Satu siang, ketika saya sedang memeriksa tantangan, saya sering sekali mendapati buku tulis teman-teman yang dipenuhi dengan coret-coret gambar, entah itu gambar kucing, gambar rubah, gambar kartun, dan masih banyak lagi. Tak sedikit, gambar itu terletak di halaman yang sama dengan hasil tantangan atau di rangkuman catatan mereka. Bukannya terganggu, tetapi saya justru senang melihat gambar-gambar tersebut. Dari gambar-gambar tersebut, sedikitnya, saya jadi lebih mengenal mereka. Gambar-gambar di buku tulis ini juga mengingatkan saya ketika saya duduk di bangku sekolah.
Kembali ke belasan tahun yang lalu, tepat ketika saya masih berada pada jenjang SMP, saya masih ingat, saya pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh teman-teman di Semi Palar. Karakter yang sering saya gambar adalah Son Goku dari anime Dragon Ball. Tidak hanya satu, tetapi berpuluh-puluh Son Goku memenuhi buku tulis saya. Saya ingat persis, bagian paling sulit adalah ketika menggambar bagian otot dan lekukan baju. Namun berbeda dengan teman-teman di Semi Palar, saya seringnya menggambar mulai dari halaman akhir buku tulis, halaman yang memiliki kemungkinan kecil untuk dicek oleh guru. Tentu saja menggambar di buku tulis tidaklah ideal, karena terdapat garis-garis yang membentang sepanjang halaman. Risikonya, satu-dua kali gambar-gambar Goku itu pernah ketahuan oleh guru, hingga saya diomeli.
Masih belasan tahun yang lalu, dari kegemaran saya dalam menggambar, saya pun sempat mendapatkan comission pertama saya. Ketika itu, seorang teman meminta saya untuk menggambar karakter Cloud dari gim Final Fantasi VII. Tanpa pikir panjang, saya pun segera menggambarkannya, meski banyak bagian-bagian sulit, seperti pedangnya yang besar atau rambutnya yang acak. Tidak berhenti ketika gambar selesai, saya inisiatif untuk memberi lakban bening lalu menggunting sesuai pola gambar tersebut. Saya lupa persisnya, seingat saya, dari comission ini saya mendapatkan sekitar 4000 rupiah. Saya senang bukan main, bukan hanya karena saya mendapatkan uang, tetapi karena teman saya mengapresiasi hasil karya saya, sekalipun pada gambar karakter Cloud itu terdapat garis-garis yang awalnya disediakan untuk menulis, ya, ketika itu saya menggambar di atas kertas tulis.
Pengalaman tersebut menjadi pandangan tersendiri bagi saya, terutama untuk menanggapi teman-teman yang suka menggambar. Mungkin awalnya teman-teman meniru sebuah pola dari kartun atau anime, sama seperti saya yang dulu menggambar Son Goku. Namun lama-kelamaan, jika kegemaran menggambar ini terus dirawat—serta tumbuh tanpa kekhawatiran, kebiasaan menggambar ini bisa saja membuka peluang yang lebih besar di masa depan.
Oleh sebab satu dan lain hal, saat itu saya tidak memilih jurusan Seni Rupa ketika melanjutkan jenjang perkuliahan. Namun, ketika mulai berkuliah di jurusan yang tidak menuntut kemampuan menggambar, saya tidak juga berhenti untuk menggambar sebagai kegiatan iseng. Saya sendiri tidak merasa bahwa saya adalah orang yang bertalenta, hanya sebatas orang yang memiliki kegemaran. Saya tahu persis bagian-bagian jelek dari gambar saya. Hingga saat saya menonton cuplikan video yang menayangkan Bob Ross, seorang pelukis Amerika yang sangat populer di media mainstream—di Indonesia sendiri, perannya mirip seperti Tino Sidin. Sambil memegang kuas, Bob Ross berkata,
“Talent is a pursued interest. Anything you're willing to practice, you can do.”
"Iya, juga ya," batin saya. Talenta itu minat yang terus dikejar atau di-ngotot-i. Semoga saja teman-teman di Semi Palar pun seperti itu, mengetahui betul minatnya dan terus ngotot. Mungkin saja bermula dari menggambar di buku tulis, hingga pada suatu saat mereka akan menjadi seniman besar. Kemungkinan ini tidak seharusnya terabaikan.
Sampai sekarang, saya masih sering menggambar, bukan berniat untuk menjadikannya sebagai profesi, tetapi menggambar jadi semacam terapeutik tersendiri. Syukur-syukur, ketika gambar karya bisa menambah pundi-pundi untuk membuat dapur ngebul. Bukan karena saya bertalenta, tetapi hanya karena saya suka dan "ngotot". Keisengan menggambar ini sama seperti coret-coret yang menjadi ilustrasi tulisan ini, gambar ini saya buat di atas kertas binder, yang memang kebetulan tidak ada garis-garisnya.
2024