AES160 Sekolah itu Candu
Andy Sutioso
Thursday October 21 2021, 9:20 PM
AES160 Sekolah itu Candu

Judul di atas ini saya ambil dari satu buku kecil yang isinya tentang kritik pendidikan. Judulnya Sekolah itu Candu

SekolahItuCandu1998.jpgKalau ditanya, apa pemicu, trigger yang membelokkan jalan hidup saya - dan sepertinya kita semua yang sekarang ini berproses bersama di Semi Palar adalah buku ini. Buku karya Roem Topatimasang. Buku yang saya beli di salah Tobucil (Toko Buku Kecil) yang dirintis oleh kawan saya Tarlen Handayani - salah satu aktivis literasi di kota Bandung ini. Buku ini saya baca di sekitar tahun 1998 - saat komunitas yang saya rintis (Trimatra Center) dan Tobucil berproses bersama di jalan Dago. Seingat saya buku bersejarah ini sudah saya titipkan di perpustakaan Semi Palar. Mestinya masih tersimpan di salah satu rak buku perpustakaan Semi Palar. 

Buku ini - saya tidak ingat persis apa isinya, tapi yang jelas, buku ini seakan menggaris bawahi kegelisahan saya tentang sistem pendidikan.

Kalau dipikirkan kembali, Trimatra Center dan berbagai aktivitasnya adalah juga hal-hal yang sepertinya saya coba lakukan untuk mengatasi kegelisahan-kegelisahan saya. Di Trimatra Center, kami sempat membuat kelas-kelas gratis untuk siapapun yang berminat untuk belajar tentang berbagai topik. Ada kelas tentang fotografi, tentang bahan bangunan, tentang belajar ilustrasi dan lain sebagainya. Narasumbernya siapa? Ya siapa saja yang bersedia berbagi ilmu. Kami juga menyelenggarakan berbagai forum diskusi. Dulu kita sebut forum diskusi itu dengan FIGDis (Focused Interest Group Discussion). Berbagai topik juga kita diskusikan di sana. Trimatra Center - seperti halnya Semi Palar adalah sebuah Komunitas Belajar. 

Sekolah itu memang Candu, tempat orang-orang yang belajar di sana banyak kehilangan kesadarannya. Di sana para murid dicekoki pengetahuan yang belum tentu mereka butuhkan - dengan iming-iming nilai dan ijazah... Di sanalah mereka kehilangan kemerdekaannya untuk menggapai mimpi masa depan. Hihi, sepertinya dari sini juga munculnya gagasan tentang STBTPT (Surat Tanda Belajar Tidak Pernah Tamat) sebagai pengganti STTB yang dibagikan oleh sekolah-sekolah di dalam upacara wisuda. Sewaktu saya menuliskan esai ini, saya baru menyadari juga - sepertinya kenapa dipilih istilah Rumah Belajar adalah kemungkinan besar juga untuk menghindari istilah sekolah. Mestinya ya karena saya pernah membaca buku ini... 

Sekolah adalah Candu, karena mereka yang belajar di dalamnya tidak mengenal diri mereka sepenuhnya... Jadi ya, karena Sekolah itu Candu, jadi lebih baik kita berproses bersama di Rumah Belajar Semi Palar - tempat kita semua bertumbuh menjadi harapan... Terakhir, terima kasih bang Roem untuk inspirasinya.

gambar cover dari insistpress.com
cover image dari cirebon.pikiran-rakyat.com