AES292 Celah-celah Langit
Andy Sutioso
Friday March 4 2022, 9:32 PM
AES292 Celah-celah Langit

Celah-celah Langit atau disingkat CCL adalah satu tempat istimewa yang tidak banyak dikenal warga Bandung. Saya mau bercerita tentang ini. Dalam esai ini akan ditemukan beberapa istilah  Nyunda - mudah-mudahan membantu membangun imajinasi para pembaca.

Satu ruang publik yang nyelempot di belakang terminal Ledeng. Tempat itu memang tersembunyi. Kalau masuk dari Terminal Ledeng, kita harus melewati lorong-lorong sempit yang kalau pertama kali kita lewati seperti labirin (agak lebay sih 😁). Mungkin dari situ nama itu muncul karena tempat keren itu tersembunyi di antara lorong-lorong kecil yang menyisakan langit di antara atap dan dinding-dinding kecil yang mengapit jalan menuju ke sana. Sampai di ujung lorong itu, jalanan yg mudun (menurun), masuk satu pintu yang tidak terlalu besar lalu suasana berubah. Lorong sempit berubah ngageblang (mendadak terbuka lebar) dan kita berhadapan dengan panggung terbuka di antara pepohonan yang ditanam di sana. 

CCL dikenal juga dengan sebutan Cultural Center Ledeng. Entah nama aslinya yang mana. Tempat itu asuhan kang Iman Soleh seorang seniman teater yang saya kagumi. Saya banyak belajar kebudayaan dari beliau. Dulu cukup sering mendengar kisah-kisah dan paparan beliau dari berbagai perjumpaan. Kalaupun tidak di CCL juga di Rumah Nusantara. Memang sesuai namanya adalah ruang kebudayaan. Bukan gedung pagelaran tapi ruang publik yang memang merakyat. Kang Iman Soleh memang menyiapkan CCL untuk tempat interaksi kebudayaan bagi masyarakat bukan sekedar tenpat pertunjukan. Jadi kalau ada pertunjukan teater, yang terlibat dalam pertunjukan itu adalah mungkin supir angkot, kenek, pedagang gorengan atau pemilik warung makan di terminal Ledeng. Keren ya. Jadi selain Rumah Nusantara, CCL adalah salah satu tempat yang sangat berkesan buat saya. Tempat yang bersahaja tapi sarat makna. 

Saya juga punya pengalaman menarik waktu Rico masih sangat kecil. Mungkin Rico masih berusia 4-5 tahunan. Waktu itu ada pertunjukan longser. Longser memang dibawakan dalam bahasa Sunda. Kalau saya tidak salah ini kali kedua saya mampir ke CCL dan kali ini saya mengajak anak-anak ikut serta. Waktu itu CCL masih sangat sederhana. Pertunjukkan di sana memang misbar dan duduk ngampar hanya beralaskan kertas koran atau kardus. Saya sempat khawatir bahwa Rico bakal ga betah lalu mengajak kita pulang sebelum pertunjukan usai. Sampai di sana saya mencarikan tempat untuk anak-anak duduk menyaksikan pertunjukan dengan jelas. Mereka duduk dekat anak-anak setempat di pinggir panggung. Kami duduk agak ke belakang. Sekitar satu jam pertunjukkan berjalan, kami nyaris lupa waktu karena pertunjukkan yang menarik - walaupun disajikan dalam Bahasa Sunda. Sangat menghibur. Candaan demi candaan dilontarkan oleh para penampil. Sampai di suatu waktu saya mengamati Rico menoleh ke belakang sepertinya mencari di mana kami ada. Saya melambaikan tangan memberi tanda. Rico berdiri dan melewati para penonton yang duduk pergi menghampiri saya. Saya menduga wah sepertinya Rico sudah merasa bosan dan mengajak pulang. Rico mendekat dan membisikkan sesuatu kepada saya. Dia bilang, "Pah, kapan kita ke sini lagi?". Hehe, ternyata saya salah menduga. Dia sepertinya sangat menikmati suasana di CCL - walaupun sepertinya ia tidak paham apa yang ditampilkan di panggung. 

Menarik ya bagaimana enerji, suasana, suatu tempat bisa begitu berbicara pada anak-anak kecil. Mungkin betul mereka punya kepekaan tersendiri yang kita orang dewasa sudah tidak lagi miliki. Tapi ya, begitulah secuplik kisah tentang CCL. Semoga saya punya kesempatan untuk berkunjung lagi ke sana. Salam.