidak sadar dan tidak aware bahwa saya menjelang menghadapi masalah serius. Yang saya sadari adalah saat itu sedang berusaha menyembuhkan diri dari masalah saya dengan syaraf. Tapi kemudian saya sadar bahwa saat itu mengarah pada masalah baru, yaitu obat-obatan. Dokter memberikan saya solusi sementara, yang tidak saya sadari, dengan obat-obatan. Saya merasakan perbaikan karena rasa sakit berkurang, tapi itu ternyata hanya semu. Rasa sakit berkurang karena saya mengkonsumsi pain killer terus menerus. Obat keras, kategori opioid dan narkotik!
Untung saat itu saya berjumpa dengan teman di Smipa yang manawarkan treatment alternatif. Hanya saja ternyata treatment-nya menyakitkan! Walau menyakitkan tapi saya coba. Saya juga mulai banyak berolahraga dan mulai berdamai dengan rasa sakit. Saya tidak tahu apakah masalah kesehatan saya membaik atau tidak, tapi saya tahu tubuh saya lebih fit, lebih bugar dan saya tidak tergantung lagi dengan obat. Olah raga berlangsung hingga saat ini, tentu saja on and off. Seperti sekarang saya akan off beberapa saat karena baru saja dioperasi. Tapi dari seluruh pengalaman itu saya tahu bahwa olahraga dapat menjaga tubuh tetap bugar dan yang paling penting, saya lebih bahagia, mood saya selalu baik dan positif.
Kembali ke sisi gelap. Saya menyadari bahwa saat itu mulai menyerempet ke sisi gelap ketika berusaha berhenti mengkonsumsi obat. Ada 2 obat yang saya gunakan saat itu untuk menghilangkan rasa sakit yaitu yang opioid dan satu lagi di kategori narkotik. Saya nekad untuk menghentikan, tanpa konsultasi dokter karena saya banyak membaca! mengetahui efek samping jika rutin mengkonsumsi obat-obatan itu membuat saya ketakutan. Saya lebih memilih menikmati rasa sakit daripada menghadapi masalah serius dikemudian hari dan satu hal yang penting: Olahraga! Rasa sakit jauh berkurang, hampir tidak berbeda dengan ketika mengkonsumsi obat-obatan!
Kenapa saya menulis dan bercerita tentang ini? Karena kemarin saya diingatkan pada peristiwa kelam itu! Saya mengambil obat untuk menghadapi rasa sakit sesudah operasi, obatnya sama dengan yang dulu saya konsumsi. Bedanya dosis lebih kecil dan hanya diberi 5 butir! Dulu ini konsumsi saya setiap hari, bahkan 3x sehari yang opioid, belum lagi dihitung yang kategori narkotik! Bayangkan, saya seperti diingatkan kembali ke mimpi buruk!
Tadi pagi saya ditelepon oleh dokter untuk follow up sesudah operasi. Saya cerita bahwa saya baik-baik saja, mulai berlatih gerakan-gerakan yang dianjurkan agar masalah tidak kembali lagi. Dan saya katakan obat tidak saya makan karena saya merasa mampu melawan rasa sakitnya. Walau tidur saya kurang nyenyak, tapi saya masih bisa tidur, dan karena hari Jumat dan pekerjaan saya mayoritas sudah saya selesaikan di awal minggu, saya ijin istirahat. Dokter setuju dengan keputusan saya, beliau bilang jika mulai tidak nyaman boleh makan obat ringan seperti Tylenol, kalau di Indonesia dikenal dengan paracetamol seperti misalnya kalau di Indonesia dikemas dengan nama Biogesic, Panadol, Sanmol dan sebagainya. Itu isinya serupa dengan tambahan-tambahan lain. Sampai sekarang saya belum makan obat apa-apa. Saya bisa berdamai dengan rasa sakit ini.
Kenapa saya tidak makan obat yang diberi oleh dokter itu? Karena saya ingat bagaimana reaksinya ketika dulu berhenti mengkonsumsi. Tubuh saya bereaksi keras, seluruh tubuh sakit, dan saya sangat senang menghantamkan diri sendiri ke tiang, tembok, pintu dan sebagainya. Tidak jarang jika melihat tembok atau pilar sama menghantamkan bahu saya ke situ, rasa sakit karena hantaman tubuh ke benda keras memberikan semacam penawar rasa sakit di sekujur tubuh. Aneh bukan? Sakit di bagian tertentu jauh lebih memuaskan daripada rasa sakit disekujur tubuh! Itu berlangsung selama berminggu-minggu sampai akhirnya proses "withdrawals" berakhir. Ini penderitaan yang bukan main.
Tubuh saya sama seperti kehormatan. Saya wajib menjaganya karena jika tubuh diperlakukan dengan tidak bertanggungjawab, maka sama saja saya melanggar kehormatan, dan ini adalah kehormatan pada diri sendiri. Apalagi yang lebih penting dari ini? Baiklah banyak hal yang sangat penting dalam hidup, tubuh dan kehormatan adalah salah satunya. Untuk menghormati diri sendiri, menghormati tubuh saya, wajiblah kiranya saya merawatnya bukan? Memberi makan yang baik, menjaga kebersihan, kesehatan dan sebagainya. Nah itu yang saya lakukan jadi bukan karena sok tahu, diberi obat oleh dokter tapi ngeyel tidak dimakan. Jaman sekarang informasi dapat diperoleh dengan mudah dan saya punya hak untuk memilih perlakuan pada tubuh dan kehormatan saya. Ada konsekuensinya, yaitu tidak makan obat artinya saya harus bisa berdamai dengan rasa sakit. Saya pilih yang risikonya lebih kecil. itu cara saya menjaga kehormatan dan berusaha menjauh dari sisi gelap, atau karena belum sampai sana, mungkin lebih tepat sisi remang-remang. Hahahaha...