Kondisi lapangan pendidikan di Indonesia itu menurut saya seperti dalam permainan tarik tambang. Di satu pihak tuntutan dunia yang tidak pernah berhenti bergerak menuju masa depan yang lebih baik walaupun terus-menerus menghadapi tantangan seperti perubahan iklim dan sumber alam yang semakin menipis, di pihak lain, dunia pendidikan sepertinya menghadapi keruwetan dalam upaya mengejar tuntutan dunia, tidak hanya tertatih-tatih mengejar, kadangkala mandeg dan seolah-olah "melawan" kemajuan.
Pendidikan yang baik seyogyanya mampu mengembangkan curiosity, imajinasi, ketangguhan dan self-regulation pada para anak didik. Perkembangan itu akan memudahkan para anak didik untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan dalam menjawab tantangan dunia, sekaligus juga mengembangkan karakter yang mumpuni serta pengembangan nilai-nilai pribadi dan sekitarnya. Pendidikan juga seyogyanya menumbuhkan sense of purpose serta kompetensi para peserta didiknya. Nah ini tidak akan pernah tercapai jika pendidikan di Indonesia begitu-begitu saja dan tidak ada perubahan.
Saya setuju dengan yang dikatakan kak Andy pada esainya yang terakhir AES 209 Intens, "kalau tidak sekarang kapan lagi?". Kenapa saya setuju? Sebab kalau menunggu sampai orang-orang di lapangan (dalam hal ini salah satunya para guru) siap, perubahan tidak akan pernah terjadi. Kenapa begitu? Saya yang pernah mengalami berada di lapangan sungguh sangat prihatin dengan work ethics dan keinginan para guru untuk memperkaya diri dengan informasi dan pengetahuan baru. Memang tidak semua begitu, saya sama sekali tidak berusaha mengeneralisir dan memberi stigma bahwa semua guru demikian. Jadi ada banyak guru yang juga on top of their job!, mempunyai dedikasi yang tinggi dan yang penting mereka berusaha terus mengikuti perubahan jaman. Nah mereka-mereka ini yang menjadi tumpuan harapan akan perubahan!
Esai saya ini mungkin agak sedikit berbau apatis dengan upaya dobrakan-dobrakan, usaha break-through, yang dilakukan kalangan-kalangan tertentu. Seperti yang diungkapkan kak Andy juga bahwa banyak yang mengkritisi bapak Mentri yang berusaha memperkenalkan dan menjalankan program pendidikan yang baru dengan berbagai terobosan. Yang mengkritisi itu berkata lapangan belum siap. Nah sekali lagi saya katakan mereka tidak akan pernah siap! Seperti yang saya ungkapkan di atas, banyak yang sangat suka dan nyaman dalam status quo, sangat tenggelam dalam zona aman dan nyaman karena dengan demikian mereka tidak perlu bersusah payah lagi mempelajari hal yang baru. Nah mentalitas semacam ini yang menghambat. Dan sekali lagi saya katakan banyak yang ingin melihat perubahan dan memiliki dedikasi yang tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai agen perubahan daripada menunggu lapangan siap.
Agen-agen perubahan ini menurut saya akan mampu membangun para peserta didik untuk menumbuhkan sense of purpose dan kompetensi mereka. Agen-agen perubahan ini juga akan mampu meningkatkan curiosity, imajinasi, ketangguhan dan self-regulation. Lihat saja misalnya program-program seperti "anak bertanya"! Dari judul programnya saja sudah terlihat jelas dibandingkan dengan jaman dulu ketika bertanya itu seperti melawan otoritas guru! Saya masih ingat itu. Mempertanyakan guru adalah tabu! Itu sudah usang! Dengan perkembangan scientific knowledge yang diperoleh para siswa dengan peningkatan curiocity mereka, misalnya, itu akan menciptakan kesempatan-kesempatan dan solusi di kemudian hari yang pada akhirnya akan memperkaya hidup manusia secara global! Nah saya mendukung kegiatan Smipa seperti Rumpi Sada ini! Ini salah satu contoh konkrit dari agen perubahan!***