Pengulangan itu tidak ada, jadi kalau ada rasa bosan karena merasa mengulang-ulang bisa jadi adalah indikator ketinggalan. Tidak mampu mengejar ketinggalan, diawali rasa bosan barulah kekecewaan dan diakhiri pernyataan bukan minat saya. Kalau begitu cara untuk mengejar ketinggalan ini bagaimana? Banyak!
Apapun caranya dari yang banyak itu, langkah pertamanya hanya satu. Terbuka mengakui ketidak mampuan diri. Sehingga tidak memaksakan diri yang berakhir dengan alasan pengulangan. Yang seperti disebutkan di awal kalau pengulangan itu tidak ada. Jadi, itu murni adalah alasan. Bosan adalah alasan. Ketidak mampuan lah kenyataannya.
Dari ketidak mampuan yang telah dipaparkan dengan terbuka, kelihatan kesempatan. Kesempatan yang bisa diambil karena kemampuan diri memenuhi celah itu. Peluang keberhasilan pun tinggi. Misalnya, tidak mampu berkomunikasi dengan lancar di kelompok ini. Setelah diakui, ada kesempatan untuk mencoba bergabung sementara dengan kelompok itu.
Bukankah komunikasi adalah bentuk merespon ruang, jadi respon di kelompok ini saja tidak bisa apalagi di kelompok itu rasanya tidak relevan. Dalam arti, kemampuan komunikasi kan dampak yang diharapkan, outcome. Sedangkan aktivitasnya adalah merespon ruang, input. Maka kejarlah catatan pengalaman dan penemuan sebagai output.
Kalau di kelompok itu masih merasa bosan karena mengalami suatu pengulangan bagaimana? Ya kembali seperti yang disebutkan di atas, pengulangan itu hanyalah indikator ketidak mampuan. Temukan lagi ketidak mampuan apa yang perlu dibuka, lalu lihat celah kesempatan yang bisa dimasuki dengan kemampuan yang dimiliki.
Lalu ada pernyataan sebenarnya mampu koq hanya tidak mau aja, merasa tidak klop. Yah, sama seperti pengulangan. Ketidak mauan itu tidak ada, yang ada hanya ketidak mampuan. Kemauan itu tidak ada, yang ada hanya kemampuan. Bahwa kemampuan mula-mula adalah mampu untuk mau.
Bagaimana caranya mampu untuk mau? Imajinasi. Visualisasi. Ekspektasi! Jadi keinget, bukan ekspektasi yang "salah", tuntutan malah. Ekspektasi justru sangat diperlukan, kalau mau mandiri. Bahasan ini di tulisan lain aja ah (kalau ingat). Bisa jadi, ketidak mampuan adalah indikator lemahnya imajinasi.
Rekomendasi? Lakukan Functional Imagery Training & Reticular Activating System. Setiap pagi lima menit aja setelah waktu hening lima menit yang sebelumnya merangkak lima menit yang diawali peregangan dinamik.
Kalau gak bisa bangun pagi, jadi ngelakuinnya waktu malam gimana?
Lebih efektif kalau waktu malam yang bisa melakukan latihan ini dijadikan waktu tidur saja, jadi bisa bangun lebih pagi.