Apa itu gratis, selama ini aku selalu skeptis dengan kata gratis. Tidak ada yang gratis menurutku. Selalu ada pertukaran, apapun bentuknya.
Beli 2 gratis 1. Ini sama saja dengan membeli 1 barang dengan potongan 50% kan, tapi harus beli 2. Gratis ongkir? Tidak ongkos kirimnya diambil dari harga produk yang sudah di mark up. Sudah bukan saatnya bakar uang. Ongkir kita yang tanggung.
Gratis sebelum pukul 10.00. Yap lihatlah antrian yang mengular, antrian paling depan mungkin sudah mengantri dari pagi. Barangnya ditukar dengan 4 jam waktu tunggu.
Menginap 2 malam gratis menginap 1 malam. Lalu diwajibkan tanda tangan mengikuti presentasi selama 6 jam bersama pasangan, pada saat peak hour. Sama saja menginap 2 malam jatuhnya, seharinya lagi tidak dihitung liburan.
Gratis lap kaca anti air, setelah itu ditahan 5 menit untuk menjelaskan produk, ujung-ujungnya tawaran membeli produk.
Gratis apanya. Kebanyakan memang trik marketing. Akan kutolak dengan wajah datar saat ada yang datang menawarkan sesuatu yang gratisan. Tidak terima kasih.
Tapi apa ada yang benar-benar gratis?
Teringat pada seorang rekan orang tua, senang sekali berbagi makanan. Dibagikan saja, gratis, dibayar pun tidak mau pasti menolak. Kalau begitu penukarannya apa kira-kira? Sepertinya ditukar kebahagiaan. Kata orang, orang yang suka memberi senang merasakan kebahagiaan saat memberi, saat berbagi apa yang mereka punya. Tulus, ikhlas, tidak mengharapkan apapun saat memberi. Ditukar dengan rasa bahagia untuk diri sendiri.
Tapi kita manusia yang separuh kesadarannya hilang ini ya begitu, hubungan sesama manusia dianggap transaksional, setiap pemberian ada timbal balik, kalau ada orang baik bawaannya curiga, bahasa gaulnya suudzon.
Padahal masih banyak orang-orang baik yang tulus, niat datang ke kehidupan kita untuk menolong.
Tanpa pamrih, tanpa syarat semata-mata hanya untuk memberi. Apakah kita perlu membalas kebaikannya? Sebenarnya bukan kewajiban tapi saat ada kesempatan untuk membalas kebaikan orang lain dan dapat bonus membahagiakan diri sendiri kenapa tidak?
Ada rasa tidak nyaman saat tidak membalas kebaikan seseorang bukan? Tentu, sebagai makhluk sosial yang dianugerahi nurani pasti akan ada niat untuk membalas kebaikan seseorang. Maka dari itu kebaikan pun menular, sadar nikmat bahagia saat memberi dirasakan, rasanya sayang untuk diakhiri. Pasti akan dilakukan lagi, menularkan kebaikan. Gratis.
Pay it forward, Mbak, Kita dibaiki lalu kita juga leluasa berbuat baik bagi orang-orang lain, tidak perlu pada yang memberikan kebaikan pada kita. Jadi dia dapat pahala, kita juga menabung pahala dengan berbuat baik pada orang lain
Yes. Pay it forward. Semesta ga itung-itungan. Lagipula kita kenal Hukum Kekekalan Enerji. Enerji akan terus berputar.
Setuju 2x! Seperti energi positif yang pak Jo dan kak Andy bagikan dikomen ini, gratis, pay it forward🤗🤗