Sebagai bahan refleksi hari ini seperti janji saya pada diri sendiri menjelang hari jadi, saya ingin merenung soal kebaikan, kindness. Dari artikel yang saya baca pagi ini yang diterbitkan oleh Psychology today, kindness didefinisikan sebagai bentuk keramahan, penuh perhatian dan kedermawanan. Afeksi, kehangatan, kepedulian dan sebagainya juga merupakan kualitas yang ditunjukkan dari sebuah kebaikan.
Seringkali bentuk-bentuk kebaikan ini diasosiasikan dengan bentuk kelemahan dari sebuah karakter. Tapi pada praktiknya menunjukkan kebaikan itu tidak mudah dan sangat membutuhkan kekuatan dan dorongan untuk melakukannya. Kebaikan adalah sebentuk kemampuan dan ketrampilan seseorang yang keluar dari dalam.
Mengapa saya mengangkat hal ini sebagai bahan renungan hari ini? Karena saya merasa ni adalah bagian dari sebuah kualitas yang harus saya kembangkan. Ini bagian dari karakter yang belum mampu saya banggakan. Bahkan banyak peristiwa dalam hidup yang belum mampu saya lupakan dan sangat membuat saya merasa malu.
Sejak kecil saya selalu diajarkan untuk berani jika benar. Hampir semua orang begitu bukan? Karena merasa benar maka kita boleh melakukan apa saja untuk membela diri, terutama jika kita diperlakukan dengan tidak baik. Bahkan saya yakin semua orang tahu dengan istilah an eye for an eye, justice, keadilan. Itu saya jalankan dengan sepenuh hati! Lalu apa yang saya peroleh? Perasaan yang membuat saya tidak nyaman, malu, dan paling utama adalah merasa diri saya menjadi sangat rendah. Misalnya di Cicaheum, kondisi super macet lalu kendaraan saya dipukul orang karena seorang pemotor yang memaksakan diri nyelip di antara mobil lalu kakinya sedikit tergiling karena dia berhenti dan menaruh kakinya di depan roda. Itu bukan salah saya, karena merasa benar saya turun orang itu saya tonjok. An eye for a eye! Justice! Kemudian berhari-hari saya merasa malu bahkan hingga saat ini jika mengingat peristiwa itu.
Gandhi berkata:" An eye for an eye will only make us all blind! Beliau berkata bahwa kita semua memiliki pilihan, yaitu bagaimana kita merespon terhadap sebuah situasi. Tapi apakah semudah itu jika kendaraan kita dipukul orang apalagi karena itu kesalahan dia sendiri? Jangankan untuk membuat pilihan, pada saat itu pilihan hanya satu yaitu membalas dengan setimpal. An eye for an eye. Impas! we are even!
Marcus Aurelius mempunyai pendapat serupa, katanya:" What qualities has nature given us to counter that defect? As an antidote to unkindness it gives us kindness. And other qualities to balance othe flaw." Hmm... Saya sangat mempercayai keseimbangan. Segala sesuatu yang terdapat dalam semesta sepertinya diciptakan berpasangan, siang-malam, gelap-terang, baik-buruk, yin-yang! Ada kebaikan ada keburukan. Logikanya jika keburukan dibalas dengan kebaikan maka menjadi seimbang. Yang saya lakukan di persitiwa di atas adalah keburukan dibalas dengan keburukan! Lalu apa bedanya saya dengan dia?!
Di sekolah minggu saya belajar ungkapan ini,"Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu." (Mat 5:39) Indah sekali! Sejak kecil saya mengakui ini adalah sebuah ayat yang sangat indah, tapi siapa yang pernah mampu mempraktikannya?
Saya difitnah! Seseorang di tempat kerja menuduh sesuatu yang tidak pernah dan tidak akan pernah saya lakukan dalam hidup ini. Orang ini menghasut dan bersekongkol dengan rekan-rekan lain yang iri hati karena saya jauh berprestasi dan naik pangkat jauh lebih cepat. Mereka sudah bekerja bertahun-tahun, bahkan hampir 20 tahun, saya belum 1 tahun sudah melampaui mereka. Jelas lah saya amat sangat marah karena ini tidak hanya merendahkan tapi juga menghina hingga ke harga diri saya! Saya maki mereka! Mereka semua dipindah ke unit lain dan saya dapat surat peringatan karena memaki. Pipi saya ditampar, saya tampar balik pipi mereka juga! Saya memperoleh kepuasan sesaat dan merasa sangat rendah karena memaki dengan kata-kata yang belum pernah saya ucapkan sebelumnya. Dan peristiwa itu tidak dapat dihapus dari pengalaman hidup! Lalu apa bedanya saya dengan mereka?
Kembali ke ungkapan yang saya katakan di awal. Berbuat baik itu butuh usaha yang sangat keras, butuh kekuatan dan dorongan. Berbuat baik itu tidak mudah apalagi jika kita lakukan untuk membalas sebuah perlakuan yang tidak baik terhadap diri kita. Dari sini saya berani mengatakan bahwa berbuat baik itu bukan tindakan yang menunjukkan kelemahan, justru sebaliknya karena ini bukan tindakan yang sangat mudah. Ini tindakan yang amat sangat sulit!
Dave Willis, seorang penulis, voice actor, dan juga musisi berkata:" Show respect even to people who don't deserve it; not as a reflection of their character, but as a reflection of yours!" Nah jadi fokus nya bukan pada mereka yang melakukan semua keburukan terhadap kita, tapi justru pada kita, tindakan kita dalam merespons. Setiap orang akan mampu membalas keburukan dengan keburukan. Itu sangat mudah! Tapi butuh kekuatan yang sangat maksimal, pengendalian diri, kedewasaan, kemampuan mengontrol emosi untuk membalasnya dengan kebaikan. Jika seseorang memperlakukan kita dengan buruk kemudian kita membalasnya dengan kebaikan, entah itu akan membuat mereka disadarkan akan perbuatan buruk yang membuat mereka malu sendiri, atau bahkan menjadikan mereka baingung dan bertanya-tanya mengapa kita berbuat demikian, tidak masalah! Sebab apapun yang terjadi kita akan menang sebab kita sudah memilih yang lebih baik! Ingat, antidote for unkindness is kindness.
‘Be kind to unkind people. They need it the most.’ (Ashleigh Brilliant)
Foto Credit: BBC Radio 4
Di satu titik. akhirnya kita hanya bisa menerima keburukan yang dilakukan orang terhadap kita, dan itu menjadi pembelajaran membuat kita semakin dewasa untuk ke depan.
Keburukan, tidak akan pernah selesai, jika dilawan dengan keburukan, malah menjadi-jadi, tidak mudah, tetapi bisa...
Wow.. mampu menyadari saja sudah jadi awalan yg ok pak @joefelus . Kalo si biksu bilang itu gendongannya diturunin dulu..
Wah, saya harus lebih rajin melihat wejangan Sadhguru! Terima kasih kak!