Saya kemarin tidak menulis sama sekali. Kesibukan akhir-akhir ini sangat luar biasa, dan saya yakin dalam beberapa hari ke depan saya akan mengalami hal-hal yang sama, walau saya ingin sekali mengabadikan pengalaman ini karena ini akan menjadi pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan.
Saya juga memiliki berbagai dilema. Entah apakah tepat jika dikatakan dilema, sebab sebetulnya bukan merupakan pilihan. Dilema, atau kalau dalam bahasa Inggris yang diserap dari bahasa yunani, secara sekilas bisa saya artikan sebagai pilihan atas dua hal yang sulit. Nah yang sedang saya hadapi memang hal yang sulit, tapi itu bukan merupakan pilihan. Dilema yang saya maksudkan adalah masalah menulis. Menulis yang saya alami sekarang ini dengan risiko samakin memperberat beban yang sedang saya hadapi, atau tidak menulis dengan kemungkinan saya melewati masa-masa ini tanpa adanya catatan yang sangat penting yang bisa saya manfaatkan dikemudian hari. Memang sudah banyak sekali yang sempat saya utarakan dengan penuh kehati-hatian, tapi ada banyak hal-hal yang esensial yang masih saya hindari.
Eniwei, itu kendala yang sedang saya pertimbangkan. Sekarang saya sedang berusaha menulis sesuatu sekaligus juga menanggapi tulisan mbak @mega tentang "mendaur ulang kepenuhan pikiran" dan menjawab ajakan @kak-andy. Well, kalau ditanya soal penuh, mungkin ini saat-saat dimana saya mengalami yang paling luar biasa dalam hidup. Entah saya akan mampu menguraikannya dengan baik atau tidak sebab semuanya bergulung-gulung, saling kait mengait tanpa beraturan, kusut dan sangat sulit untuk diurai. Pikiran saya overloaded! Seperti saya obrolkan berkali-kali dalam berbagai tulisan, perubahan itu sangat sulit dihadapi. Banyak teori dan pendapat yang sudah saya sampaikan tapi pada praktiknya tidak semudah teori. Saya memang tahu apa yang harus dilakukan, tapi perubahan tidak hanya menyangkut hal-hal fisik, tapi terlebih berkaitan dengan masalah emosional. Nah di sini masalah terberat harus dihadapi.
Pikiran saya sangat penuh dengan berbagai rencana, persiapan dan pelaksanaan. Waktu sangat terbatas, kekuatan fisik juga sangat terbatas, segala hal yang harus dihadapi sangat banyak, masalah administrasi, masalah akomodasi, bagaimana dengan perusahaan pengiriman barang, surat-surat dari konsulat dan sebagainya semua bertumpuk menjadi satu dan harus diselesaikan dalam kurun waktu yang terbatas.
Kesibukan-kesibukan ini terus terang saya manfaatkan sebagai bentuk distraksi. Dengan menyibukkan diri, saya dapat rehat sejenak dalam menghadapi situasi yang lebih berat, yaitu masalah emosi. Ini bagian yang sangat sulit saya uraikan karena terus terang saya tidak tahu harus memulai dari mana.
Kita selalu harus menghadapi banyak hal baru dalam hidup. Berbagai hal yang sudah dapat diduga maupun yang tidak terduga. Ini membuat hidup kita begitu dinamis. Jika memiliki jiwa petualang, maka hal-hal semacam ini sangat menarik dan memberikan banyak excitement. Sesudah sekian puluh tahun saya menjalani kehidupan, saya menyadari bahwa ada kontradiksi terbesar yang selalu terjadi dalam diri saya. Saya memiliki jiwa petualangan yang cukup besar. Kemana pun saya bersedia pergi karena setiap tempat setiap peristiwa menawarkan banyak petualangan yang unik. Tapi di sisi lain saya juga mencintai kemapanan dan ketenangan. Dua-duanya merupakan kutub yang saling tarik menarik, adakalanya jiwa petualangan saya yang menang, tapi tidak jarang keinginan saya untuk mapan dan hidup dalam ketenangan berusaha mengambil alih. Keinginan untuk mapan dan damai pasti menolak perubahan. Nah ini hal utama yang sedang saya hadapi.
Saat ini jiwa petualang saya kalah habis-habisan. Saya lebih menginginkan kemapanan, ingin hidup tenang dengan pekerjaan yang saya cintai, dengan sahabat-sahabat dan keluarga baru yang selama 8 tahun terbentuk, saya ingin hidup damai dalam keluarga yang utuh. Ini semua harus saya tinggalkan. Perasaan saya memberontak, penuh dengan kesusahan dengan kesedihan. Pikiran saya penuh dengan berbagai usaha dan persiapan yang bukan merupakan pilihan. Pada saat yang sama di belahan jiwa lainya saya merasakan sebuah kekosongan. Kekosongan yang dahsyat, yang hingga saat ini masih harus saya mengerti dan berusaha hadapi. Pada saatnya nanti saya mungkin akan mampu menguraikannya dan menulisnya. Tapi saat ini, untuk pertama kalinya saya harus mampu menghadapi segala sesuatu yang memenuhi isi kepala dan dada, tapi juga sekaligus berusaha menghadapi kekosongan. Ya, sangat luar biasa, penuh tapi juga kosong!
Semangat, bang Jo! Semoga sedikit plong setelah menulis & berbagi cerita. Kerasa banget, tulisan ini bener2 ditulis sepenuh hati, menggambarkan kegalauan itu.