"Tuh khan bener aku, harusnya kita ga usah ke lab. Sekarang jadi tahu dan harus banyak pantang ini itu." Kata saya betcanda.
Saya tahu, informasi kondisi kesehatan itu sangat penting, apalagi di tanah air yang menurut saya urusan tindakan preventif sangat minim. Lihat saja BPJS, banyak tindakan-tindakan preventif yang tidak ditanggug sehingga masyarakat harus berani dan mau mengeluarkan anggaran sendiri.
Ini salah satu perbedaan hidup di tanah air dan di Fort Collins. Di sana saya selalu diingatkan oleh dokter ketika tiba saatnya untuk memeriksakan diri secara rutin setiap tahun. Memang tidak semua rumah sakit atau asuransi yang melakukan ini, tapi kebetulan asuransi dan rumah sakit saya sangat proaktif dalam melayani pasien mereka sehingga saya selalu diingatkan untuk membuat janji untuk bertemu dengan dokter setidak-tidaknya setiap tahun untuk memeriksakan diri. Urusan gigi juga demikian, setiap 6 bulan sekali saya diingatkan dokter untuk periksa dan dibersihkan. Untuk urusan membersihkan gigi biayanya ditanggung oleh asuransi. Saya tinggal meluangkan waktu dan pergi ke dokter.
Sudah satu tahun saya tinggal di Bandung dan di sini saya harus mengingatkan diri sendiri untuk memeriksakan diri ke dokter. Istilah wellness memang sepertinya bukan prioritas utama di tanah air. Kebanyakan jika tidak sakit kita tidak ke dokter. Bukan begitu? Baru kemudian kietika kita merasakan sesuatu kejanggalan atau ketidak nyamanan, kita berobat. Masalahnya, bagaimana jika sudah terlambat? Banyak penyakit yang tidak terasa gejalanya hingga tanpa diketahui sudah mencapai stadium lanjut. Banyak kasus demikian.
Kenapa kita jarang ke dokter? Ya lihat saja kondisi di sini. Satu, ke dokter itu tidak murah. Memang ada BPJS, tapi saya merasa pelayanan yang diberikan tidak memenuhi kriteria yang saya inginkan. Sejauh ini dokter sangat irit kata-kata dan sangat hemat waktu! Saya mengalami dimana dokter merasa terganggu ketika saya memberikan banyak pertanyaan. Ini sangat mengecewakan. Tapi berbeda kondisinya jika saya menemui dokter berbayar mandiri dan tidak menggunakan layanan BPJS. Dokter lebih meluangkan waktu, lebih teliti dan juga enak untuk konsultasi. Mungkin kebetulan saja saya menemui dokter-dokter yang kurang ramah ketika menggunakan BPJS. Secara umum saya merasa pelayanan yang menggunakan BPJS kurang dalam hal priotitas pasien!
Akses untuk mendapat pelayanan kesehatan menurut saya sangat kurang memadai. Jika saya ingin periksa rutin ketika saya tidak dalam keadaan sakit dan hanya ingin konsultasi sebagai cara saya menjaga dan merawat kebugaran dan kesehatan diri, mau tidak mau saya terpapar pada kemungkinan tertular penyakit dari pasien lain sebab di rumah sakit tidak ada pembatas atau ruangan khusus untuk pasien berpenyakit dan pasien sehat. Kalau sudah begini, bagaimana saya ingin tetap sehat dan bugar? Konsultasi saja sulit karena kondisi tidak dirancang untuk memungkinkan pelayanan ini.
Faktor lain, biaya! Sekali lagi selama ini jika menggunakan BPJS saya tidak mendapat pelayanan maksimal. Nah masalahnya, jika saya ingin yang maksimal artinya harus menggunakan pelayanan berbayar dan itu tidak murah! Seperti misalnya test darah. Saya biasa melakukan check up tahunan untuk mengetahui kondisi kebugaran saya. Di Fort Collins semua tindakan pencegahan ditanggung asuransi, jadi saya bisa test darah untuk kadar gula, kolesterol hingga urusan masalah tiroid yang saya miliki semua ditanggung. Saya tahu menyandang penyakit Hashimoto saja karena annual check up, bayangkan jika tidak, mngkin sdah terlalu parah baru diiketahui. Sementara di sini BPJS hanya menanggung sebagian kecil. Kemarin saya harus rela merogoh kantung hingga hampir 2 juta Rupiah hanya untuk mendapat informasi. Itu pun inisiatif sendiri! Di tanah air, jika kita ingin merawat diri ya harus memiliki inisiatif. Itu urusan pribadi, dokter tidak ikut campur dan sama sekali tidak akan ada yang mengingatkan.
Eniwei, saya sudah membuktikan bahwa gaya hidup di tanah air memang kurang baik. Banyak kendala yang saya hadapi karena berbagai keterbatasan. Saya pernah cerita bahwa untuk berolahraga saja sulit karena fasilitas tidak memadai. Hingga sekarang saya belum berani berlari di jalan raya. Di tempat-tempat olah raga sebetulnya bisa tapi sangat berjubel, sebagian malah disamping jalan raya utama yang kualitas udaranya sangat dipertanyakan. Itu satu kendala, tapi sesungguhnya bisa dicari jalan keluarnya walau tentunya tidak senyaman jika fasilitas memadai. Oke, tinggal apakah saya mau sedikit berusaha lebih keras atau tidak. Urusan ini tidak bisa semuanya dijadikan alasan.
Jalan kaki. Saya sangat menyukai jalan kaki. Dulu 10 ribu langkah bisa saya capai sebelum tengah hari. Di Bandung karena banyak sekali jalan yang tidak memiliki trotoar, saya lebih sering naik motor atau berkendara roda 4. Alasannya karena jauh lebih aman daripada jalan kaki. Nah gaya hidup semacam ini menjadikan pergerakan tubuh jauh berkurang. Tidak hanya berat badan meningkat tapi saya mulai banyak memiliki masalah kesehatan. Selama 1 tahun hampir setiap bulan saya sakit, lebih parah lagi hasil laboratorium kemarin menyatakan bahwa sekarang saya termasuk kelompok penyandang hipertensi stadium 2 dan prediabetes!!! Semua itu terjadi karena 1 tahun terakhir saya hidup kurang sehat! Tahun yang lalu saya tiba dalam kondisi sangat sehat, bugar dan hampir tidak memiliki penyakit (kecuali Hashimoto yang memang harus saya hadapi seumur hidup karena tidak dapat disembuhkan), nah sekarang saya harus mulai berpantang banyak jenis makanan dan harus mulai banyak berolahraga kalau tidak mau berurusan dengan masalah kesehatan yang lebih serius. Intinya, saya harus hidup sehat.
Foto credit: flex.wisconsin.edu